Ganti ke Oppo F7

Sewaktu saya kehilangan iPhone 6 saya, saya sedang berada di Tangerang dan perlu untuk ada disana paling tidak tiga hari. Sudah sejak lama saya hanya menggunakan satu ponsel. Jadi, kehilangan satu-satunya ponsel tentu akan merepotkan.

Hari itu, saya putuskan kalau saya akan cari ponsel lagi. Karena urusan saya cukup banyak di seputaran Alam Sutera, akhirnya Erafone yang ada di Living World Alam Sutera menjadi saya membeli.

Saya tidak berpikir untuk membeli iPhone kembali. Beberapa waktu lalu saya memang sempat berencana menggunakan ponsel berbasis Android sebagai pengganti Oppo Find 7 saya yang pecah layar LCD-nya. Jadi, mungkin ini saatnya ganti ponsel. Pertanyaannya, gantinya apa?

Setelah membandingkan beberapa fitur, dan tentu saja budget, pilihan saya jatuh ke Oppo F7 dengan warna merah (Solar Red).  Ini masuk dalam kisaran budget saya yaitu di bawah Rp4.000.000,-.  Dengan spesifikasi RAM 4GB, media penyimpanan 64 GB, baterai Li-Ion 3.400 mAh, dan dual simcard, saya rasa ini sudah mencukupi untuk saya. Warna merah? Ini saya pilih karena saya ingin coba warna lain selain hitam.

Lebih jauh tentang pengalaman saya menggunakan ponsel Oppo F7 ini saya rasa akan saya tuliskan dalam tulisan terpisah. Sekitar dua minggu menggunakan, saya merasakan bahwa performanya bagus. Tapi, kita lihat saja nanti secara keseluruhan setelah satu bulan.

iPhone 6 Hilang

Dua minggu lalu, setelah sekitar satu jam saya turun dari Grab yang mengantar saya untuk urusan pekerjaan dari Gambir ke Alam Sutera, saya baru menyadari bahwa iPhone 6 saya sudah tidak bersama saya lagi.

Saat itu, bersama dengan rekan kerja saya, setelah turun dari Grab memang saya tidak mengecek keberadaan ponsel saya. Lebih menghabiskan waktu dengan rekan saya untuk mengobrol. Barulah ketika saya menyadari bahwa ponsel saya tidak ada bersama saya, saya mulai sedikit panik.

Singkatnya, usaha untuk mendapatkannya sudah saya lakukan. Rekan saya menelpon nomor ponsel saya, ternyata ada nada sambung namun tidak diangkat. Lupa berapa kali, namun akhirnya tidak ada nada sambung. Mungkin ponsel sudah dimatikan.

Saya coba telepon pengemudi Grab saya, menanyakan apakah ada barang tertinggal. Jawabannya, tidak. Ketika saya menanyakan apakah ada pengemudi setelah saya, dijawab bahwa ada, tapi ketika saya tanyakan apakah ada nomor ponsel penumpang setelah saya, dijawabnya tidak ada/tidak tahu. Mungkin, penumpang saya memang tidak sempat melakukan sambungan telepon dengan pengemudi Grab tadi. Entahlah.

Continue reading

XL Center Adisutjipto Yogyakarta Resmi Dibuka

Hari ini, 8 Oktober 2015, XL Axiata melakukan pembukaan secara resmi XL Center Adisutjipto Yogyakarta sebagai salah satu kanal pelayanan pelanggan produk dari XL Axiata. Saya sendiri kebetulan sudah menggunakan layanan dari XL Axiata sejak sekitar awal tahun 2000 sampai sekarang. Dulu, produk layanan lebih dikenal dengan ProXL. Jadi, mungkin sudah sekitar 15 tahun saya telah menjadi pelanggan.

Kebetulan pula, peresmian XL Center Adisutjipto Yogyakarta ini bertepatan dengan ulang tahun ke-19 — XL sendiri telah beroperasi sejak 8 Oktober 1996 — dari perusahaan ini. Acara ini sendiri dihadiri oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, Bambang Parikesit (VP XL Central Region), beberapa perwakilan dari XL Axiata, dan undangan lainnya.

Setelah beberapa kata sambutan, XL Center Adisutjipto Yogyakarta dibuka secara resmi dengan penandatanganan prasasti oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Dan, itulah kali pertama juga saya mengunjungi gerai XL Center yang baru. Sebelumnya, saya memang pernah beberapa kali pula mendatangi XL Center yang berada di lokasi sebelumnya di Jl. Mangkubumi, Yogyakarta. Keperluan cukup standar yaitu melakukan penggantian kartu Micro SIM, dan juga kartu Nano SIM.

