Tempe!

Tadi pagi, saya — bareng teman saya, Adhi — sarapan di warung angkringan di depan gereja dekat rumah. Biasanya, salah satu yang mencolok di meja tumpukan makanan adalah tempe goreng dengan potongan berbentuk segitiga. Dan biasanya sebungkus nasi anget dengan lauk oseng-oseng, tempe goreng dan teh panas menjadi menu sarapan. Tapi ada yang berbeda pagi ini, tidak ada tempe. Kalau tidak salah lihat, tahu juga tidak ada…

Kemarin, saya tanya di warung pecel lele langgan saya — yang ternyata masih menjual menu tempe goreng — katanya harga tempe memang naik lumayan tinggi. Saya sendiri jawab, “Ya dinaikkan saja harga lumrah kok Mbak…”. Kejadian ini mirip ketika beberapa waktu lalu harga telur juga mengalami kenaikan. Porsi tetap dijaga secara jumlah, tapi harga dinaikkan. Saya lihat, pembeli lain juga bisa memaklumi. Ditambah lagi dengan penjualnya bilang duluan kalau harga agak naik. Tapi setelah harga kembali normal, harga jual juga ikut normal. Syukurlah…

Oh ya, beberapa hari ini, orang rumah tidak bikin masakan yang ada tempenya. Entah karena barangnya ada tapi agak mahal, atau memang penjual keliling yang biasanya tidak jual ya? Atau, memang lagi gak pengen makan tempe ya? Tapi… kemarin masak sup, gak ada tempenya. Ah, tempeeee.. tempeeee…

3 Comments