Fitur Last Activity di Instagram dan Cara Menonaktifkannya

Saya suka dengan Instagram. Mungkin Instagram adalah aplikasi media sosial yang paling sering saya gunakan saat ini, termasuk Twitter. Aplikasi lain seperti Path sudah saya tinggalkan cukup lama. Facebook, saya sudah nonaktifkan paling tidak untuk saat ini.

Baru-baru ini, Instagram melalui perbaruan aplikasinya merilis fitur “Last Activity Status”.  Fitur ini kurang lebih seperti WhatsApp, dimana kita bisa melihat kapan terakhir kali seorang dalam kontak terlihat aktif. Bedanya, di Instagram, fitur ini untuk melihat kapan terakhir kali seorang pengguna ‘terlihat’ menggunakan/membuka aplikasi Instagram.

Informasi tersebut terlihat melalui fitur Direct Message. Dibawah username, terlihat kapan terakhir kali pengguna tersebut menggunakan Instagram.

inst91359175-19725

Jadi, semua follower akan dapat melihat informasi ini? Tidak. Informasi ini hanya terlihat oleh akun yang kita follow, atau yang sebelumnya telah mengiriman pesan pribadi (direct message).

Tentu saja ini bukan fitur yang diingikan semua orang. Apalagi fitur ini secara default dalam status diaktifkan. Namun, kita bisa menonaktifkan fitur ini jika tidak menginginkannya.

Menonaktifkan fitur ‘Last Activity’

Cara menonaktifkan fitur ini cukup mudah, baik di aplikasi Instagram berbasis Android atau iOS.

  1. Buka aplikasi Instagram
  2. Masuk ke Profil, kemudian sunting profil
  3. Pada pilihan “Show activity status”, ubah pengaturan menjadi Off (Tidak aktif)

Pengaturan ini akan menonaktifkan fitur ini sepenuhnya, sehingga kita juga tidak bisa melihat status aktivitas pengguna lain juga.

WhatsApp Business

WhatsApp meluncurkan aplikasi WhatsApp Business yang diharapkan dapat lebih membantu lagi mereka yang menggunakan WhatsApp untuk keperluan bisnis seperti online shop dalam hal berinteraksi dengan pelanggannya. Saya sendiri masih menggunakan WhatsApp, walaupun lebih sering menggunakan Telegram terutama untuk terkait pekerjaan.

Bingung dengan Rincian Biaya/Tagihan Telkom IndiHome!

Sudah bulan kedua ini saya berlangganan layanan IndiHome. Proses menjadi pelanggan juga tidak selancar yang saya perkirakan. Namun, pada akhirnya saya bisa mendapatkan layanan IndiHome untuk mendukung keseharian saya baik dalam bekerja, maupun untuk keperluan lain yang menggunakan koneksi internet.

Beberapa rekan kerja saya juga menggunakan layanan IndiHome dengan paket yang sama. Sebelum saya mendapatkan tagihan pertama saya, kami bertukar informasi mengenai jumlah tagihan. Dan, ternyata tagihan tidak sama. Tentu saja, ada beberapa komponen tagihan yang memengaruhi. Namun, selisihnya sepertinya terlalu banyak satu sama lain.

Akhirnya, saya mendapatkan tagihan pertama di bulan Februari 2016, dengan rincian seperti di bawah ini:

BIAYA INDIHOME 3P: 248.710,00
RESTUSI/DISKON/DEBET: 105.000,00
PPN UNSUR KENA PAJAK: 35.820,00
DENDA TERBAYAR: 3.000,00
PERCAKAPAN PONSEL: 4.488,00
Total Tagihan: Rp 397.018,00

Masih dibawah Rp 400.000,00 sesuai dengan alokasi budget saya — selain ada alokasi untuk kebutuhan pulsa di ponsel, dan layanan mobile data. Untuk kebutuhan internet di rumah, penggunaan untuk kebutuhan sehari-hari saja. Saya bekerja dengan laptop saya, menggunakan internet juga di ponsel dan tablet. Layanan kabel UseeTV juga kadang saya manfaatkan, walaupun sebenarnya cukup jarang juga.