Continue reading

Ulasan Windows Phone 8 dan Aplikasi pada Ponsel Lumia

Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang ponsel Lumia 535. Sebelum saya menuliskan artikel tersebut, saya sudah mencoba menggunakan ponsel (beserta dengan sistem operasi Windows Phone) walaupun belum dalam frekuensi sehari-hari. Selanjutnya, dalam waktu sekitar satu minggu terakhir, saya mencoba untuk menggunakannya dalam keseharian saya. Jadi, saya ingin mencoba ‘memberi kesempatan’ kepada ponsel Lumia (atau sistem operasi Windows Phone) ini untuk menjawab kebutuhan saya.

lma19735091275091725

Artinya, saya mencoba melakukan aktivitas rutin saya — yang biasanya saya lakukan di ponsel Android, iPhone dan iPad — di ponsel Lumia. Walaupun secara spesifik saya menggunakan Lumia 535 dalam tulisan ini, namun secara keseluruhan — koreksi jika saya salah — saya rasa saya bisa saja mendapatkan pengalaman yang sama ketika menggunakan jenis ponsel dari seri keluaran lain, sepanjang ponsel tersebut menggunakan sistem operasi Windows Phone.

Tulisan berikut berdasarkan versi Sistem Operasi Windows Phone 8.10.14226.359, versi Firmware 02055.00000.14511.22002.

Layar (yang mungkin terlalu) sensitif

Baik ketika saya menggunakan iPhone atau ponsel OPPO R819, saya tidak mengalami terlalu banyak perbedaan tentang sensitifitas layar. Gesture yang saya lakukan dapat berjalan dengan baik dan hampir tidak mengalami perbedaan berarti. Namun, ketika saya menggunakan ponsel Lumia, saya sering mengalami bahwa layar terlalu sensitif. Ketika saya swipe/scroll, saya sering mengalami bahwa gesture terbaca sebagai ‘tap’. Saya sebenarnya ingin scroll, namun sering kali malah membuka aplikasi. Dan, ini seringkali terjadi.

Email/surel (surat elektronik), Kalender, dan Kontak

wp_ss_20141125_0003

Secara prinsip, surel dapat dipergunakan dengan cukup baik, dalam pengertian bahwa seluruh surel saya baca melalui ponsel. Saya mencoba untuk menambahkan beberapa akun surel seperti Gmail, Yahoo Mail, Outlook, dan email kantor, semua dapat berjalan dengan baik.

Untuk kalender, saya menggunakan Google Calendar sebagai layanan utama untuk mengatur kalender/agenda. Dan, untuk kontak, saya menjadikan layanan Google (melalui Gmail) untuk pengelolaan kontak. Seluruh kontak saya dapat saya impor tanpa masalah.

Untuk kalender dan surel, saya harus berneogisasi dengan diri saya sendiri terutama pada bagaimana keseluruhan experience. Kalau fokusnya adalah bahwa informasi bisa saya dapatkan melalui ponsel Lumia, hal ini sudah terjawab.

Namun, bagaimana terkait dengan tampilan, pengalaman pengguna dan antar muka? Ini memang preferensi yang sangat personal. Tapi, saya harus bilang bahwa saya tidak terlalu menikmati untuk bekerja dengan surel dan kalender di ponsel Lumia saya.

Aplikasi Bertukar Pesan (Messaging)

Untuk bertukar pesan pendek, saya sudah hampir tidak pernah menggunakan SMS. Aplikasi utama yang sering saya pakai — diantara begitu banyak pilihan aplikasi chatting — adalah WhatsApp dan Telegram. Untunglah kedua aplikasi tersebut tersedia untuk Windows Phone.

Aplikasi WhatsApp di Microsoft Lumia (Windows Phone)
Aplikasi WhatsApp di Microsoft Lumia (Windows Phone)

(Tautan: WhatsApp untuk Windows Phone, Telegram untuk Windows Phone).

WhatsApp dan Telegram secara prinsip dapat berjalan dengan cukup baik secara performa. Dan, penting bagi saya karena kedua aplikasi tersebut dikembangkan resmi oleh penyedia layanan. Kadang, saya juga menggunakan Skype dan juga Blackberry Messenger. Saya tidak menggunakan Google Hangouts di Windows Phone, karena aplikasi resmi tidak bisa saya temukan. Dan,saya memang agak jarang menggunakannya — karena tidak banyak rekan dalam kontak saya yang menggunakannya secara aktif (dibandingkan dengan yang ada di WhatsApp atau Telegram).

Papan Ketik yang terlalu besar

Ini memang masalah selera, namun, menurut saya papan ketik (keyboard) yang dimiliki oleh ponsel Lumia ini memakan terlalu banyak area layar. Dan, secara pribadi saya sendiri kurang nyaman dengan kondisi ini.

