Trans7 On The Spot: Cari di YouTube, Tayangkan!

Sebenarnya saya cukup jarang menonton siaran televisi lokal. Selain karena memang saya lebih suka melihat tayangan melalui internet seperti di YouTube, Vimeo, atau sekadar membaca berita. Akhir-akhir ini saya kadang menikmati hiburan melalui Netflix, walaupun belum genap satu bulan dapat diakses oleh pengguna internet di Indonesia, Netflix sudah dalam status diblokir oleh Telkom Indonesia sebagai penyedia layanan internet yang saya pakai. Siaran televisi lokal sendiri memang ada beberapa yang kadang saya tonton seperti acara Kick Andy di MetroTV. Walaupun, kadang memang secara acak saja saya nyalakan televisi, atau melihat karena misalnya di rumah ada yang sedang menonton.

Dan, tak jarang beberapa acara televisi hanya berisi tentang kompilasi berita yang sumbernya juga dari internet. Benar, memang kalau dilihat dari sisi jumlah penonton, banyak yang mungkin belum melihat informasi yang salah satu sumbernya adalah internet. Dan, karena konten video adalah konten utama dari acara televisi, YouTube merupakan ladang konten bagi stasiun TV.

Acara On The Spot yang ditayangkan di Trans7 di hari Senin-Jumat pukul 19.15 WIB ini ‘menarik’, karena berisi kompilasi video tentang sebuah topik. Dan, topiknya juga dibuat semenarik mungkin bagi penontonya. Sebut saja kompilasi video tentang “7 Kisah Kapal Hantu”, “7 Fakta Misterius di Dunia”, atau “7 Pengalaman Setelah Meninggal”. Sumber videonya? Kebanyakan dari YouTube (walaupun mungkin tidak semua).

Bagaimana atribusi penyebutan sumbernya? Sederhana saja, cukup ditulis dengan “Source: Youtube” seperti terlihat dalam contoh dua cuitan berikut yang diunggah melalui akun On The Spot di Twitter (@Trans7OnTheSpot).

Saya memang bukan kreator video di YouTube secara aktif. Namun, ada salah satu YouTuber bernama Martin Johnson yang videonya dipakai dalam acara On The Spot Trans7 yang menyampaikan pendapatnya. Saya rasa video berikut cukup mewakili kreator video di YouTube.

President Obama on Comedians In Cars Getting Coffee

Melihat video perbincangan antara Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Jerry Seinfeld ini, saya sangat menikmatinya dan berharap ada yang bikin video serupa dengan Presiden Republik Indonesia. Tapi, siapakah yang cocok untuk mewawancarainya?

Microsoft Surface Book dari Microsoft

Microsoft baru saja meluncurkan sebuah laptop baru dengan nama Microsoft Surface Book. Walaupun sudah sekitar lima tahun saya menggunakan produk MacBook dari Apple (sekarang menggunakan MacBook Pro 15″ Retina Display sebagai pengganti MacBook Pro 13″), tapi produk baru ini terlihat sangat menarik.

Tentang Microsoft sendiri, saya tidak terlalu mengikuti perkembangannya, terutama dari sisi produk perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Produk ponsel terakhir dari Microsoft yang saya beli adalah Microsoft Lumia 535. Untuk software, saya menggunakan produk Office 365 dalam keseharian mendukung pekerjaan saya yang banyak berurusan dengan pembuatan dan mengulas dokumen proyek, berselancar, dan membuat presentasi. Saya sendiri mulai menggunakan Office 365 sejak tahun 2014.

msf-srfcbook-1824810-2841-02841
Saya lihat spesifikasi Microsoft Surface Book di situs Microsoft, ternyata spesifikasi dan fiturnya sangat bagus! Walaupun, secara harga — dengan konversi Dollar Amerika terhadap Rupiah saat ini — cukup tinggi. Dalam situs tertulis USD 1,499. Dengan asumsi Dollar Amerika setara dengan Rp 14.000,– maka harganya akan mulai berkisar Rp 20.000.000,-