Walaupun dulu ada kabar tentang kebijakan FUP (Fair Usage Policy) dari Telkom, atau pemblokiran Netflix, bahkan pengurangan jumlah kanal siaran di UseeTV, hal tersebut tidak terlalu signifikan bagi saya. Bahkan, kalau saya boleh memilih, saya lebih memilih untuk menggunakan layanan internet saja. Layanan televisi UseeTV dan telepon rumah hampir bisa saya abaikan. Masalahnya, ketiga layanan tersebut (internet, tv cable, dan telepon rumah) sudah menjadi satu paket layanan.

Continue reading

Ulasan Ponsel Microsoft Lumia 535 Dual SIM

Microsoft, sebagai perusahaan yang mengakuisisi Nokia, mengeluarkan produk ponsel pertama yang menghilangkan identitas “Nokia”, yaitu Microsoft Lumia 535. Jadi, tidak perlu bingung mengapa dulu ada istilah ‘Nokia Lumia’, namun nama Lumia sendiri sekarang tidak disandingkan dengan ‘Nokia’.

Microsoft Lumia 535

Pertengahan Desember 2014 ini, saya memutuskan untuk membeli Lumia 535. Produk Lumia 535 ini saya beli melalui pre-order di Blibli dan saat itu saya mendapatkan penawaran harga sekitar Rp 1.250.000,00 (pembayaran menggunakan kartu kredit). Saya memang cukup lama tidak menggunakan produk Nokia Lumia/Microsoft (sekarang Microsoft Lumia). Sehari-hari, saya sendiri menggunakan produk Apple (iPhone 5, iPad 3, dan MacBook Pro 15″ Retina Display), dan juga OPPO (OPPO R819). Jadi, secara sistem operasi di ponsel, saya sehari-hari menggunakan iOS dan Android.

Spesifikasi dan Disain

Untuk spesifikasi, saya tidak akan terlalu membahasnya disini. Ulasan lengkap tentang spesifikasi teknis Lumia 535 bisa dilihat langsung di situs Microsoft. Beberapa informasi singkat tentang spesifikasi dasar yang mungkin perlu dilihat adalah:

  • Mendukung dual SIM
  • Ukuran layar 5 inchi
  • Sistem operasi: Windows Phone 8.1 (Lumia Denim)
  • Kamera utama dan kamera depan dengan resolusi 5 MP
  • Dimensi: panjang: 140,2 mm, lebar: 72,4 mm, tebal: 8,8 mm, dan berat: 146 gram
  • Resolusi layar: qHD (960 x 540)
  • RAM: 1 GB
  • Memory internal: 8 GB. Dapat ditambah dengan MicroSD sampai dengan 128 GB.

Pilihan warna cukup beragam sesuai dengan selera yaitu hitam, putih, oranye, hijau, dan biru. Saya sendiri memilih warna oranye. Untuk finishing material casing adalah dengan finishing glossy. Secara disain, saya menyukainya. Walaupun dari sisi ukuran bukanlah yang paling kecil, dan paling tipis, namun secara keseluruhan dari sisi disain tidak mengecewakan. Paling tidak, masih cukup nyaman untuk dipegang dengan satu tangan. Untuk yang berjari agak pendek, mungkin akan terasa agak kurang nyaman dengan dimensi yang ditawarkan.

Continue reading

Ulasan: Pengalaman makan di Michigo, restoran Korea di Jogjakarta

Setelah sebelumnya saya sempat mampir ke Michigo bulan November lalu, saya penasaran ingin mencoba untuk datang sebagai konsumen biasa. Ya, niat hati memang ingin merasakan pengalaman makan disana. Apakah konsep (digital) self-service ini memudahkan, atau malah menyulitkan? Akhirnya saya coba saja di tempat yang sama, yaitu di Ambarrukmo Plaza, Yogyakarta. Oh ya, tulisan ini adalah pengalaman pribadi saya, dan tidak ada pembicaraan apapun dengan pihak Michigo terkait kedatangan saya kesana saat itu.

