Bayar dengan Cicilan Kartu Kredit atau Tunai?

Saya punya kartu kredit dari beberapa bank, walaupun tidak semuanya saya pakai. Intinya, saya mencoba menggunakannya sebagai mana fungsinya. Benar memang bahwa prinsipnya sih kita hutang yang tetap harus dibayar, cuma yang saya hindari adalah bahwa kartu kredit dipakai untuk membayar hutang kartu kredi yang lain. Itulah kenapa saya pakai metode pembayaran auto-debet.

Selain promo kartu kredit, saya fitur yang sering saya manfaatkan adalah cicilan dengan bunga 0%. Tidak selalu semua bisa dicicil, cuma kalau bisa dicicil dan memang lebih menguntungkan, kenapa tidak?

Untuk pengeluaran yang sifatnya rutin, saya gunakan cicilan kartu kredit. Atau, untuk barang yang butuh sekarang tapi bisa dinikmati cukup lama.

Saya selalu beli listrik prabayar dalam jumlah yang agak banyak, sekaligus untuk beberapa bulan. Misalnya saya beli sebesar Rp1.000.000,- yang harapannya bisa untuk 6 bulan. Transaksi semacam ini saya gunakan cicilan 0%, jadi saya menghitungnya dengan biaya bulanan listrik sekitar Rp150.000,-.

Karena ini mungkin bisa jadi lebih murah dibandingkan setiap bulan saya isi sedikit demi sedikit. Belum lagi kalau misalnya ketika melakukan pembayaran mendapatkan cashback. Dan juga, kebutuhan dan kemampuan masih bisa sebesar itu.

Contoh lainnya adalah ketika beli ponsel awal Agustus lalu. Saya memilih untuk menggunakan cicilan kartu kredit, karena saya memilih untuk menempatkan ponsel sebagai biaya bulanan. Bahkan, setelah saya pertimbangkan, saya akhirnya memutuskan untuk beralih ke pasca bayar. Jadi, kebutuhan untuk komunikasi (ponsel, pulsa, dan paket data) bisa lebih jelas.

Ya, semoga ponsel jangan hilang lagi saja sih…

Beberapa transaksi yang memang harus bayar tunai, saya usahakan untuk tetap dibayar tunai. Tunai disini maksudnya tunai lunas (entah pakai kartu kredit atau debi), bukan untuk dicicil. Misalnya belanja bulanan, pengeluaran rutin seperti IPL berlangganan server. Ya, apalagi kalau memang tidak tersedia opsi cicilan.

Toh secara prinsip kita juga sudah belajar matematika sejak dulu. Jadi, soal penghitungan dan logika jelas masih sangat relevan.

Biaya Transaksi Kartu Kredit yang Tidak Asyik

Ketika minggu lalu berbelanja di Terminal Bangunan untuk membeli beberapa kebutuhan renovasi kecil rumah, saya bermaksud melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit BNI. Saat itu tidak ada promo untuk pembayaran kartu, jadi mendapatkan promo bukan alasan.

Jumlah transaksi saya saat itu sekitar Rp1.000.000. Saya tidak melihat informasi bahwa pembayaran bisa dilakukan menggunakan cicilan 0% kartu kredit. Walaupun, bisa saja saya nanti konversikan pembayaran penuh kartu kredit menjadi cicilan, atau mungkin malah sebaliknya.

“Pak, untuk pembayaran dengan kartu kredit akan dikenakan biaya transaksi sebesar 1,8%”, begitu kurang lebih yang disampaikan oleh petugas kasir yang melayani saya. Jumlahnya tidak terlalu besar memang, tapi kenapa musti ada potongan? Saya tentu saja ingin memanfaatkan kondisi bahwa saya punya kartu kredit. Tapi, sepertinya hari itu keinginan saya batalkan dengan akhirnya menggunakan pembayaran dengan kartu debit.

Autodebet Pembayaran Kartu Kredit

Sejak kali pertama saya memiliki kartu kredit sampai dengan saat ini dengan kondisi ada lebih dari satu kartu kredit, saya memilih untuk melakukan pembayaran secara autodebet.

Walaupun kartu kredit ini memang salah satu sarana untuk kita bisa hutang terlebih dahulu kepada bank, namun kartu kredit jelas bukan alasan utama supaya bisa berhutang.