Spesifikasi

Beberapa spesifikasi dan fitur yang ditawarkan dan sepertinya menarik:

  • Dimensi: 12.30″ x 9.14″ x 0.51 – 0.90″ (312.3mm x 232.1mm x 13.0 – 22.8mm)
  • Media penyimpanan Solid state drive (SSD) dengan opsi 128GB, 256GB, 512GB, atau 1TB.
  • Memory: 8GB atau 16GB RAM
  • Prosesor: 6th Gen Intel® Core i5 atau i7
  • Berat: Mulai dari 3.34 pounds  atau setara 1,516 grams termasuk papan ketik
  • Tampilan:  Layar 13.5″ PixelSense display, resolution: 3000 x 2000 (267 PPI), aspect ratio: 3:2, touch: 10 point multi-touch
  • Data tahan baterai sampai 12 jam memutar video berdasarkan percobaan yang telah dilakukan.

Walaupun belum pernah menggunakan secara langsung, tapi membaca ulasan tentang produk Microsoft Surface Book dari beberapa situs dibawah ini, sepertinya produk ini sangat menarik.

Sejenak Mengunjungi Kota Solo (Bagian 1)

Akhir pekan lalu, saya memutuskan untuk mengunjungi Solo. Bulan Juli lalu sempat juga ke Solo, untuk keperluan berbeda. Saat itu, saya ke Solo cuma untuk transit melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Perjalanan saya ke Solo terakhir kemarin meninggalkan beberapa kesan, dan pengalaman baru. Rencana awal hanyalah untuk sekadar melihat-lihat ke ACE Hardware — karena di Jogjakarta tidak ada — dan juga bertemu dengan seorang teman.

Perjalanan ke Solo

Saya memutuskan untuk menggunakan kereta dengan alasan waktu tempuh yang paling cepat. Untuk jadwal kereta sendiri, saya tidak terlalu memusingkan jam berapa kereta akan berangkat. Sekitar pukul 09.45 saya mendekati Stasiun Tugu.

Stasiun Tugu

Persis ketika mendekati loket pembelian tiket, terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa kereta Madiun Jaya akan segera diberangkatkan pukul 09.50. Saya sempat menanyakan apakah saya masih bisa membeli tiket untuk jadwal tersebut. Ternyata tidak.

Sempat saya tanyakan kepada petugas tiket, apakah saya bisa mendapatkan informasi jadwal kereta api. Petugas tersebut menyampaikan kalau informasi jadwal bisa didapatkan di bagian layanan pengguna. Ternyata tempatnya tidak jauh dari lokasi, masih di area tersebut. Setelah saya mendapatkan, saya coba pelajari secara singkat.

Kereta berikutnya adalah Pramex jurusan Jogja-Solo, pukul 10.50. Berarti masih ada waktu sekitar satu jam lagi. Saya langsung kembali ke loket untuk membeli tiket, harga saat itu adalah Rp. 10.000,-

Continue reading

Jadi, bagaimana tempat/suasana kerja yang seharusnya?

Sekitar dua tahun lalu, saya pertama kali melihat salah satu episode TED Talks, dengan pembicara Jason Fried, founder dari 37signals. Jika belum pernah mendengar 37signals, ini adalah sebuah perusahaan teknologi dengan produk yang populer, salah satunya adalah Basecamp — sebuah layanan untuk mengatur sebuah pengaturan proyek (project management).

Walaupun sudah lama, tapi mungkin baru satu atau dua tahun ini saya semakin masuk ke dalam apa yang disampaikan dalam episode tersebut. Padahal, video tersebut sudah dirilis akhir tahun 2010 yang lalu. Ya, hampir tiga tahun lalu! Tapi, semuanya terasa sangat relevan sampai saat ini. Paling tidak, untuk saya dan hal-hal yang terkait dengan keseharian pekerjaan atau lingkungan pekerjaan saat ini, maupun sebelumnya.

Oh ya, jika belum melihat videonya, silakan meluangkan waktu untuk melihatnya.