Dukungan/pilihan aplikasi

Ponsel saat ini banyak sekali digunakan untuk kebutuhan yang bermacam-macam. Saya sendiri selain untuk keperluan pekerjaan, juga memanfaatkan ponsel untuk berinteraksi (melalui aplikasi bertukar pesan), ataupun menggunakan layanan media sosial untuk berbagi informasi, gambar, dan aktivitas lainnya.

Saya memiliki harapan untuk dapat tetap menggunakan aplikasi sehari-hari yang saya pakai walaupun saya berpindah ponsel (dengan sistem operasi berbeda). Hampir semua yang saya lakukan di iPhone dapat saya lakukan di Android — dan juga sebaliknya — walaupun dengan tampilan antar muka yang sedikit berbeda. Namun, secara umum saya mendapatkan pengalaman yang hampir sama.

Hal ini yang tidak bisa saya dapatkan melalui Windows Phone di ponsel Lumia saya. Kalaupun ada aplikasi sejenis, baik yang dikembangkan oleh penyedia layanan atau oleh pengembang lain, tetap saja secara keseluruhan saya kurang menikmati tampilan, disain, dan pengalaman aplikasi yang ditawarkan.

Di akhir tahun 2014, VentureBeat merilis tentang bagaimana aplikasi yang dikembangkan oleh masing-masing sistem operasi untuk perangkat bergerak. Dalam hal ini bagaimana aplikasi yang dibuat oleh Apple (iOS), Google (Android), dan Microsoft (Windows Phone) dan ketersediaannya di masing-masing pasar aplikasi.

Aplikasi Google, Apple, and Microsoft di sistem operasi bergerakDari grafik diatas, Microsoft memang cukup banyak menyediakan aplikasi buatannya untuk tersedia di sistem operasi lain. Tentu saja, di Windows Phone Store, Microsoft menjadi rajanya.  Bahkan, di Apple App Store, Microsoft justru memiliki aplikasi yang lebih banyak dibandingkan kompetitornya.

Namun, ini tidak sebaliknya. Secara aplikasi memang Microsoft memiliki jumlah yang banyak. Tapi, Apple dan Google sepertinya justru tidak tertarik untuk mendistribusikan aplikasi mereka (atau membuatnya tersedia) untuk Windows Phone.

Apple sendiri justru di Apple App Store hanya memiliki sedikit aplikasi. Tapi, sistem operasi, distribusi/penjualan ponsel menjadi magnet sendiri bagi para pengembang aplikasi atau perusahaan untuk membuat aplikasi tersedia disana.

Penutup

Setelah mencoba dalam penggunaan sehari-hari, serta menyesuaikan dengan kondisi sehari-hari bagaimana saya memanfaatkan sebuah ponsel, saya merasa bahwa untuk saat ini ponsel Lumia — dalam hal ini Microsoft Lumia 535 — kurang cocok untuk saya. Secara hardware, Microsoft Lumia 535 ini menurut saya cukup baik, namun terkait dengan aplikasi pendukung, banyak kebutuhan yang belum terjawab — bagi saya untuk penggunaan sehari-hari.

Catatan: Jika harus memilih salah satu aplikasi yang paling bagus (dan karena hanya tersedia di Windows Phone), saya tetap merasa MixRadio adalah aplikasi terbaik.

Ulasan Ponsel Microsoft Lumia 535 Dual SIM

Microsoft, sebagai perusahaan yang mengakuisisi Nokia, mengeluarkan produk ponsel pertama yang menghilangkan identitas “Nokia”, yaitu Microsoft Lumia 535. Jadi, tidak perlu bingung mengapa dulu ada istilah ‘Nokia Lumia’, namun nama Lumia sendiri sekarang tidak disandingkan dengan ‘Nokia’.

Microsoft Lumia 535

Pertengahan Desember 2014 ini, saya memutuskan untuk membeli Lumia 535. Produk Lumia 535 ini saya beli melalui pre-order di Blibli dan saat itu saya mendapatkan penawaran harga sekitar Rp 1.250.000,00 (pembayaran menggunakan kartu kredit). Saya memang cukup lama tidak menggunakan produk Nokia Lumia/Microsoft (sekarang Microsoft Lumia). Sehari-hari, saya sendiri menggunakan produk Apple (iPhone 5, iPad 3, dan MacBook Pro 15″ Retina Display), dan juga OPPO (OPPO R819). Jadi, secara sistem operasi di ponsel, saya sehari-hari menggunakan iOS dan Android.

