Pengalaman Mencoba Layanan Uber untuk Bisnis (Uber for Business)

Di pertengahan Oktober 2015 ini, saya mendapatkan informasi melalui surel yang saya gunakan untuk akun saya di layanan Uber mengenai hadirnya fitur yaitu “Uber for Business”. Saya sendiri sudah menggunakan layanan ini beberapa bulan, dan secara keseluruhan mendapatkan layanan dan pengalaman yang baik. Walaupun, sampai sekarang saya baru menggunakan layanan ini kalau saya kebetulan ada keperluan pekerjaan di Jakarta.

Layanan Pribadi

Untuk keperluan pekerjaan, penggunaan Uber yang saya lakukan — atau rekan-rekan saya lakukan — menggunakan akun pribadi. Dengan kondisi ini, maka pembayaran dilakukan secara pribadi (dengan kartu kredit milik sendiri), untuk kemudian dapat dilakukan reimbursement. Sebuah mekanisme yang sepertinya cukup lazim digunakan oleh banyak perusahaan.

Fitur ‘Uber for Business’

Uber for Business yang diperkenalkan ini saya rasa memberikan beberapa keuntungan dan kemudahan, apalagi dalam konteks bahwa kebutuhan moda transportasi (menggunakan Uber) seharusnya dapat dikelola dengan lebih baik. Sejak menggunakan layanan Uber ini, memang saya merasakan bahwa biaya perjalanan cenderung berkurang — ketika membandingkan dengan mobilitas yang sama dengan layanan transportasi sejenis/taksi.

Secara sederhana, Uber for Business ini merupakan sebuah konsep yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk mempermudah dalam hal pengelolaan perjalanan bagi karyawannya (ketika memilih menggunakan Uber). Berikut beberapa hal utama tentang layanan ini:

  • Perusahaan membuat sebuah akun bisnis/korporat
  • Seluruh pembayaran akan ditanggungkan ke akun perusahaan
  • Perusahaan mengatur karyawan yang dapat menggunakan pembayaran langsung oleh perusahaan
  • Perusahaan dapat mengatur kebijakan pemakaian terkait dengan pembayaran yang ditanggung oleh perusahaan

Aktivasi Uber for Business

Walaupun secara tim tempat saya bekerja belum terlalu banyak, namun saya rasa penggunaan fitur ini dapat membantu. Saya mendaftarkan akun untuk keperluan ini melalui https://www.uber.com/business. Prosesnya sendiri cukup mudah. Dan, saya sudah langsung dapat mulai melakukan pengaturan akun.

Welcome to Uber for Business

Untuk pengaturan awal, saya diminta untuk memasukkan beberapa informasi seperti metoda pembayaran (memasukkan informasi kartu kredit yang digunakan), melakukan pengaturan kebijakan bagi tim, dan tentu saja mengundang tim yang boleh menggunakan pembayaran melalui akun bisnis ini.

Informasi Pembayaran

Uber for Business: Payment Settings

Saya memasukkan informasi kartu kredit yang nantinya akan digunakan untuk pembayaran seluruh perjalanan baik bagi saya sendiri, atau bagi tim yang nanti akan saya undang. Menilik dari informasi pada penambahan informasi pembayaran, ada beberapa poin:

  • Sistem Uber akan melakukan proses otorisasi dengan melakukan penarikan sebesar US$250 dari kartu kredit. Menurut informasi, dana ini akan langsung dikembalikan jika proses ini berhasil.
  • Rekan kerja saya yang nantinya akan menggunakan pembayaran dari kartu kredit saya tidak akan dapat melihat informasi kartu kredit milik saya. Informasi yang terlihat hanya berupa label teks saja, misal “Nama Perusahaan”.

Pengaturan Kebijakan Perjalanan

Uber for Business: Ride Policy

Pengaturan kebijakan penggunaan ini dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Sehingga, penggunaan metoda pembayaran dapat pula dibatasi. Pengaturan ini misalnya:

  • Mengatur kapan saja metoda pembayaran dapat digunakan; di hari apa saja, dan dalam rentang waktu jam berapa saja.
  • Mengatur dimana saja bisa melakukan perjalanan, misalnya lokasi penjemputan, termasuk waktunya. Jika ditentukan batasan lokasi penjemputan, lokasi penjemputan hanya bisa dalam radius sekitar 400 meter saja.

