Senayan City, Public Relations dan Berita di Republika Online

Agak terkejut sebenarnya melihat berita di Republika Online yang tentang pernyataan Humas Senayan City, Sri Ayu Ningsih terkait dengan peristiwa bunuh diri yang terjadi di Senayan City.

Microphone (by hiddedevries)

“Sebetulnya saya sangat menyesalkan insiden yang tadi malam. Kenapa Reno harus memilih bunuh diri di Senayan City, tidak mencari tempat lain seperti jembatan, jalan layang, atau gedung tinggi lainnya,” ujar Humas Senayan City, Sri Ayu Ningsih, Selasa (1/12).
“Menurut saya, si Reno terkesan mencari sensasi. Sampai saat ini belum diketahui sebab pastinya kenapa dia melakukan aksi nekat itu. Kalau dari CCTV (alat pemantau) kita sih dia terlihat sengaja menjatuhkan diri setelah keluar dari resto Takemuri di lantai lima,” tukas Ayu. [sumber]

Jika saya agak sebal ketika media melakukan kesalahan pengutipan, saat itu saya berharap semoga Republika Online memang salah kutip. Atau, sang Humas bicara seperti itu atas nama pribadi, bukan atas nama perusahaan tempat beliau bekerja. Bagi saya pribadi, melakukan bunuh diri memang tindakan yang (mungkin) konyol. Mungkin pelaku memiliki sebuah motif tersendiri. Atau itu dilakukan dengan sebuah alasan.

Tentang pernyataan dari Humas tersebut — jika itu memang benar disampaikan — tentu saja ini kurang pas. Memang humas (public relations ) perlu memberikan tanggapan. Saya bukan orang humas atau mengikuti lebih dalam tentang dunia kehumasan. Tapi, kok sepertinya dengan alasan apapun, pernyataan tersebut tidak bisa dibenarkan ya? Apalagi jika pernyataan itu memang membawa perusahaan/institusi tempat beliau bekerja.

Hari ini (3 Desember 2009), Republika Online menurunkan artikel yang masih terkait dengan kejadian sebelumnya. Dalam artikelnya kali ini, Sri Ayu Ningsih membantah bahwa beliau pernah mengatakan hal seperti yang diberitakan sebelumnya.

Humas Senayan City, Sri Ayu Ningsih, mengatakan pihaknya sangat menyesalkan insiden tersebut. Ayu juga membantah bahwa dirinya pernah menyesalkan dipilihnya Senayan City sebagai lokasi bunuh diri, seperti dimuat Republika Online Selasa (1/12) lalu. “Saya tidak pernah mengatakan hal demikian,” ujarnya kepada Republika, Kamis (3/12). [sumber]

Nah, jadi bagaimana ini sebenarnya? Setelah Republika Online menurunkan beritanya kemarin, banyak tanggapan masyarakat yang sudah ‘terlanjur’ muncul baik di fitur komentar artikel, blog, ataupun layanan jejaring sosial lainnya.

Tidak selalu artikel lanjutan juga mendapatkan perhatian yang sama dengan artikel pertama. Ini sepertinya sangat sering terjadi. Apakah orang — bukan media — yang memberitakan/menyampaikan berita ‘tidak menyenangkan’ akan memperbarui beritanya? Sebagian mungkin iya, sebagian besar mungkin tidak. Bantahan melalui media massa sudah sering sekali kita dengar dan baca. Mungkin sekarang jadi fifty-fifty, apakah:

  1. Humas Senayan City mengatakan seperti yang diberitakan, atau
  2. Republika Online melakukan kesalahan pengutipan dan penulisan berita

Saya juga bingung yang benar yang mana. Kalau ternyata memang harus ada yang benar dan salah diantara keduanya, semoga yang salah bisa melakukan koreksi. Meminta maaf mungkin berat, tapi jika memang ini memberikan kejelasan, kan ada juga kemungkinan untuk dimaafkan. Ah, saya jadi pengen belajar PR.

Sumber gambar: hiddedevries

1 Comment

  • saya sangat menyayangkan bila hal ini benar2 dinyataka oleh PR Senayan City,,,
    Dan bagi saya tidak lah mungkin seorang PR tamatan LSPR mengomentari hal seperti itu,,, saya rasa tidak mungkin..Menurut saya republika online mungkin hanya lah membuat sensasi ditengah2 suasana panas…Ingat harus ada kode etik ya…