Spesifikasi dan Disain

Untuk spesifikasi, saya tidak akan terlalu membahasnya disini. Ulasan lengkap tentang spesifikasi teknis Lumia 535 bisa dilihat langsung di situs Microsoft. Beberapa informasi singkat tentang spesifikasi dasar yang mungkin perlu dilihat adalah:

  • Mendukung dual SIM
  • Ukuran layar 5 inchi
  • Sistem operasi: Windows Phone 8.1 (Lumia Denim)
  • Kamera utama dan kamera depan dengan resolusi 5 MP
  • Dimensi: panjang: 140,2 mm, lebar: 72,4 mm, tebal: 8,8 mm, dan berat: 146 gram
  • Resolusi layar: qHD (960 x 540)
  • RAM: 1 GB
  • Memory internal: 8 GB. Dapat ditambah dengan MicroSD sampai dengan 128 GB.

Pilihan warna cukup beragam sesuai dengan selera yaitu hitam, putih, oranye, hijau, dan biru. Saya sendiri memilih warna oranye. Untuk finishing material casing adalah dengan finishing glossy. Secara disain, saya menyukainya. Walaupun dari sisi ukuran bukanlah yang paling kecil, dan paling tipis, namun secara keseluruhan dari sisi disain tidak mengecewakan. Paling tidak, masih cukup nyaman untuk dipegang dengan satu tangan. Untuk yang berjari agak pendek, mungkin akan terasa agak kurang nyaman dengan dimensi yang ditawarkan.

Continue reading

Kehilangan iPad

Hampir setahun lalu, saya sempat sesaat kehilangan salah satu piranti bergerak milik saya. Sebuah iPad. Keberuntungan dan kebaikan seseorang telah berpihak kepada saya saat itu. Tidak jadi hilang, dan kembali ke tangan saya tanpa kurang satu apapun.

Namun, keberuntungan memang tidak bisa dipaksakan. Dua hari lalu, iPad tersebut hilang. Sampai saat ini memang status hilang, dan memang ada harapan bahwa akan bisa saya dapatkan kembali. Sebuah iPad generasi ke-tiga Retina Display, warna putih, 64 GB.

Akhir Februari ini kebetulan harus ke Jakarta untuk urusan pekerjaan. Seperti biasa, saya tidak ingin terlalu repot dengan barang bawaan. Yang tidak biasa adalah saya memutuskan untuk membawa juga tas kecil yang ingin saya gunakan untuk membawa barang khususnya barang elektronik. Atau, sebut saja barang yang akan sering keluar masuk tas.

Setelah terbang dari Jogjakarta dan mendarat di Jakarta, semua masih baik-baik saja. Saya lanjutkan dengan melanjutkan agenda (langsung dari bandara Soekarno-Hatta), langsung menuju ke Wisma BNI 46 di Sudirman. Tempat meeting cukup santai. Di sebuah gerai Dunkin’ Donuts sekitar pukul 15.00-17.00. Saya memang tidak sempat mengeluarkan iPad saya dari tas. Saya cuma pegang iPhone dan ponsel saya yang lain.

Setelah selesai meeting, berpindah tempat untuk makan malam di Bakmi Permata, masih di kawasan Wisma BNI 46. Cukup singkat. Sekitar pukul 18.15, kami pulang.

Dari tempat tersebut, saya melanjutkan perjalanan ke daerah Senopati, Jakarta Selatan untuk acara yang lain. Bertemu dengan beberapa rekan kerja sewaktu saya kerja di Jakarta beberapa tahun lalu. Ketika akan pulang, barulah saya menyadari kalau tas kecil tersebut sudah tidak bersama saya lagi.

Ada keinginan untuk langsung kembali ke tempat semula. Tapi, jalanan macet dan waktu sudah cukup malam. Ditambah saya sendiri sudah terlalu capek. Saya urungkan niat saya. Saya sempatkan mengecek melalui Find My iPhone. Tidak terdeteksi. Dan, saya baru ingat memang iPad masih dalam kondisi Airplane Mode. Saya coba kirim pesan dan notifikasi, dan mengubah status menjadi “Lost Mode”. Agak sulit memang, karena iPad saya memang tidak sedang terhubung dengan internet.

iPad_lost_photo

Saya putuskan untuk mencoba keberuntungan saya pada pagi harinya. Sekitar pukul 10.00 pagi hari Sabtu, 1 Maret 2014 saya kembali ke Wisma BNI 46. Tujuan pertama saya ke restoran Bakmi Keriting Permata. Saya bertemu dengan beberapa pegawai disana. Setelah saya sampaikan maksud kedatangan saya, saya mendapatkan jawaban bahwa barang yang saya cari tidak ada.

Saya coba kembali ke Dunkin’ Donuts. Kebetulan, salah satu pegawai yang bertugas pagi itu adalah pegawai di hari sebelumnya. Saya masih sangat akrab dengan wajahnya. Saya sampaikan tentang keperluan saya, dan saya mendapatkan kabar baik. Kurang lebih begini percakapannya.