Continue reading

Transportasi (Tiket dan Rute) Bis Damri di Bandara Adisutjipto Jogjakarta

Jika bepergian menggunakan jasa layanan transportasi udara, salah satu moda transportasi yang dapat digunakan adalah bis Damri. Cukup sering saya menggunakan jasa layanan ini ketika saya berada di Jakarta, baik pada saat meninggalkan atau menuju ke bandara Soekarno-Hatta. Salah satu alasannya adalah cukup banyak rute yang ditawarkan, dan juga dari sisi harga juga termasuk lebih murah jika dibandingkan dengan taksi.

Lalu bagaimana dengan Bis Damri di bandara Adisutjipto Jogjakarta? Bis Damri bisa menjadi salah satu alternatif, tentu saja jika rute yang dilalui sesuai dengan jadwal/rute perjalanan.

Lokasi Kios Pemesanan Tiket Bis Damri Bandara Adisutjipto

Jika Anda baru saja mendarat dan keluar melalui pintu kedatangan di Adisutjipto, bisanya Anda akan disambut oleh beberapa orang yang menawarkan jasa angkutan taksi. Lokasi pemesanan berada tidak jauh dari pintu keluar. Setelah keluar dari pintu kedatangan, cukup berjalan sekitar 20-25 meter saja dan Anda akan menemukan kios penjualan tiket di sebelah kiri.

Kios Informasi Damri

Rute dan Harga Tiket Bis Damri Bandara Adisutjipto

Rute yang ditawarkan oleh armada Damri dari/ke Adisutjipto cukup beragam. Berikut daftar harga tiket dan rute perjalanan bis Damri dari/ke Bandara Adisutjipto Jogjakarta. Harga adalah untuk satu kali/arah rute perjalanan. Harga dibawah ini adalah berdasarkan informasi pada bulan Juli 2015.

Continue reading

Pengalaman Menggunakan Layanan Uber Jakarta

Walaupun sudah cukup lama layanan taksi Uber dapat dinikmati di Jakarta sebagai salah satu pilihan moda transportasi, namun saya baru saja mencobanya sendiri dalam satu bulan terakhir. Selain Jakarta, layanan Uber di Indonesia juga dapat dinikmati di kota lain seperti Bandung dan Bali.

17613487154_f554babe7b_b

Kalau dari melihat beberapa pengalaman dari pengguna Uber, sepertinya sangat banyak yang mendapatkan pengalaman positif (dibandingkan yang negatif). Saya sendiri berdomisili di Jogjakarta, dan cukup sering harus berada di Jakarta kebanyakan untuk urusan pekerjaan. Dan, sarana transportasi seperti taksi atau bis Transjakarta merupakan pilihan moda yang sering saya pakai.

Sebelumnya, saya sudah menginstal aplikasi Uber di ponsel saya. Saat ini, aplikasi Uber dapat diunduh untuk ponsel dengan sistem operasi Android, iOS, dan Windows Phone. Proses registrasi sendiri dapat dilakukan dengan mudah, dan bagian yang terpenting adalah bahwa penumpang perlu untuk memiliki kartu kredit. Ini karena konsep Uber yang cashless, atau tidak ada transaksi dengan menggunakan uang secara langsung. Seluruh transaksi langsung dibebankan ke kartu kredit.

Memesan taksi Uber melalui aplikasi

Pemesanan dengan menggunakan aplikasi dapat dilakukan dengan mudah. Saat membuka aplikasi, kita bisa melihat apakah ada armada Uber yang tersedia dalam area disekitar kita. Sebelum kita mengkonfirmasi pemesanan, berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan:

  • Melihat ada atau tidaknya armada
  • Jika ada, maka akan diberikan informasi perkiraan kapan armada terdekat bisa sampai ke tujuan penjemputan
  • Mendapatkan informasi perkiraan tentang biaya perjalanan dari titik penjemputan sampai dengan tujuan akhir. Informasi perkiraan biaya ini bergantung kepada armada pilihan apakah uberX, atau UberBLACK

Fitur-fitur inilah yang bagi saya menjadi penentu apakah saya mau/dapat melakukan pemesanan armada Uber. Kadang, bahkan saya secara acak menggunakan fitur estimasi harga dari sebuah lokasi ke lokasi lainnya, sekadar untuk mengetahui perkiraan harga yang harus saya bayarkan.