Saya datang sekitar jam makan siang. Sedikit ramai, walaupun tidak seluruh kursi terisi. Perasaan saya sih antrian cukup lama. Dari tiga perangkat yang ada untuk pemesanan, semua memang terpakai. Entah karena pengunjung memesan menu yang banyak, atau karena sebab yang lain. Akhirnya saya coba tunggu saja.

Antrian Michigo, Ambarrukmo Plaza

Akhirnya, datang juga giliran saya untuk pesan. Ini adalah kali pertama saya menggunakan piranti digital berupa iPad dengan aplikasi pemesanan disana. Kebetulan keseharian saya juga sudah menggunakan iPad. Tidak terlalu sulit. Saya sendiri hanya secara cepat saja melihat menu-menu yang ditawarkan, bukan untuk mengeksplorasi yang ditawarkan (atau bahkan melihat aplikasi itu sendiri).

Memesan menu makanan di Michigo

Setelah memilih beberapa menu, langsung terlihat berapa jumlah yang harus saya bayarkan. Saya pindah ke kasir untuk melakukan pembayaran. Kalau menurut saya, semua proses ini cukup mudah. Setelah membayar, saya mendapatkan sebuah video pager, yang nantinya akan digunakan untuk memberitahukan kalau pesanan saya siap.

Continue reading

Mengatur penyimpanan berkas di laptop

Salah satu kebiasaan saya terkait dengan penyimpanan berkas (di komputer)  adalah bahwa saya jarang menghapusnya. Saya — dan mungkin banyak orang juga — melakukan penyimpanan di beragam layanan atau metoda  yang umum. Misalnya foto disimpan di layanan seperti Flickr, Instagram, atau bahkan Facebook. Berkas pekerjaan disimpan di Dropbox, atau Evernote untuk catatan-catatan lainnya.

Karena kebiasaan ini, sering kali kebutuhan media penyimpanan menjadi masalah tersendiri. Kadang bahkan, sampai tidak sadar properti apa yang pernah tersimpan, terunduh, maupun ter-backup. Tidak semua berkas saya simpan dalam layanan daring seperti diatas. Beberapa saya juga simpan di layanan seperti Amazon Web Service. Kebanyakan justru malah saya simpan di laptop, atau di hardisk eksternal.

Saat ini, selain laptop, saya  memiliki dua buah media penyimpanan utama di rumah:

  • StoreJet Transcend Media dengan kapastitas 2 TB
  • WD My Book Live 3TB Personal Cloud Storage

Trancend 2 TB lebih sering saya pakai untuk melakukan backup di laptop, karena hanya bisa menggunakan USB. Untuk yang Personal Cloud, saya gunakan untuk melakukan backup dari laptop (MacBook Pro Retina Display 15″), iPad 3, dan iPhone 5. Ponsel lain (BlackBerry  dan Android) tidak saya khususkan untuk backup. Khusus untuk MacBook Pro, ini adalah piranti yang paling sering saya backup. Selain karena supaya aman (paling tidak punya backup), dan juga karena media penyimpanan MacBook Pro ini yang relatif lebih kecil (SSD 250 GB).

Screen-Shot-2013-07-07-at-10.31.28-PM

Dan, karena kebiasaan pula, kadang penggunaan hardisk di laptop bisa tidak terkontrol. Hari ini misalnya, saya coba lakukan penghapusan berkas-berkas yang misal sudah saya backup, atau tidak diperlukan lagi. Ternyata, hasilnya cukup banyak. Bisa sampai 30 GB. Untuk melakukan kegiatan bersih-bersih hardisk, saya gunakan bantuan dari aplikasi CleanMyMac 2.