S (Saya): “Pagi, Mbak. Kemarin sore sekitar pukul 15.00 saya kesini. Apakah ada barang tertinggal berupa tas kecil berwarna hitam?”
P (Pegawai Dunkin’): “Sebentar saya cek dulu. Kemarin sih memang katanya ada tas ketinggalan”
S: “Wah, kalau begitu, minta bantuannya ya, Mbak…”
P: (Setelah mencoba memeriksa ke ruangan belakang) “Maaf, untuk lemari dikunci dan dibawa yang lain. Coba tinggalkan nomor telepon saja, nanti kami hubungi…”

Saya tuliskan nomor telepon saya, mengucapkan terima kasih, dan meninggalkan tempat itu.

Saya menaruh harapan bahwa saya akan dihubungi. Dan, saya menunggu.

Menunggu…

Sampai akhirnya, sekitar pukul 19.00, tidak ada juga pesan masuk ke ponsel saya (dan tak ada panggilan masuk ke ponsel). Saya putuskan untuk menguji keberuntungan saya kembali dengan pergi ke Wisma BNI 46 untuk ketiga kalinya.

Saya tetap kembali menanyakan ke kedua tempat tersebut. Di restoran Bakmi Keriting Permata saya mendapatkan jawaban yang sama (dan saya mendapat jawaban dari orang yang berbeda dari yang saya temui pertama kali). Di Dunkin’ Donuts, saya bertemu dengan salah satu petugas di kasir. Petugas yang satu (wanita) masih ada disana. Setelah obrolan, ternyata:

  • Benar bahwa ada tas tertinggal, TAPI sudah diambil oleh pemiliknya.
  • Tas tersebut agak berbeda dengan milik saya setelah saya deskripsikan.
  • Saat itu, sudah tidak ada barang lain yang tertinggal.

Dan, sepertinya peluang untuk ketemu semakin kecil saja. Atau bahkan tidak mungkin. Ya, sudahlah.

Hal seperti ini memang jadi agak rumit. Yang saya bisa lakukan adalah memercayai apa yang disampaikan oleh orang dimana saya bisa berharap mendapatkan informasi/barang saya kembali. Saya sudah usaha, tapi mungkin usaha saya sudah cukup untuk saat ini.

Terakhir, saya cuma pantau melalui Find My iPhone. Oh ya, jadi yang hilang dalam tas itu (setelah saya menyadari kembali):

  • iPad 3 warna putih, 64 GB, beserta dengan charger.
  • Boneka Danbo
  • 1 kabel charger OPPO R819

Kalau mencoba memikirkan tentang kondisinya, ada kemungkinan:

  • iPad tertinggal di Dunkin’ Donuts/restoran Bakmi Keriting Permata, ditemukan oleh pengunjung dan dibawa.
  • iPad tertinggal di Dunkin’ Donuts/restoran Bakmi Keriting Permata, ditemukan oleh petugas, namun tidak dibagikan informasinya ke petugas lain.
  • iPad dibawa orang, tapi tidak diapa-apain, tetap dalam Airplane Mode.
  • iPad dibawa orang, sudah di-wipe data dan seluruhnya.

Sedih? Iya. Tapi, ya sudahlah. Semoga bermanfaat bagi yang menemukan. :)

Mengatur penyimpanan berkas di laptop

Salah satu kebiasaan saya terkait dengan penyimpanan berkas (di komputer)  adalah bahwa saya jarang menghapusnya. Saya — dan mungkin banyak orang juga — melakukan penyimpanan di beragam layanan atau metoda  yang umum. Misalnya foto disimpan di layanan seperti Flickr, Instagram, atau bahkan Facebook. Berkas pekerjaan disimpan di Dropbox, atau Evernote untuk catatan-catatan lainnya.

Karena kebiasaan ini, sering kali kebutuhan media penyimpanan menjadi masalah tersendiri. Kadang bahkan, sampai tidak sadar properti apa yang pernah tersimpan, terunduh, maupun ter-backup. Tidak semua berkas saya simpan dalam layanan daring seperti diatas. Beberapa saya juga simpan di layanan seperti Amazon Web Service. Kebanyakan justru malah saya simpan di laptop, atau di hardisk eksternal.

Saat ini, selain laptop, saya  memiliki dua buah media penyimpanan utama di rumah:

  • StoreJet Transcend Media dengan kapastitas 2 TB
  • WD My Book Live 3TB Personal Cloud Storage

Trancend 2 TB lebih sering saya pakai untuk melakukan backup di laptop, karena hanya bisa menggunakan USB. Untuk yang Personal Cloud, saya gunakan untuk melakukan backup dari laptop (MacBook Pro Retina Display 15″), iPad 3, dan iPhone 5. Ponsel lain (BlackBerry  dan Android) tidak saya khususkan untuk backup. Khusus untuk MacBook Pro, ini adalah piranti yang paling sering saya backup. Selain karena supaya aman (paling tidak punya backup), dan juga karena media penyimpanan MacBook Pro ini yang relatif lebih kecil (SSD 250 GB).

