Sejenak Mengunjungi Kota Solo (Bagian 1)

Akhir pekan lalu, saya memutuskan untuk mengunjungi Solo. Bulan Juli lalu sempat juga ke Solo, untuk keperluan berbeda. Saat itu, saya ke Solo cuma untuk transit melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Perjalanan saya ke Solo terakhir kemarin meninggalkan beberapa kesan, dan pengalaman baru. Rencana awal hanyalah untuk sekadar melihat-lihat ke ACE Hardware — karena di Jogjakarta tidak ada — dan juga bertemu dengan seorang teman.

Perjalanan ke Solo

Saya memutuskan untuk menggunakan kereta dengan alasan waktu tempuh yang paling cepat. Untuk jadwal kereta sendiri, saya tidak terlalu memusingkan jam berapa kereta akan berangkat. Sekitar pukul 09.45 saya mendekati Stasiun Tugu.

Stasiun Tugu

Persis ketika mendekati loket pembelian tiket, terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa kereta Madiun Jaya akan segera diberangkatkan pukul 09.50. Saya sempat menanyakan apakah saya masih bisa membeli tiket untuk jadwal tersebut. Ternyata tidak.

Sempat saya tanyakan kepada petugas tiket, apakah saya bisa mendapatkan informasi jadwal kereta api. Petugas tersebut menyampaikan kalau informasi jadwal bisa didapatkan di bagian layanan pengguna. Ternyata tempatnya tidak jauh dari lokasi, masih di area tersebut. Setelah saya mendapatkan, saya coba pelajari secara singkat.

Kereta berikutnya adalah Pramex jurusan Jogja-Solo, pukul 10.50. Berarti masih ada waktu sekitar satu jam lagi. Saya langsung kembali ke loket untuk membeli tiket, harga saat itu adalah Rp. 10.000,-

Saya kemudian berjalan keluar area stasiun untuk mencari sarapan. Pilihan pertama saya sebenarnya jatuh ke Warung Soto Pak Gareng di sebelah sisi timur Stasiun Tugu. Keberuntungan tidak berpihak pada saya. Warung Pak Gareng sudah mau habis. Tak jauh dari tempat saya berdiri, saya lihat ada sebuah kios kecil yang menjual menu pecel Madiun. Ah, ini tidak kalah menarik!

Akhirnya saya pesan seporsi nasi pecel, dengan lauk tahu bacem, ditambah dengan telur asin. Tambahan minuman es teh dengan gula tidak terlalu banyak juga ada dalam pesanan. Tambahan rempeyek dalam kacang dan sedikit teri menambah lengkap sajian pagi itu. Untuk rasa, pecel ini enak di lidah saya!

Pecel

Saya sempatkan mengobrol ringan dengan penjualnya. Ternyata warung kecil mereka (bentuknya adalah seperti kios portabel) buka mulai sekitar 06.30 pagi. Obrolan berlanjut ke topik ringan lainnya. Saya ingin lebih lama melanjutkan obrolan, tapi karena memang harus segera balik ke stasiun, saya akhiri obrolan.

Seporsi pecel untuk sarapan, segelas es teh manis, dan obrolan pagi itu terbayar dengan biaya sekitar Rp 10.000,-. Saya sendiri agak lupa tepatnya berapa, tapi saya ingat bahwa saya berkomentar dalam hati kalau harganya sangat bersahabat di kantong. Itu yang sepertinya lebih penting.

Saya berjalan kembali ke stasiun, dan memutuskan untuk langsung masuk ke area tunggu. Banyak yang berubah. Suasana stasiun terasa lebih bersih, teratur dan tertata. Tempat pemeriksaan loket juga makin terasa pas dengan mengambil posisi dibagian agak dalam. Salah satu yang terasa adalah anjungan tunai dapat diakses dengan lebih terbuka. Sebelumnya, kalau mau ke ATM, pengunjung (baik penumpang maupun bukan) tetap harus melewati tempat pemeriksaan tiket. Saya berjalan-jalan ke area dalam stasiun untuk sekadar melihat dan merasakan suasana di sana. Terasa jauh lebih baik.

Di ujung barat, bahkan ada sebuah area berbentuk joglo. Ah, ini bagus!