Jika ingin melihat dengan terjemahan Bahasa Indonesia, bisa melihat juga langsung di situs TED. Dalam video tersebut, secara garis besar menyoroti tentang bagaimana sebuah ekosistem pekerjaan berjalan. Tentang pentingnya kantor, bagaimana pegawai/karyawan bekerja, dan beberapa hal yang mungkin bisa jadi pertimbangan dalam menciptakan sebuah kultur pekerjaan yang produktif. Muaranya, pada kelangsungan bisnis, pekerjaan, dan ekosistem orang-orang didalamnya. Menarik. Hal lain lagi dan yang terus dibicarakan adalah bahwa pekerjaan bisa dilakukan dimana saja. Terdengar tidak asing?

Bulan Febuari 2013 yang lalu, Marissa Mayer, CEO dari Yahoo! membuat keputusan yang bertentangan dengan konsep Jason Fried. Marissa justru memberlakukan aturan bagi pekerja untuk bekerja di kantor Yahoo!. Ada yang bilang bahwa ini adalah keputusan yang tepat, tapi ada juga yang melihat bahwa ini keputusan yang sebaiknya tidak dilakukan. Lalu, siapa yang benar?

Continue reading

Pesawat Baru Garuda Indonesia Boeing 777-300 ER

Bisa dikatakan saya sangat jarang menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Pertama, mungkin karena alasan harga yang sedikit lebih tinggi dibanding dengan maskapai penerbangan lainnya untuk rute yang sering saya ambil dalam perjalanan baik urusan yang kebanyakan terkait pekerjaan.

Walaupun memang, harga kadang bukan menjadi satu-satunya faktor. Tak jarang juga, saya lebih memilih Garuda Indonesia ketika ada selisih beberapa ratus ribu dengan maskapai lainnya seperti Air Asia, atau Lion Air — dan juga sebelumnya Batavia Air. Alasan utama karena kenyamanan. Cuma ya mungkin karena rute cuma pendek, jadi tidak begitu berpengaruh juga sih.

Perjalanan terjauh saya dengan Garuda Indonesia adalah sewaktu saya ke Hong Kong dua tahun lalu. Perjalanan yang menyenangkan. Oh ya, pernah juga saya harus membatalkan salah satu penerbangan dari Jakarta ke Jogjakarta dengan menggunakan maskapai ini. Tapi, saat itu memang karena ada urusan pekerjaan mendadak, padahal saya sudah sempat melakukan check-in, dan sudah siap berangkat menuju bandara.

Beberapa waktu lalu, sewaktu berselancar di YouTube, saya menemukan sebuah video tentang pesawat baru milik maskapai penerbangan yang beroperasi sejak tahun 1949 ini. Pesawat buatan Boeing seri 777-300ER. Video ada dibawah ini:

Keren! Kalau ditanya apakah ingin mencoba terbang dengan pesawat ini, tentu saja ingin! Ya, tak ada salahnya sedikit berandai-andai. Siapa tahu satu saat terwujud. Tapi, sepertinya harapan agak mengecil setelah mengetahui bahwa pesawat seri ini di awal hanya akan melayani rute Jakarta-Jeddah. Dan, baru mulai beroperasi pada Juli 2013. Sebagai informasi juga, pesawat seri ini pertama kali dipesan oleh maskapai Air France.

Rute yang lain? Setelah direncanakan pesawat lainnya akan datang di akhir tahun 2013, ternyata rute yang lainnya adalah Sydney-Jakarta-London.

Ke Jeddah? Waduh, mau ngapain kesana. Kedua, Jakarta-London? Hmm… kok kayaknya London itu terlalu jauh ya… Dan, ada perlu apa ya kira-kira ke London? Well, walaupun ada keinginan kecil untuk satu saat ke Eropa, tapi kok kayaknya cukup jauh dari kenyataan ya. Hahaha!

Tambahan 4 Januari 2014: Informasi dari Bapak Wahyu (melalui kolom komentar) menyampaikan kalau untuk fleet ini ada juga yang terbang untuk rute Denpasar-Jakarta (DPS-CGK).