Setelah menetukan lokasi penejemputan (dan tujuan), kita tinggal melakukan pemesanan. Aplikasi (dengan algoritma yang dimilikinya) akan mencoba mencariakan armada. Jika ada pengemudi yang merespon dan dapat melayani pesanan, maka pesan akan dikirimkan untuk memberitahu profil pengemudi.

Jika diperlukan, kita bisa langsung menghubungi pengemudi. Saya sendiri pernah menghubungi pengemudi setelah melakukan pemesanan, sekadar ingin mengkonfirmasi pesanan saya. Di lain kesempatan, pengemudi malah lebih dulu menghubungi saya dan memberitahukan tentang posisinya, walaupun saya bisa memantau juga posisi dari aplikasi Uber.

Perjalanan dan Tarif

Ketika membandingkan dengan moda lain seperti taksi dengan tarif biasa (misal: Bluebird, Express, atau yang lain), secara sekilas saya mendapati bahwa Uber lebih murah. Misalnya, dengan rute yang sama (dan kondisi lalu lintas yang sama), selisih total biaya perjalanan bisa mencapai sekitar Rp 20.000,- sampai Rp 30.000,-.

18232378412_2c8c91c8c1_h2

Konsep cashless (tanpa melibatkan transaksi dengan uang fisik secara langsung) juga merupakan hal yang saya sukai. Kalau melihat harga dari bukti transaksi yang diberikan, ada beberapa parameter yang mentukan harga yaitu: harga tarif dasar, jarak tempuh, waktu perjalanan, dan biaya tol (jika ada).

Kebetulan, salah satu perjalanan saya ada yang melewati gerbang tol. Dan, biaya tol langsung dibebankan (dan dideteksi) oleh aplikasi.

Karena informasi tersebut, ketika melewati pintu tol, saya tidak perlu menyiapkan uang untuk membayar. Pengemudi sudah menyiapkan sendiri uang pembayarannya. Saya hanya memberikan uang kepada pengemudi ketika meninggalkan area parkir dan ada biaya parkir yang harus dibayarkan.

Dari pemesanan yang pernah saya lakukan, saya mendapatkan dua jenis kendaraan yaitu Daihatsu Xenia dan Toyota Avanza.

Mobil Uber yang mengantarkan ke Bandara Soekarno-Hatta.
Mobil Uber yang mengantarkan ke Bandara Soekarno-Hatta.

Jenis kendaraan baru diketahui setelah kita mendapatkan mobil pesanan. Namun, dari beberapa kali menggunakannya, saya mendapati kalau standar pelayanan, dan kebersihan kurang lebih sama baiknya.

Pak Santo yang pagi itu mengantarkan saya ke Alam Sutera, menyapa saya dengan ramah. Ketika kendaraan sudah mulai berjalan sekitar 5 menit, beliau menanyakan ke saya apakah AC mobil sudah cukup temperaturnya. Tak lama kemudian, beliau juga memberi tahu saya tentang rute yang akan diambil dan di gerbang tol mana kami akan masuk. Bahkan, di mobil beliau, sudah disiapkan air mineral dan permen. Saya sendiri tidak mengambilnya, karena saat itu saya sudah membawa sendiri.

17651790844_5d09904b12_o

Continue reading

Hampir Kehilangan Ponsel di Taksi Express

Minggu lalu, tepatnya hari Rabu, 15 April 2015, saya hampir kehilangan sebuah ponsel di Jakarta. Setelah mendarat ke Bandara Halim Perdanakusuma dengan penerbangan pertama dari Jogjakarta untuk keperluan pekerjaan, saya dan beberapa rekan langsung menuju tempat klien di daerah Slipi, Jakarta. Hampir setiap kali mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma untuk menuju tujuan di Jakarta, saya menggunakan armada taksi Express.

Taksi Express

Sekitar pukul 08.30, saya dan rekan sampai ditujuan. Setelah meminta struk bukti pembayaran, saya melanjutkan untuk sejenak beristirahat. Sekitar 15 menit kemudian, saya baru menyadari kalau ponsel saya (OPPO Find 7) tidak bersama saya. Saya coba cari, dan tidak ketemu. Ponsel ini sendiri baru saya beli sekitar satu bulan yang lalu, sebagai ganti ponsel OPPO R819 yang juga hilang di Jakarta tidak lama sebelummya.