1724012974

Saya habiskan beberapa menit berikutnya dengan melihat sekeliling dari bangku tempat saya duduk.  Di bangku sebelah kiri ada dua orang yang sedang terlibat pembicaraan yang sepertinya cukup seru. Bangku sebelah kanan saya kosong. Di dalam bangunan joglo sendiri ada beberapa penumpang, termasuk dua orang asing yang sedang mengobrol ditemani oleh dua gelas kopi.

Kegiatan melihat sekeliling saya dihentikan oleh informasi dari corong pengeras suara yang memberitahukan bahwa kereta api Pramex sudah datang mendekat dan akan berhenti di lintasan nomor tiga. Saya dan penumpang lain segera bergegas untuk bersiap. Keteraturan lainnya terlihat juga. Jadi, penumpang yang akan naik oleh petugas diarahkan untuk menunggu dari sisi selatan. Dan, ini ternyata untuk mengatur supaya penumpang yang turun dapat menggunakan sisi utara sehingga tidak berdesakan ketika adanya aktivitas naik dan turun.

912412471

Walaupun memang tidak terlihat penuh sesak, tapi tempat duduk sudah tidak tersedia. Akhirnya saya berdiri, dan mengambil posisi di tengah gerbong. Satu jam perjalanan saya rasa tidak akan terlalu melelahkan untuk berdiri. Tak berapa lama, kereta akhirnya berangkat ke arah timur, meninggalkan stasiun.

Beberapa menit kemudian, kereta berhenti sebentar di Stasiun Lempuyangan dan beberapa penumpang turun disana.

Dalam perjalanan, saya tidak terlibat dalam obrolan dengan penumpang lain. Hampir semua penumpang sepertinya larut dalam kegiatannya sendiri-sendiri. Beberapa menghabiskan waktu dengan tertidur. Ada satu keluarga dengan anaknya yang masih kecil, yang selama perjalanan berkali-kali menengok keluar melalui jendela.

9124124012

Sempat ada petugas kebersihan yang berjalan di dalam gerbong untuk membersihkan sampah. Entah apakah memang tidak ada tempat sampah dalam gerbong — saya sendiri tidak melihat adanya tempat sampah — atau memang penumpang sendiri yang memutuskan untuk membuang sampah di dalam kereta.

Beberapa bungkus makanan ringan, gelas plastik air mineral, dan bungkus permen terlihat ada dalam serok plastik berwarna merah yang dibawa petugas kebersihan tersebut. Oh ya, terlihat juga cukup banyak potongan kecil kertas bekas tiket yang jatuh dari alat yang dibawa oleh petugas pemeriksaan tiket.

Jadi, kalaupun tidak ada sampah yang dibuang oleh penumpang, sepertinya tetap akan ada sampah lain berupa sisa potongan kertas dari tiket tersebut.

Tiba di Solo

Tak lama setelah itu, akhirnya saya sampai di Stasiun Balapan sekitar pukul 12.00. Seluruh penumpang bergegas turun, termasuk saya.

7241720412

Siang itu, stasiun tak begitu ramai. Cuaca cukup panas. Saya lihat melalui aplikasi cuaca di ponsel, dan angka menunjukkan 33 derajat Celcius. Hal yang pertama saya lakukan adalah mencari tempat duduk untuk mengisi baterai di ponsel. Ketika dalam perjalanan dengan kereta, saya baru menyadari bahwa saya tidak membawa charger sama sekali. Hanya kabel USB saja. Duh!

“Becak mas?”, seorang tukang becak menyapa ramah, menawarkan jasanya. “Matur nuwun pak, mangke kewawon… (Tidak pak, nanti saja…)”, jawab saya singkat. Akhirnya saya duduk mengambil tempat di lantai, sambil mengisi baterai ponsel dengan menggunakan laptop.

Ada satu tukang becak yang duduk disamping saya. Dia tidak menawarkan diri untuk mengantar. Hanya duduk. Mungkin karena penumpang kereta yang saya naiki kebanyakan sudah meninggalkan stasiun. Arus penumpang datang sudah semakin sedikit.