Screen-Shot-2013-07-07-at-10.31.28-PM

Dan, karena kebiasaan pula, kadang penggunaan hardisk di laptop bisa tidak terkontrol. Hari ini misalnya, saya coba lakukan penghapusan berkas-berkas yang misal sudah saya backup, atau tidak diperlukan lagi. Ternyata, hasilnya cukup banyak. Bisa sampai 30 GB. Untuk melakukan kegiatan bersih-bersih hardisk, saya gunakan bantuan dari aplikasi CleanMyMac 2.

Hampir kehilangan iPad

Karena beberapa situasi, saya memang harus bolak balik dari Jogja ke Jakarta. Dan, ketika di Jakarta, sarana transportasi yang paling sering saya gunakan adalah taksi. Untuk alasan kepraktisan, dan tidak ribet saja. Selama saya di Jakarta, dan berdasarkan pengalaman pribadi (termasuk rekomendasi), saya memang hanya memilih untuk naik beberapa taksi dari perusahaan Blue Bird, Express, Gamya, dan Taxiku.

Taksi lain pernah sekali dua kali menggunakan. Dan, selama ini bisa dikatakan tidak ada menemui masalah atau pengalaman yang tidak mengenakkan. Satu atau dua kali pernah, tapi dibandingkan dengan seluruh pengalaman, saya rasa saya beruntung karena bisa dikatakan mendapatkan pelayanan yang baik.

Beberapa hari yang lalu, ketika menggunakan jasa taksi di Jakarta — saat itu saya menumpang Taksi Express, saya hampir kehilngan iPad saya. Untuk sepotong cerita, saya sudah tuliskan di blog lain. Tapi, ini mungkin adalah potongan cerita yang lain tentang apa yang terjadi hari itu.

Screen-Shot-2013-04-08-fmi0

Setelah menyadari kehilangan, saya telepon layanan konsumen dari Taksi Express. Kondisinya adalah bahwa saya tidak ingat nomor lambung taksi yang saya gunakan, dan rentang waktu sudah cukup lama. Sempat panik tentu saja, tapi sepertinya saya setuju bahwa yang paling penting adalah untuk tetap tenang.

Continue reading

Penumpang Terakhir di Sebuah Penerbangan

“Yang paling tidak enak menjadi penumpang yang naik terakhir itu adalah pandangan orang-orang yang sudah ada dalam pesawat…”

Itulah kurang lebih yang pernah saya dengar dari salah satu rekan pekerjaan saya dulu. Sesuatu yang hanya bisa saya bayangkan. Entah dengan berbagai alasan, tentu saja hal tersebut bisa dialami oleh mereka yang menjadi penumpang penerbangan.

Alasannya mungkin beragam. Menghabiskan banyak waktu di antrian check-in, tidak mengindahkan informasi dari waiting lounge, atau mungkin malah karena datang ke bandara terlalu mepet dengan jadwal. Seingat saya, saya hampir tidak pernah mengalaminya. Mungkin ini sebuah prestasi tersendiri bagi saya :)

Tapi, jika itu prestasi, maka prestasi saya berakhir pada bulan Januari 2013 ini. Ya, saya menjadi penumpang terakhir yang masuk ke pesawat (dalam sebuah penerbangan). Ya, anggap saja ini prestasi yang lain, hehe…

Di awal bulan Januari ini, saya kebetulan ada keperluan pekerjaan ke Kuala Lumpur. Dan, setelah selesai, saya kembali ke Jogjakarta (dari Jakarta). Tidak ada yang istimewa dalam hal persiapan perjalanan. Yang sedikit berbeda adalah tentang bahwa saya memutuskan untuk berangkat jauh lebih awal ke bandara. Sehari sebelumnya, saya dapat informasi kalau jalan ke arah bandara sempat terhenti karena kemacetan yang disebabkan oleh genangan air.

Continue reading

Pengalaman Mengganti Micro-SIM dan Nano-SIM XL Axiata

Kemarin (Sabtu, 5 Januari 2012), saya akhirnya datang lagi ke Graha XL di Jl. Mangkubumi, Jogjakarta. Kedatangan saya kali ini karena saya ingin mengubah kartu. Kartu utama saya yang terpasang di iPhone 4 — baca tulisan terkait: “Pengalaman Mengurus Micro SIM XL Axiata (di Jogjakarta)” — ingin saya pindahkan ke iPhone 5 yang mulai saya miliki bulan lalu, dan sebaliknya.

