Sang Pemimpi: Bebaskan Mimpimu

Sang Pemimpi

Baru kemarin saya nonton film Sang Pemimpi yang disutradari oleh Riri Riza. Berubah dari rencana awal untuk nonton Avatar dengan alasan yang sederhana: tiket pemutaran film Avatar sudah hampir penuh. Tinggal bangku deretan depan yang tersedia. Untuk novelnya, saya juga belum pernah membaca, bahkan bisa dibilang saya tidak mengikuti cerita dan hingar bingar tentang perkembangan tetralogi Laskar Pelangi. Bahkan, buku Laskar Pelangi juga belum selesai saya baca.

Untungnya, saya sudah menonton film Laskar Pelangi. Paling tidak saya tidak harus kebingungan memahami alur ceritanya. Gegap gempita film ini justru malah saya lihat dari percakapan di Twitter dari pengguna Twitter yang saya ikuti, termasuk dari produser Sang Pemimpi, Mira Lesmana.

Bagi yang belum menonton film Laskar Pelangi, sepertinya pembukaan film Sang Pemimpi ini cukup membantu dalam memahami alur cerita berikutnya. Kehidupan para pemain utama semasa remaja mendapatkan porsi yang dominan dalam film ini. Menurut saya, pemeran Ikal (Vikri Septiawan), Arai (Rendy Ahmad) dan Jimbron (Azwir Fitrianto) ketika mereka remaja bermain dengan apik. Mungkin karena wajah mereka bisa dikatakan cukup “asing” dalam dunia film inilah yang menjadikan saya tidak terlalu terganggu dengan referensi film tertentu. Begitu juga ketika saya menonton film Laskar Pelangi.

Banyak adegan menarik yang ditemui dalam film ini. Apalagi dibantu dengan latar belakang adegan yang mengambil tempat yang relatif tidak terkenal. Saya pribadi lebih suka melihat ketika sebuah film menampilkan daerah-daerah yang cukup asing bagi saya, apalagi banyak mengambil setting alam. Setiap tokoh remaja diperkenalkan dengan beberapa adegan mundur kebelakang, tentang siapa Arai dan siapa Jimbron. Karakter Arai dewasa terlihat cukup jelas dengan banguan beberapa scene tentang bagaimana Arai bertemu dengan Ikal sewaktu kecil. Begitu juga dengan Jimbron.

Arai (Rendy Ahmad), Ikal (Vikri Septiawan), dan Jimbron (Azwir Fitrianto)

Tentang pelajaranĀ  dan nilai kehidupan (duh, bahasanya!), tentu saja cukup banyak yang dapat diambil dari film ini. Cukup banyak adegan yang mengharukan. Misalnya ketika Ikal memeluk dan mencium tangan ayahnya (Mathias Muchus) — yang dalam film ini ayah disebut sebagai “Ayah Juara Nomor Satu Seluruh Dunia” — ketika dia merasa bahwa dia telah mengecewakan ayahnya. Atau, ketika Ikal Kecil (Zufani) menemani ayahnya ketika ayahnya mendapat kabar tentang kenaikan pangkat. Atau bagaimana usaha Arai Remaja untuk menyenangkan sahabatnya Jambrong dengan cara bekerja dengan imbalan meminjam kuda untuk Jambrong.

Adegan Arai (Rendy Ahmad) menyanyikan lagu untuk Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda)

Ada pula beberapa adegan komikal dalam film ini. Misalnya ketika Ikal menyampaikan sebuah kutipan yang merupakan bagian lirik lagu “Darah Muda” dari Rhoma Irama. (Haha! Lagu dari Rhoma Irama yang paling sering saya nyanyikan jika karaoke). Atau, bagaimana Arai Remaja mendapatkan perhatian dari Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda). Oh ya, dalam adegan ketika Arai menyanyikan lagu didepan rumah Zakiah ini, saya sempat mengira kalau wajah yang keluar dari balik jendela adalah bapaknya, ternyata salah. Kalau ternyata bapaknya, bisa jadi lucu atau malah merusak hype yang ingin dibangun kali ya? Hehehehe :D

Salah satu momen yang bagus diakhir film adalah ketika Ikal dan Arai berpisah dengan keluarganya. Mengharukan. Ketika mendekati akhir film, sepertinya alur film berjalan dengan lebih cepat. Entah apakah karena memang karena faktor penyuntingan untuk kepentingan durasi waktu, atau sebagai strategi membangun keingintahuan untuk sekuel film berikutnya?

Karakter Arai dalam film ini menurut saya sangat kuat. Dari sisi akting, dari sisi pribadi mungkin akting Rendy Ahmad sebagai Arai adalah yang paling bagus. Kehadiran Nazril “Ariel” Irham menurut saya juga cukup bagus.

Secara keseluruhan, saya menikmati film ini. Walaupun konsentrasi saya juga harus sedikit terganggu dengan gangguan-gangguan kecil selama menikmati film ini. Ya, resiko nonton dengan anak-anak kecil. Duh! Perpindahan scene ada yang memakan waktu terlalu lama (beberapa detik). Entah ini karena faktor editing, atau kesengajaan untuk membuat penonton bernapas sejenak. Mungkin suatu saat harus nonton lagi kali ya? Apalagi nonton bareng Riri Riza dan Mira Lesmana. Eh, kok saya malah jadi ikut mimpi…

Catatan: gambar diambil dari situs Sang Pemimpi.