579017sfo283

Alasan kenapa saya melakukan pembayaran secara autodebet cukup sederhana. Pertama, saya tidak mau lupa melakukan pembayaran, dan tidak mau menyisakan hutang. Pokoknya, berapapun pembayaran yang dibebankan, harus dilunasi. Saya tidak ada kompromi untuk hal ini. Puji Tuhan, sampai dengan saat ini, komitmen tersebut masih bisa saya penuhi.

Kedua, karena saya tidak mau terjebak dalam bunga kartu kredit dan beban lain yang muncul gara-gara adanya tunggakan dalam tagihan kartu kredit. Apalagi, sampai harus melakukan pembayaran kartu kredit dengan kartu kredit lain.

Walaupun, tetap saya cukup sering memanfaatkan fasilitas cicilan 0% dari penerbit kartu kredit. Fasilitas semacam ini bagi saya sayang untuk tidak dimanfaatkan, termasuk fasilitas yang sekiranya menguntungkan.

Pernah satu ketika, saya melakukan transaksi dengan kartu kredit memanfaatkan fitur cicilan 0%. Transaksinya saat itu cukup besar, namun ada kesalahan dari sistem (saat itu setelah saya gali informasinya, kesalahan dalam sistem penjual/merchant). Saya punya dua opsi: urus ke bank untuk mengubah menjadi cicilan, atau melunasinya.

Karena secara prinsip ini lebih kepada kapan harus membayar, jadi saya putuskan untuk langsung saja melakukan pelunasan. Pernah juga malah sebaliknya, saya melakukan perubahan dari cicilan menjadi pembayaran langsung alias non-cicilan.

Lebih baik punya sedikit saldo di rekening daripada saldo banyak tapi hutang juga banyak.

Mengubah Cicilan Kartu Kredit Menjadi Non-cicilan

Saya punya kartu kredit karena salah satu manfaatnya bisa dipakai untuk melakukan pembelian dengan cicilan 0%. Namun, karena satu dan lain hal, saya perlu untuk membatalkan cicilan saya, menjadi pembayaran secara langsung. Padahal, transaksi pembelian sudah selesai.

Membatalkan Cicilan

Ketika saya harus membatalkan cicilan tersebut, pertama saya hubungi bank penerbit kartu kredit yang saya pakai untuk transaksi. Saat itu saya menggunakan kartu kredit dari BNI. Beberapa poin yang saya sampaikan/terima:

  • Saya tanyakan apakah transaksi saya sudah dibukukan. Dan, ternyata memang sudah, dan sudah ada catatan bahwa pembayaran menggunakan cicilan 0%.
  • Karena saya belum mendapatkan tagihan — melalui e-statement — jadi saya belum bisa melakukan pembayaran. Untuk pembayaran, biasanya lakukan melalui auto debet.
  • Ketika saya sampaikan bahwa saya ingin mengubah metode pembayaran menjadi pembayaran penuh, saya diminta untuk menghubungi merchant.
  • Diinfokan kalau tagihan akan dicetak pada malam hari, di hari yang sama saat saya menelpon. Jadi, saya sebaiknya segera menghubungi merchant.

Berbekal informasi tersebut, saya menghubungi pihak merchant. Ternyata, pihak merchant tidak dapat melakukan hal ini, karena ini dilakukan dari sisi bank.

Duh.

Continue reading

Mendapatkan Kembali PIN Kartu Kredit BNI Melalui SMS

Saya cukup sering melakukan transaksi menggunakan kartu kredit. Saya hanya menggunakan dua buah kartu kredit utama dari BCA dan BNI. Mengikuti anjuran keamanan, saat ini kedunya juga sudah menggunakan PIN (Personal Identifiation Number). Diluar transaksi daring — yang (kadang) menggunakan 3D Secure PIN — saya kadang juga menggunakan transaksi langsung menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture) di beberapa gerai.

Pernah sebenarnya pakai PIN ketika melakukan transaksi, tapi kebanyakan saya gunakan tanpa PIN. Jadi tinggal tanda tangan saja.

871iulias7f13tlkqhsfasf

Ada satu gerai makanan cepat saji dimana saya sudah melakukan transaksi beberapa kali. Dan, selalu menggunakan tanda tangan alias tanpa PIN. Sampai pada akhirnya kemarin saya bertransaksi dan harus menggunakan PIN. Saya tanyakan, apakah ada opsi untuk pakai tanda tangan?

Continue reading