“Solo panas nggih, Pak?” (Solo panas ya, Pak?)
“Nggih Mas…” (Iya, Mas…)
“Sing sami dolanan keroncong taksih wonten? Sing biasane wonten nglebet…” (Yang pada memainkan keroncong masih ada? Yang biasanya ada di dalam…)
“Taksih kok Mas, ning sak niki pindah wonten njawi. Biasanipun radi sonten, soale menawi sonten langkung kathah penumpang…” (Masih kok Mas, tapi sekarang pindah di luar. Biasanya agak sore, soalnya kalau sore lebih banyak penumpang…)

Obrolan ¬†berlanjut ke topik-topik ringan dalam beberapa menit selanjutnya. Beberapa kali ketika pulang ke Jogja melalui Solobalapan ini, saya sering menjumpai beberapa tukang becak berkumpul untuk bermain keroncong. Tentu saja, dengan salah satu lagu andalannya “Bengawan Solo”. Ini video yang dulu pernah saya buat beberapa tahun lalu.

Purun ngeterke teng Paragon, Pak? (Mau mengantar ke Paragon, Pak?)”, tanya saya singkat kepada beliau. Ngobrol sebentar, dan kami sepakat dengan tarif. Saya diminta untuk menunggu saja, dan bapak tersebut mengambil becak yang parkir tidak jauh dari tempat itu.

“Monggo, Mas…”

01273912741

Ketika saya melihat melalui peta, sebenarnya jarak tidak terlalu jauh. Walaupun, kalau jalan kaki bisa capek juga. Apalagi dalam cuaca yang cukup panas.

Daliyanto. Begitulah belau memperkenalkan diri. Menurut ceritanya, beliau berasal dari Klaten, dan sudah lama menjadi tukang becak. Karena sebelumnya kami sempat terlibat obrolan seputar keroncong, jadi sempat pula ada obrolan dalam perjalanan.

“Saya juga suka keroncong, Mas…”, begitu dia mulai bercerita. “Kalau mendengarkan siang-siang, di hati itu tenteram. Iramanya itu pelan dan menenangkan…”.

Pengetahuan saya tentang musik memang tidak banyak, tapi saya tidak punya alasan untuk tidak setuju dengan yang Pak Daliyanto sampaikan.

Tak berapa lama, sampailah saya di Solo Paragon. Ini kali pertama saya mengunjungi tempat tersebut. Langsung saja saya masuk dan menuju ke ACE Hardware untuk melihat beberapa barang yang rencananya bisa untuk tambahan properti di tempat kerja. Ambil beberapa foto, dan… ponsel mati kehabisan baterai. Duh!

Solo Paragon

Saya ambil posisi duduk di area atrium sambil kembali mengisi baterai. Dan, kembali mencoba menghubungi teman yang ingin bertemu. Setelah beberapa saat, teman saya datang. Kami putuskan untuk mengobrol di sebuah gerai kopi disana. Ditemani satu gelas Swiss Mocca Latte, obrolan dengan beberapa topik ringan — dan kadang agak berat — berlangsung sekitar dua jam.

Meninggalkan Solo

Sekitar jam 15.40, kami putuskan untuk mengakhiri pertemuan siang itu. Saya lihat jadwal kereta yang akan membawa saya pulang ke Jogja. Ternyata ada kereta Pramex yang menuju Jogja pukul 16.20. Saya bergegas kembali menuju ke Solobalapan. Sekitar pukul 16.05 saya sudah tiba disana, dan langsung menuju ke loket penjualan tiket.

Dan, ternyata tiket sudah habis. Dan, jadwal selanjutnya adalah pukul 20.05. Dan, melihat banyaknya penumpang yang kehabisan tiket, saya merasa cukup pesimis untuk bisa mendapatkan tiket pulang. Dan, tiket untuk keberangkatan pukul 20.05 baru dilayani pembeliannya pukul 18.15. Waduh!

Sempat terpikir untuk naik bis saja. Paling tidak saya bisa sampai ke Jogja lebih cepat. Saya sempat coba mencari informasi tentang travel atau shuttle bus. Tapi ternyata gagal juga. Sambil mencoba berpikir tentang bagaimana saya pulang, saya bertemu kembali dengan dua orang asing yang saya temui dan sapa ketika berangkat di Stasiun Tugu.

Dia bernasib sama, tidak mendapatkan tiket pulang. Saat itu, mereka bersama dengan dua orang lokal — yang belakangan pada akhirnya saya diberitahu kalau salah satu dari mereka adalah murid dari bule tersebut. Kami sempat bicara tentang alternatif cara pulang. Ada beberapa alternatif mulai dari bis, travel, atau taksi. Setelah berdiskusi singkat, akhirnya kami sepakat untuk menggunakan taksi.

(bersambung…)

 

2 Comments