Klarifikasi dan diskusi dengan pihak BCA seputar blokir Internet Banking

Malam ini, saya berkesempatan untuk berdiskusi dengan pihak perwakilan BCA seputar permasalahan saya seputar Internet Banking BCA yang saya alami kemarin (Baca: Permasalahan akun Internet Banking BCA diblokir karena antivirus?). Walaupun sebenarnya permasalahan saya tersebut bisa dikatakan sudah selesai (Baca: Tindak lanjut permasalahan Internet Banking BCA yang terblokir dan beberapa catatan lain).

Namun, dari obrolan saya mendapatkan beberapa informasi yang ingin saya bagikan dan semoga bermanfaat jika mengalami permasalahan serupa. Atau, mungkin sebagai informasi awal jika permasalahan seperti yang saya alami muncul dikemudian hari.

Diskusi dengan pihak BCA

Sekitar pukul 17:51 WIB (22 Desember 2012) saya mendapatkan telpon dari pihak Halo BCA yang bermaksud menanyakan beberapa hal/keluhan yang saya sampaikan melalui Twitter. Dalam pembicaraan singkat tersebut, saya sampaikan juga bahwa permasalahan yang saya alami sudah selesai, dan saya sudah dapat mengakses akun Internet Banking BCA saya tanpa masalah.

Continue reading

Tindak lanjut permasalahan Internet Banking BCA yang terblokir dan beberapa catatan lain

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya dengan judul ‘Permasalahan akun Internet Banking BCA diblokir karena antivirus?‘. Apa yang saya tuliskan sebagai tambahan informasi, dan semoga dapat memberikan tambahan informasi (bagi yang membutuhkan).

Registrasi Internet Banking BCA

Karena sudah larut malam, saya memutuskan untuk melakukan pendaftaran ulang Internet Banking BCA hari ini (22 Desember 2012) melalui ATM yang tidak jauh dari rumah. Saat saya menuliskan artikel ini, akses ke Internet Banking BCA sudah normal kembali. ID KlikBCA, catatan nomor rekening tujuan yang tersimpan juga masih ada seperti semula.

Pagi harinya, sebelum melakukan pendaftaran ulang kembali, saya sempatkan untuk mencoba login menggunakan ID KlikBCA saya yang lainnya. Kebetulan saya punya dua buah ID KlikBCA, dengan menggunakan satu buah token KeyBCA. Login berhasil tanpa masalah.

Setelah menuliskan cerita yang semoga cukup mendetail, saya mencoba untuk mencari informasi lebih lanjut apakah hanya saya saja yang mengalami kejadian ini. Ternyata ada beberapa nasabah — saya memang hanya pantau melalui jejaring sosial Twitter dan Facebook — yang mengalami kejadian serupa. Beberapa diskusi dan informasi saya rangkum di Chirpstory dan juga terjadi di Facebook. Ada juga yang membagikan ceritanya melalui kolom komentar di artikel sebelumnya.

Twitter menjadi salah satu kanal saya berinteraksi dengan pihak BCA melalui akun @HaloBCA. Walaupun memang layanan jejaring sosial tidak dapat sepenuhnya menjadi medium untuk penyelesaian masalah. Hal-hal privasi dan standar keamanan (validasi data nasabah, verifikasi rekening, dan lain-lain) menjadi pertimbangan tersendiri untuk penyelesaian masalah melalui misalnya call center atau langsung ke kantor cabang.

Continue reading

Alasan mengapa saya ingin punya iPhone 5

iPhone 5. Ya, saya ingin memilikinya.

iPhone bukanlah produk pertama kali dari Apple yang saya miliki. Produk pertama yang saya beli adalah sebuah MacBook Pro pada Agustus 2010 lalu. Kecintaan saya pada produk Apple mulai muncul ketika saya menggunakannya sehari-hari. Saya merasa bahwa produktivitas saya semakin bertambah, beban di pundak juga semakin ringan karena MacBook lebih ringan daripada komputer jinjing saya sebelumnya.