Masalahnya adalah bahwa ukuran dari kartu tersebut berbeda. Memang penggantian kartu fisik bisa dilakukan sendiri dari micro-SIM ke nano-SIM. Masalahnya adalah bagaimana dengan dari nano-SIM ke micro-SIM. Ditambah lagi saya malah takut salah potong yang mengakibatkan kartu tidak dapat digunakan.

XL

Sebenarnya, rencana saya untuk mengurus penggantian kartu ini sudah minggu lalu. Tapi, karena akhir tahun dan lalu lintas di Jogja sangat padat, saya tunda terlebih dahulu.

Sabtu sore sekitar pukul 14:30 saya datang ke Graha XL. Tidak banyak antrian sore itu. Ketika saya datang, saya mendapat nomor antrian 471. Baru saja saya duduk, saya dipanggil ke meja Customer Service, dan saya dilayani oleh CSO yang bernama Ratih — menurut identitas di meja nomor 2.

Graha XL - Ratih

Setelah saya sampaikan maksud kedatangan saya, ternyata stok untuk nano-SIM tidak ada. Tapi kalau micro-SIM ada. Karena pada prinsipnya nomor saya yang micro itu tinggal dipotong (walaupun dari sisi tebal memang sedikit berbeda), CSO tersebut menawarkan untuk memotongnya. Saya menyetujuinya. Ternyata berhasil tanpa masalah. Langsung saya pindahkan ke iPhone 5 milik saya, dan semua berfungsi dengan baik.

Nano-SIM yang sudah ada akhirnya diganti dengan kartu lain (micro-SIM) yang baru. Semua proses berjalan dengan cepat, tanpa ada masalah. Saya pasang kartu baru tersebut, dan semuanya berfungsi dengan baik.

Setelah semuanya selesai — saya lupa tepatnya berapa menit, saya sempatkan tanya juga beberapa hal tentang layanan internet di luar negeri, karena kebetulan saya ada rencana perjalanan ke Kuala Lumpur. Informasi yang saya dapatkan cukup lengkap — yang walaupun pada akhirnya saya coba baca lagi di situs XL. Tentang bagaimana nanti pengalaman menggunakannya di luar negeri, saya akan coba ulas.

Oh ya, untuk penggantian kartu — dan modifikasi kartu — tidak dikenakan biaya alias gratis. Lha terus kok pakai 2 buah iPhone? Justru penggantian kartu ini karena iPhone 4 memang mau dibuat untuk keperluan bersama dengan rekan-rekan kerja di kantor :)

Klarifikasi dan diskusi dengan pihak BCA seputar blokir Internet Banking

Malam ini, saya berkesempatan untuk berdiskusi dengan pihak perwakilan BCA seputar permasalahan saya seputar Internet Banking BCA yang saya alami kemarin (Baca: Permasalahan akun Internet Banking BCA diblokir karena antivirus?). Walaupun sebenarnya permasalahan saya tersebut bisa dikatakan sudah selesai (Baca: Tindak lanjut permasalahan Internet Banking BCA yang terblokir dan beberapa catatan lain).

Namun, dari obrolan saya mendapatkan beberapa informasi yang ingin saya bagikan dan semoga bermanfaat jika mengalami permasalahan serupa. Atau, mungkin sebagai informasi awal jika permasalahan seperti yang saya alami muncul dikemudian hari.

Diskusi dengan pihak BCA

Sekitar pukul 17:51 WIB (22 Desember 2012) saya mendapatkan telpon dari pihak Halo BCA yang bermaksud menanyakan beberapa hal/keluhan yang saya sampaikan melalui Twitter. Dalam pembicaraan singkat tersebut, saya sampaikan juga bahwa permasalahan yang saya alami sudah selesai, dan saya sudah dapat mengakses akun Internet Banking BCA saya tanpa masalah.

Continue reading

Permasalahan akun Internet Banking BCA diblokir karena antivirus?

Sore tadi, saya coba login ke Internet Banking BCA di kantor. Dan, entah kenapa tidak bisa login dengan pesan untuk menghubungi layanan konsumen BCA. Saya pikir mungkin sistem sedang tidak berjalan normal, jadi saya tunggu terlebih dahulu. Beberapa jam kemudian, saya coba lagi dan mendapatkan pesan yang sama.

Screen Shot 2012-12-22 at 12.02.14 AM

Dalam perjalanan pulang dari kantor, saya sempatkan akses dari ponsel — yang memang aktivitas yang saya kadang lakukan. Tetap tidak bisa login juga. Ketika saya sampai rumah, saya coba lagi, dan tetap tidak bisa masuk. Akhirnya saya putuskan untuk menelpon layanan konsumen Halo BCA melalui ponsel ke nomor 021-500888. Sebelum melanjutkan, berikut aktivitas/kondisi yang mungkin nantinya bisa menjadi gambaran kejadiannya.