Continue reading

Jadwal Kereta Api Jogja, Solo, dan Kutoarjo

Walaupun jarang menggunakan jasa layanan kereta api untuk perjalanan singkat ke Solo, satu hal yang sepertinya sulit untuk didapatkan (melalui internet) adalah jadwal keberangkatan. Padahal ada beberapa alternatif kereta seperti Pramex, Sriwedari AC, dan Madiun Jaya. Beberapa kali informasi yang saya dapatkan paling valid adalah dengan menelpon ke stasiun, atau datang langsung.

7241720412

Ketika mengunjungi Stasiun Tugu kemarin, saya mendapatkan informasi jadwal kereta api yang berlaku mulai tanggal 1 April 2013. Berikut informasinya:

Pramex Jogja-Solo

  • Jogja-Solo: 10.50, 14.40, 20.10
  • Solo-Jogja: 05.30, 13.00, 16.20

Pramex Kutoarjo

  • Jogja-Kutoarjo: 06.50, 15.50, 17.35
  • Kutoarjo-Jogja: 09.40, 17.30, 19.00

Sriwedari AC

  • Jogja-Solo: 05.25, 08.00, 09.15, 12.00, 13.00, 17.45, 18.40
  • Solo-Jogja: 07.05, 06.00, 10.10, 11.10, 14.30, 15.45, 20.05

Madiun Jaya

  • Jogja-Madiun: 09.50, 18.30
  • Madiun-Jogja: 06.00, 14.50

Data tersebut saya dapatkan saat saya mencari informasi di layanan pelanggan di Stasiun Tugu, Jogjakarta pada tanggal 8 September 2013. Untuk informasi harga tiket:

  • Pramex: Rp 10.000,-
  • Sriwedari AC: Rp 20.000,-
  • Madiun Jaya AC: Rp 50.000,-

Catatan lain:

  • Sistem pembelian tiket dibuka dua jam sebelum jadwal keberangkatan.
  • Karena padatnya perjalanan/penumpang, maka sering kali saya menjumpai penumpang yang kehabisan tiket. Sistem pemesanan sudah terintegrasi, jadi misalnya di Stasiun Tugu (untuk ke Solo) tiket sudah habis, dapat dipastikan bahwa tiket juga tidak bisa didapatkan di Stasiun Lempuyangan (Jogja).
  • Informasi ini saya dapatkan untuk berbagi informasi. Jika ada data/informasi yang kurang akurat, mohon maaf. Informasi terbaru seputar jadwal kereta api bisa langsung ditanyakan di layanan penumpang di Stasiun.

Sejenak Mengunjungi Kota Solo (Bagian 1)

Akhir pekan lalu, saya memutuskan untuk mengunjungi Solo. Bulan Juli lalu sempat juga ke Solo, untuk keperluan berbeda. Saat itu, saya ke Solo cuma untuk transit melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Perjalanan saya ke Solo terakhir kemarin meninggalkan beberapa kesan, dan pengalaman baru. Rencana awal hanyalah untuk sekadar melihat-lihat ke ACE Hardware — karena di Jogjakarta tidak ada — dan juga bertemu dengan seorang teman.

Perjalanan ke Solo

Saya memutuskan untuk menggunakan kereta dengan alasan waktu tempuh yang paling cepat. Untuk jadwal kereta sendiri, saya tidak terlalu memusingkan jam berapa kereta akan berangkat. Sekitar pukul 09.45 saya mendekati Stasiun Tugu.

Stasiun Tugu

Persis ketika mendekati loket pembelian tiket, terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa kereta Madiun Jaya akan segera diberangkatkan pukul 09.50. Saya sempat menanyakan apakah saya masih bisa membeli tiket untuk jadwal tersebut. Ternyata tidak.

Sempat saya tanyakan kepada petugas tiket, apakah saya bisa mendapatkan informasi jadwal kereta api. Petugas tersebut menyampaikan kalau informasi jadwal bisa didapatkan di bagian layanan pengguna. Ternyata tempatnya tidak jauh dari lokasi, masih di area tersebut. Setelah saya mendapatkan, saya coba pelajari secara singkat.