Tahun berikutnya, saya membeli sebuah iPhone 4 (16 GB) di bulan Agustus 2011. Saya merasa bahwa ini keputusan yang tepat. Saya suka bagaimana produk tersebut didisain, dan tentu saja fitur-fitur yang ditawarkan. Saya suka produk yang bagus yang bisa menunjang kebutuhan saya sehari-hari, baik pekerjaan, maupun aktivitas sehari-hari. Setahun kemudian, New iPad (64 GB) menemani saya dalam keseharian.

Di bulan 14 Desember 2012, ini iPhone generasi terbaru (iPhone 5) hadir di Indonesia. Dan, saya menginginkannya. Memang benar ada alasan untuk tidak membelinya. Misalnya harga yang terlalu mahal, fitur yang sebenarnya banyak dimiliki oleh ponsel lain, dan masih banyak lagi. Tapi, tentu saja ada alasan untuk membelinya, dan alasan tersebut bisa sangat subyektif. Ini alasan saya mengapa saya menginginkan sebuah iPhone 5.

Disain: Dimensi Baru

iPhone 5

Dari tampilan salah satu perbedaan mencolok adalah dari sisi ukuran yang lebih tinggi. Pertama kali saya mengikuti informasi peluncuran produk iPhone 5 ini, saya merasa penasaran. Lebih tinggi, tetapi tidak lebih lebar. Saya merasakan iPhone 4 yang saya miliki sudah memiliki ukuran yang pas dalam genggaman saya. Walaupun kadang karena saya merasa bahwa jika layar lebih tinggi, harusnya tidak menjadi masalah. Jari saya memang mungkin tergolong agak panjang. Paling tidak sampai dengan saat ini, saya bisa menjangkau semua bagian layar ketika saya memegang iPhone 4 saya dengan satu tangan. Saya sudah mencoba beberapa ponsel pintar dengan ukuran layar lebih tinggi, kadang tidak terlalu mudah untuk bekerja dengan satu tangan.

Continue reading

Pengalaman Pembuatan Kartu ATM Pengganti di Bank BCA

Singkatnya, kemarin saya mendapatkan pelayanan yang baik dari Bank BCA Kantor Cabang Utama (KCU) Sudirman ketika melakukan pengurusan pembuatan kartu ATM baru. Semua proses berlangsung dengan cepat, dan petugas layanan nasabah membantu semua prosesnya. Terima kasih Bank BCA!

Saya lupa tepatnya kapan saya kehilangan buku tabungan saya. Yang pasti, sudah lama. Atau mungkin, sudah sangat lama. Jadi praktis saya hanya mengandalkan kartu ATM saya. Oh ya, untuk transaksi perbankan, saya menggunakan ATM dari Bank BCA. Saya sendiri menjadi nasabah bank ini cukup lama. Kurang tahu kapan tepatnya, tapi kalau tidak salah sekitar awal tahun 2001/2002. Sudah pernah juga mengalami kejadian kehilangan kartu ATM.

Nah, karena sudah cukup lama, jadi memang dari sisi bentuk kartu bisa dikatakan sudah jauh dari bagus. Warna sudah mulai pudar, dan bahkan lapisan plastik di kartu juga sudah mulai mengelupas. Ya, walaupun jelek kartu tersebut pernah juga kok digunakan untuk penarikan tunai di Hong Kong beberapa bulan yang lalu.

Oke, abaikan kalimat terakhir diatas. Tidak terlalu ada hubungannya dengan inti tulisan ini.

