Sekelumit Cerita Setelah Gempa Bantul/Jogja tahun 2006

Sudah hampir satu minggu, peristiwa gempa di Padang, Sumatera Barat berlalu. Turut berduka cita bagi para korban dan juga keluarga yang mendapatkan musibah. Ketika pertama kali melihat tayangan televisi, dan juga informasi lanjutan tentang gempa tersebut, langsung saya teringat tentang apa yang melanda kota Bantul dan Jogja (dan beberapa wilayah lainnya) pada saat terjadi gempa besar tahun 2006 yang lalu.

Saya tidak akan membandingkan tentang mana yang lebih parah. Satu hal yang pasti, tidak ada yang menginginkan terjadinya bencana tersebut. Walaupun sudah lebih dari tiga tahun setelah gempa tersebut, saya pribadi masih merasakan perasaan trauma, karena keluarga saya juga menjadi salah satu korban. Saya merasa sangat bersyukur (dan beruntung), karena harta yang paling bernilai — nyawa kami sekeluarga — masih kami miliki. Sesaat setelah gempa, ayah saya pernah bilang, “Uwis, rapopo. Sing penting kabeh slamet… (Sudah tidak apa-apa, yang penting semua selamat).

Ketika terjadi gempa, saat itu saya sedang berada di Jogjakarta (kota). Waktu itu, kondisi gunung Merapi lebih menjadi perhatian utama. Saya — dan beberapa warga — sesaat setelah gempa sempat terpikir bahwa itu adalah gempa vulkanik, dari arah utara Jogja, yaitu dari Gunung Merapi. Saat gempa berlangsung, saya melihat bebeapa pemandangan yang cukup mengerikan. Alarm mobil yang parkir diseberang jalan berbunyi karena roda mobil tersebut terangkat dari aspal beberapa sentimeter. Kabel listrik berputar-putar seperti tali karet dimainkan oleh anak kecil. Tidak lama berselang, tidak jauh dari tempat saya berdiri, terlihat kepulan asap seperti ada kebakaran.

2006_jokteng

Saya yang saat itu bersama dengan teman saya belum tahu seberapa hebat gempa yang terjadi. Tidak lama setelah itu, saya dan teman saya melihat beberapa bangunan retak. Ada tembok kampung yang runtuh, ada antena parabola yang sudah berada dipinggir jalan dari posisi semula di atas atap rumah. Ah, ini gempa besar! Tapi, masih belum tahu dimana gempa sebenarnya terjadi. Listrik padam, sana telekomunikasi selular dan kabel juga tidak berfungsi. Di rumah, saya menjumpai piring sudah berserakan, untunglah keluarga (eyang) semua selamat walaupun saat terjadi gempa sama sekali tidak sempat keluar. “Lha arep mlaku wae ora isa… (Mau jalan saja susah…)”,  begitu kata eyang saya.

2006_rw5

Pagi itu, saya (masih tetap dengan ketidaktahuan informasi) bersama dengan teman saya menyempatkan sarapan terlebih dahulu. Ketika sedang makan, bercakap-cakap dengan orang yang sedang berada di tempat makan tentang gempa yang baru saja terjadi. Waktu itu waktu masih menunjukkan sekitar pukul 06.30. Tidak lama kemudian, dari arah selatan arus kendaraan mulai ramai. Ada tukang becak yang bilang kalau tidak jauh dari tempat saya makan (arah selatan) banyak rumah roboh. Tak lama berselang, kendaraan roda dua dan empat mulai bergerak dengan cepat, dengan membawa beberapa orang yang terluka. Sebagian saya sempat melihat dengan kondisi kotor oleh debu. Hanya dalam hitungan menit, semakin ramai arus kendaraan yang melintas. Baru setelah itu, saya mendengar kalau gempa datang dari arah selatan kota.

2006_jokteng_wetan

Saat itu, saya baru tersadar, bahwa ini tidak main-main. Bersama dengan teman saya, kami mencoba berkeliling melihat keadaan didalam kota, tidak jauh dari rumah. Kira-kira pukul 07.00, saya sampai di daerah Prawirotaman. Disitulah kepanikan hebat saya jumpai. Dan, didaerah itulah pertama kali saya mendengar bahwa ada warga yang meninggal karena tertimpa bangunan rumah. Bangunan rumah (yang berdiri dengan kondisi rapat), jalan beraspal yang retak sudah saya lihat. Ketika sampai di daerah Prawirotaman — yang juga merupakan daerah penginapan para wisatawan — saya menjumpai banyak turis asing berada di pinggir jalan. Sebagian sudah menenteng barang bawaan. Saya bertemu dengan seorang ibu-ibu yang terluka kakinya penuh darah. Saya coba ajak bicara, dan entah apa yang mendorong saya tiba-tiba secara spontan saya lari ke rumah terdekat untuk meminta obat merah atau perban. Saya tidak mendapatkan apa-apa karena sudah diberikan oleh warga. Ketika minta kain paling tidak bisa untuk menutupi luka, ibu-ibu yang saya jumpai sedang berada dirumahnya memberikan selendang yang biasa digunakan untuk menggendong bayinya.

2006_prawirotaman

Ketika saya kembali, ibu-ibu yang terluka tadi sudah mendapatkan pertolongan dari wisatawan asing yang saat itu sedang menyelamatkan diri. Saya tanya apakah ibu-ibu itu baik-baik saja, beliau bilang kalau sudah tidak apa-apa. Syukurlah…

Tidak jauh dari tempat saya berdiri, ada rumah usaha milik salah satu klien saya. Tembok depan rumah roboh, tapi saya tidak mendapat kesempatan bertemu dengan klien saya tersebut, karena rumah terlihat kosong. Mungkin dia sedang keluar rumah.

Setelah itu, saya melanjutkan melihat keadaan. Sesampainya di daerah Jl. Parangtritis, saya dan teman saya menjumpai kepanikan yang lebih besar lagi. Dari arah selatan, arus kendaraan melaju dengan cepat ke arah utara, sambil meneriakkan “Tsunamiiiiiiiiiii!”. Tanpa berpikir panjang, kami balik arah untuk ikut dalam arus kendaraan tersebut. Tidak jauh dari tempat itu, ketika melintas depan Pasar Prawirotaman, saya melihat ada sebuah kendaraan tertimpa trafo listrik yang berukuran sangat besar. Ya, isu tsunami sempat mengagetkan warga. Kepanikan semakin bertambah dengan teriakan yang semakin banyak…

Catatan: Gambar diatas diambil tidak lama setelah gempa terjadi dan sebelum pukul 07.30 pagi.

(bersambung…)