Kereta berikutnya adalah Pramex jurusan Jogja-Solo, pukul 10.50. Berarti masih ada waktu sekitar satu jam lagi. Saya langsung kembali ke loket untuk membeli tiket, harga saat itu adalah Rp. 10.000,-

Continue reading

Ketika Bepergian dengan Pesawat Terbang

Saya memang tidak harus sering melakuan perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang. Tapi, memang ada perubahan dalam hal frekuensi bepergian dibandingkan tahun kemarin dan tahun sebelumnya. Dan, rata-rata perjalanan juga tidak jauh, masih di pulau Jawa saja. Dulu, saya lebih memilih kereta api (jika memang tujuan memungkinkan untuk dijangkau dengan moda transportasi ini). Memang, paling sering ya cuma tujuan Jogjakarta-Jakarta saja.

Tapi, jika dibandingkan dengan sekarang saya lebih sering menggunakan jasa penerbangan. Efisiensi waktu kadang lebih menjadi prioritas. Apalagi, jika menilik dari harga yang tidak terpaut jauh — dibandingkan kereta api misalnya.

Pemandangan dari jendela ketika menggunakan jasa Air Asia.
Pemandangan dari jendela ketika menggunakan jasa Air Asia.

Sampai sekarang, kadang masih ada kekhawatiran tentang keselamatan perjalanan. Tapi, kalau dipikir lagi, bukankah semua perjalanan memang memiliki resiko? Syukurlah sampai sekarang saya masih bisa menikmati perjalanan dengan aman. Dan, kebetulan belum mengalami keterlambatan perjalanan yang mengganggu jadwal yang sudah direncanakan. Keterlambatan paling parah yang pernah saya alami terakhir kali ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta api beberapa bulan lalu. Setiap perjalanan, saya sering menikmatinya dengan melihat pemandangan dari sisi jendela. Walaupun kadang memang tidak mendapat tempat duduk di sisi jendela.

Continue reading

Jadwal dan Harga Tiket Kereta Api Pramex

Sudah cukup lama sejak terakhir kali saya menggunakan jasa transportasi kereta api Pramex. Setiap kali akan menggunakan kereta Pramex — baik dari Jogja ke Solo ataupun sebaliknya, pasti cukup kebingungan untuk mencari informasi tentang jadwal keberangkatan. Ya, bisa sih telpon informasi di stasiun. Berharap menemukan informasi — yang bisa dipercaya — melalui situs web sepertinya juga sia-sia. Mungkin ada, tapi tidak begitu yakin 100%.

Kemarin siang, akhirnya dengan sedikit nekat — sudah dapat informasi sih, tapi belum yakin sepenuhnya — saya coba langsung ke Stasiun Solo Balapan setelah menemani Lala pulang kampung. Sampai di Stasiun Solo Balapan kira-kira pukul 14.20. Lihat jadwal, ternyata ada yang keberangkatan pukul 14.45! Akhirnya tidak harus menunggu lama (atau baru saja ketinggalan kereta). Tanpa pikir panjang langsung ke loket untuk beli tiket. Eh, ternyata harga tiket sudah berubah dari yang semula Rp. 7.000,– sekarang menjadi Rp. 8.000,–. Dan melihat dari pengumuman yang terpasang, perubahan ini sejak bulan Agustus 2009.

Ternyata tidak hanya harga tiket yang berubah. Bentuk tiket juga mengalami perubahan. Mungkin sudah lama sih, beberapa bulan mungkin. Tapi saya benar-benar lupa terakhir kali naik Pramex itu kapan dan bentuk tiketnya seperti apa. Karena bentuknya yang tipis dan seperti lembaran kertas biasa, tadi hampir saja malah sempat terbuang.

Perjalanan cukup lancar, tapi terlambat sekitar 10 menit sampai di tujuan. Entah kenapa alasan keterlambatannya apa. Yang pasti, penumpang tidak begitu banyak. Mungkin kalau berangkat lebih sore lagi, bisa beda ceritanya.