Continue reading

Pengalaman Menggunakan Layanan Internet Smart Telecom

Pertengahan Januari tahun ini, saya memutuskan untuk menggunakan layanan internet Smart Telecom. Setelah membaca informasi, bertanya dengan beberapa teman, saya putuskan untuk memilih layanan ini — dibanding dengan layanan yang sejenis. Ini juga terkait dengan kepindahan saya ke Jakarta (dari Jogja) untuk beberapa bulan. Saat itu, saya masih menggunakan layanan Speedy untuk keperluan koneksi internet di rumah. Dan, saya cukup puas dengan layananan Telkom Speedy.

Kebutuhan koneksi internet saya mungkin bisa dikatakan rata-rata. Tidak terlalu banyak aktivitas simultan seperti mengunduh berkas yang besar. Yang penting, aktivitas berselancar, memperbarui blog, dan hal-hal lain terkait pekerjaan bisa dilakukan. Saya banyak mendengar kalau kecepatan akses yang didapatkan tidak bisa maksimal seperti yang dijanjikan. Walaupun demikian, kecepatan akses saya rasa masih bisa diterima. Tidak cepat sekali, tidak juga lambat. Lumayan.

Selama menikmati promo gratis berlangganan 100 hari, saya juga tidak terlalu banyak mendapati masalah yang cukup merepotkan. Memang kadang-kadang koneksi tiba-tiba terputus tanpa sebab yang jelas. Tapi, kalau dibandingkan dengan total lama pemakaian, saya merasa hal tersebut bisa saya tolerir. Tentang kecepatan koneksi/sinyal, tetap bahwa lokasi menentukan kecepatan akses.

Di tengah kota Jogja saya tidak terlalu mendapatkan masalah. Di Bantul — karena hampir bisa dikatakan tidak mendapatkan jangkauan sinyal — pengalaman menggunakan Smart Telecom ini bisa dikatakan sangat mengecewakan. Ya, ini karena memang jangkauan saja belum sampai lokasi.

Ketika saya pindah ke Jakarta, salah seorang teman saya juga memutuskan untuk mencoba layanan ini. Keputusan ini juga setelah teman saya tersebut mencoba untuk menggunakan modem Smart milik saya di rumahnya. Masalah yang kadang juga muncul adalah ketika koneksi tiba-tiba terputus, padahal sinyal tertangkap penuh.

Akhir-akhir ini saya mengamati kalau kecepatan mengunggah berkas menjadi sangat sulit. Untuk berkas-berkas kecil sebenarnya tidak terlalu masalah. Saya pernah mengunggah 3 berkas masing-masing sebesar sekitar 100 Kb ke laman Facebook saya, bisa dikatakan kecepatannya sangat mengecewakan. Sering kali gagal. Tapi, masalah seperti ini tidak terjadi ketika saya mengunggah satu persatu. Hal yang sama juga ketika saya mengunggah foto ke Flickr. Kecepatannya terasa lambat sekali, walaupun saya rasa ukuran berkas tidak terlalu besar.

Catatan: Tulisan ini adalah pengalaman pribadi, dan tidak disponsori oleh pihak manapun.

Frekuensi Menulis di Blog dan Mikroblog

Kemarin, Ivan Lanin melontarkan sebuah pertanyaan melalui akun Twitter miliknya:

Apakah mikroblog dan pemutakhiran status membuat orang jadi lbh malas menulis di blog “tradisional”? [tautan]

Gara-gara pertanyaan tersebut, saya tergoda untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan lebih panjang, melalui sebuah entri di blog ini. Jawaban saya untuk pertanyaan tersebut melalui akun Twitter saya sepertinya terlalu singkat.

Saya tidak akan menjawab mengenai istilah blog “tradisional”, tapi pemahaman saya terhadap kata ‘tradisional’ tersebut adalah blog yang pada umumnya dikenal, sebelum mikroblog berkembang sampai dengan hari ini. Atau mungkin, ketika layanan semacam Twitter, Plurk, Facebook, Foursquare, Koprol, dan lain sebagainya menjadi sangat populer.

Continue reading