  • Saya hanya mengakses KlikBCA melalui laptop saya satu-satunya — sebuah MacBook Pro.
  • Kadang, saya mengakses KlikBCA versi mobile melalui ponsel. Dan selalu menggunakan iPhone. Saya tidak pernah melakukan login melalui aplikasi Mobile BCA atau melakukan transaksi melalui mobile banking atau SMS banking.
  • Saya paham tentang https://ibank.klikbca.com dan https://m.klikbca.com
  • Saya selalu buka situs melalui peramban Google Chrome atau kadang Safari, dan kedua peramban tersebut selalu dalam versi terbaru.
  • Token KeyBCA saya selalu saya pegang
  • Saya ingat dengan sangat nomor PIN ATM dan PIN Internet Banking saya
  • Kartu ATM saya (dua buah) selalu saya pegang dan tidak saya pindah tangankan ke siapapun
  • Transaksi terakhir melalui Internet Banking saya lakukan pada tanggal 20 Desember 2012 pukul 16:49:46 untuk melakukan pembelian pulsa. Dan, transaksi tersebut berhasil tanpa masalah.

Setelah menunggu dari layanan BCA, saya akhirnya terhubung dengan salah satu Customer Service Officer (CSO). Ya, saya sedikit banyak paham tentang bagaimana model Call Center seperti ini. Saya jelaskan situasinya, dan mengkonfirmasi validitas data saya terlebih dahulu. Saya paham bahwa ini adalah prosedur standar yang harus dilakukan.

Ketika saya tanyakan permasalahan saya, saya mendapatkan jawaban bahwa: Akses/rekening BCA saya diblokir karena terindikasi adanya virus di komputer, dan pemblokiran dilakukan secara otomatis oleh sistem.

Sekali lagi: Karena komputer yang saya gunakan terindikasi terkena virus. Heran? Iya. Bingung? Banget.

Saya sempat memberikan argumen bahwa kecil kemungkinan kalau komputer saya — saya menyebutnya dengan laptop — terkena virus. Saya jelaskan pula kalau saya mengakses situs hanya dari laptop saya tersebut. Jelas saya tidak puas atas jawabannya. CSO tetap memberikan informasi dan argumen bahwa saya harus meng-update antivirus yang ada di PC — ya selalu digunakan kata PC. Saya jelaskan lagi kalau saya pakai MacBook, dan saya tanya balik tentang antivirus yang harus saya gunakan apa. Dan saya tidak mendapatkan jawaban.

Saya tidak ingin berargumentasi lebih panjang lagi seputar hal ini, karena saya yakin jawabannya hanya akan sama dan berputar-putar lagi. Saya diberitahu lagi seputar tips keamanan dan bahwa harus berhati-hati tentang adanya virus. Saya tetap bersikukuh bahwa tidak ada yang salah dengan aktivitas saya.

Saya tanyakan untuk berikutnya apa yang harus saya lakukan dan bagaimana untuk memecahkan permasalahan utama saya tersebut. Akhirnya saya dibantu untuk melakukan me-release akses. Dan, masih terkait dengan virus bahkan saya direkomendasikan untuk memformat ulang PC saya. DUH!

Saya juga diberitahu/disarankan untuk memeriksa daftar tujuan pembayaran kalau misalnya ada daftar rekening tujuan yang sekiranya tidak dikenal untuk bisa dihapus terlebih dahulu. Seingat saya, untuk menambahkan daftar rekening tujuan harus menggunakan KeyBCA. Lha?

Screen Shot 2012-12-22 at 12.24.16 AM

Sekarang, internet banking saya terblokir. Saya diminta untuk melakukan registrasi ulang ke ATM BCA terdekat, sama seperti awal dulu. Satu hal yang pasti, saya masih penasaran dengan kejadian ini. Ya, saya nasabah yang sedang sial.

Ada yang mengalami kejadian serupa?

[Update 22 Desember 2012 pukul 10:52]

Oh ya, saya sendiri memiliki dua rekening BCA tapi hanya salah satu yang sering saya gunakan. Keduanya terhubung melalui token BCA yang sama dan selalu saya mengakses internet banking dari laptop yang sama.

Baru saja saya coba login ke internet banking BCA dengan menggunakan ID rekening kedua (dari laptop yang sama), dan dapat masuk dengan baik tanpa masalah. Jadi, saat ini yang mengalami permasalahan adalah untuk ID KlikBCA dengan nomor rekening utama.