Masih tentang Keterlambatan Kereta Api Gajayana Jurusan Jakarta

Perjalanan dengan menggunakan kereta api Gajayana yang mengalami keterlambatan lebih dari lima jam dari jadwal yang ditentukan harus saya lalui. Ini bukan sebuah pilihan. Suka atau tidak, mau tidak mau, harus saya terima. Keadaan yang mengharuskan saya ambil kereta malam — pengennya pakai Taksaka Malam. Kedatangan kereta di Stasiun Tugu sudah mengalami keterlambatan sekitar 30 – 60 menit. Ada yang berbeda kali ini. Disamping tempat duduk ada colokan listrik! Dalam perjalanan menggunakan kereta, satu hal yang mengganggu adalah ketika handphone kehabisan baterai. Ya, karena handphone mungkin jadi satu-satunya teman dalam perjalanan. Apalagi kalau perjalanan sendiri dan tidak menemukan teman mengobrol.

Kira-kira pukul 06.00, kereta berhenti. Saya baru saja terbangun dari tidur sebentar. Ah, sudah jam 6, berarti tidak lama lagi sudah memasuki Jakarta. Ternyata perkiraan saya salah. Kereta berhenti tidak tahu dimana. Akhirnya, saya keluar dari kereta — karena banyak penumpang melakukan hal yang sama. Diluar, sempat juga jadinya ngobrol dengan penumpang yang lain. Semua kurang lebih mengeluhkan hal yang sama: jadwal berantakan. Mulai dari yang harus masuk kantor, ketemu orang, menyelesaikan pekerjaan dan lain-lain. Sedangkan saya, sudah pasti jadwal yang sudah saya atur bersama dengan teman saya juga harus berubah.

Continue reading

Pengalaman Mencari Tiket Kereta Api

Minggu lalu, saya pergi ke Jakarta untuk sebuah keperluan. Setelah mempertimbangkan jadwal dan agenda (yang kebetulan saat itu sedang cukup sibuk), saya memutuskan untuk menggunakan jasa kereta api. Awalnya, saya berencana menggunakan pesawat terbang, tapi harga tiket saat itu sedang kurang bersahabat. Apalagi, kalau saya harus menggunakan pesawat pagi, sebuah perjuangan tersendiri nantinya.

Untuk mendapatkan tiket kereta api, tidak semudah yang dibayangkan. Ya, seharusnya memang mudah, karena tinggal menuju loket pembelian tiket di Stasiun Tugu Yogyakarta, antri, bayar… selesai. Waktu itu saya menunggu kurang lebih 100 antrian. Cukup panjang dan lama juga, karena loket yang melayani pembelian hanya dua (dari 5 atau 6 yang ada). Setelah tiba giliran saya, pemesanan tiket saya tidak dapat diproses dengan alasan sistem sedang offline. Nah loh! Sudah antri lebih dari satu jam, tidak bisa. Menyebalkan!

Ternyata, sistim (atau sistem?) yang sedang offline hanya jadwal kereta api Gajayana (yang ingin saya gunakan). Saya tanya, kira-kira kapan bisa memroses pesanan tiket, ternyata tidak ada jawaban pasti. Ya, petugas tidak dapat memastikan. Oh ya, ini pengalaman pertama menggunakan kereta api Gajayana, karena biasanya saya gunakan Taksaka Malam. Saya sempat agak panik. Akhirnya, saya putuskan untuk beli saja lewat jasa agen. Kebetulan di loket tersebut ada informasi tentang agen tiket. Saya coba keberuntungan saya untuk menelpon salah satunya. Melalui telepon, saya diberitahu kalau sistim sedang tidak bekerja, alias offline. Ternyata, agen tiket tersebut lokasinya tidak jauh dari rumah. Akhirnya saya pesan ke petugas agen kalau saya mau (dan pasti!) pesan tiketnya dan minta diberitahu kalau sistim sudah beroperasi kembali.

Tidak lama kemudian, saya mendapatkan telepon dari agen tiket tersebut yang memberitahukan bahwa tiket bisa dipesan. Langsung saya minta di-book-kan untuk saya. Singkatnya, saya mendapatkan tiket saya tersebut hari itu juga, dengan tambahan biaya Rp. 10.000,00. Ah, kalau tahu seperti ini, mendingan dari awal saya beli lewat agen! Menurut jadwal, kereta api akan berangkat pukul 23.33 dan sampai di Stasiun Gambir pukul 07.15. Tapi, yang namanya jadwal kan itu rencananya. Kenyataannya, saya baru sampai di Stasiun Gambir sekitar pukul 13.00! Gila!