Penumpang Terakhir di Sebuah Penerbangan

“Yang paling tidak enak menjadi penumpang yang naik terakhir itu adalah pandangan orang-orang yang sudah ada dalam pesawat…”

Itulah kurang lebih yang pernah saya dengar dari salah satu rekan pekerjaan saya dulu. Sesuatu yang hanya bisa saya bayangkan. Entah dengan berbagai alasan, tentu saja hal tersebut bisa dialami oleh mereka yang menjadi penumpang penerbangan.

Alasannya mungkin beragam. Menghabiskan banyak waktu di antrian check-in, tidak mengindahkan informasi dari waiting lounge, atau mungkin malah karena datang ke bandara terlalu mepet dengan jadwal. Seingat saya, saya hampir tidak pernah mengalaminya. Mungkin ini sebuah prestasi tersendiri bagi saya :)

Tapi, jika itu prestasi, maka prestasi saya berakhir pada bulan Januari 2013 ini. Ya, saya menjadi penumpang terakhir yang masuk ke pesawat (dalam sebuah penerbangan). Ya, anggap saja ini prestasi yang lain, hehe…

Di awal bulan Januari ini, saya kebetulan ada keperluan pekerjaan ke Kuala Lumpur. Dan, setelah selesai, saya kembali ke Jogjakarta (dari Jakarta). Tidak ada yang istimewa dalam hal persiapan perjalanan. Yang sedikit berbeda adalah tentang bahwa saya memutuskan untuk berangkat jauh lebih awal ke bandara. Sehari sebelumnya, saya dapat informasi kalau jalan ke arah bandara sempat terhenti karena kemacetan yang disebabkan oleh genangan air.

Akhirnya, pada sebuah hari, saya putuskan untuk berangkat mengambil jadwal penerbangan yang cukup fleksibel: pukul 19.00 dari Soekarno-Hatta. Siangnya, saya sempatkan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dari kantor di kawasan Jakarta Barat. Sekitar pukul 15.00 saya putuskan untuk berangkat menuju bandara. Normalnya, mungkin tidak sampai satu jam. Dengan menggunakan taksi, baru lima menit berjalan, saya sudah terjebak kemacetan. Sebenarnya saya cukup tenang, karena paling tidak saya punya 3 jam untuk mencapai bandara.

Setelah tersendat di beberapa lokasi, akhirnya saya sampai di bandara dan langsung melakukan check-in sekitar pukul 16.30. Saya putuskan untuk mencari makanan, sambil duduk-duduk. Karena ini adalah jadwal pulang dari perjalanan sebelumnya, jadi barang bawaan memang sedikit lebih banyak (dan lebih berat).

Sekitar pukul 17.30, saya putuskan untuk masuk ke ruang tunggu. Saya langkahkan kaki saya ke Gate 3. Saya langsung ke Gate tersebut tanpa melihat kembali boarding pass (Catat: ini kesalahan besar!). Perjalanan saya sebelumnya menggunakan maskapai yang sama, dengan jadwal yang sama. Apalagi, maskapai tersebut cuma melayani satu kali penerbangan dari Jakarta ke Jogjakarta setiap hari.

Di ruang tunggu, saya melihat banyak penumpang. Saya ambil posisi untuk duduk agak menjauh. Saya temukan tempat duduk yang tidak jauh dari colokan listrik. “Masih satu jam,” pikir saya ketika saya sempat melihat jadwal boarding. Saya buka laptop saya untuk sekadar mengetik sambil saya isi baterai. iPhone saya sempat keluarkan juga dari saku.

Sekitar pukul 18.00, ada pemberitahuan kalau penerbangan sebelum saya (dengan maskapai yang sama, cuma beda tujuan) dialihkan keberangkatannya ke Gate lainnya. Saya lihat banyak penumpang yang langsung meninggalkan ruang tunggu. Tak berapa lama, ada dua penumpang yang berlari-lari, mungkin mereka takut tertinggal.

Saya melihat saja. Hanya beberapa menit saja sejak pemberitahuan, saya yakin mereka masih punya banyak waktu. Setelah itu, saya lanjutkan aktivitas saya, tanpa terlalu melihat situasi sekitar.

Saya lihat jam, sudah pukul 18.39, dan saya tidak mendengar pengumuman/panggilan apapun. Saya amati ruang tunggu. Sepi. Sepertinya ada yang aneh…

Saya lihat kembali boarding pass saya. Saya yakin kalau waktu boarding adalah pukul 18.30. Dan… Ternyata saya menunggu di Gate yang salah! Ya, boarding bukan dari Gate 3, tapi dari Gate 7.

Sempat panik tentu saja. Jadi saya langsung saja bergegas. Laptop langsung saya bawa saja tanpa masuk tas terlebih dahulu. Boarding pass saya gigit di mulut. Tangan kiri pegang laptop, bahu bawa tas bawaan, dan ransel ada di punggung. Saya langsung lari. Baru beberapa meter, ada ground staff yang menanyakan ke saya, “Jogja?”. Saya jawab singkat sambil tetap lari, “Iya!”.

Saya lari secepat yang saya bisa. Ground staff lain yang sudah menunggu. Saya cuma tanya singkat, “Masih bisa mas?”. Petugas tersebut bilang, “Masih kok, ada penumpang lain juga yang dibelakang…” Saya berikan boarding pass saya, sambil saya masukkan laptop ke ransel. Langsung saya lari lagi menuju ke pesawat. Dan, akses menuju pintu masuk juga tidak menggunakan garbarata (aerobridge). Jadi saya tetap lari turun untuk kemudian lari menuju tangga.

Pelajaran berharga: Makanya olahraga!

Saya suka memerhatikan gerak-gerik orang ketika masuk ke pesawat. Salah satunya, ketika sudah duduk, beberapa menit kemudian sudah dalam posisi duduk yang nyaman. Sabuk pengaman pasti juga sudah terpasang. Bahkan, tak jarang yang sudah mulai membaca majalan atau buku.

Dan, ketika saya masuk saya melihat itu semua. Penumpang sudah terlihat cukup tenang. Pandangan saya langsung tertuju ke kursi. Dari pintu masuk, saya coba perkirakan tempat duduk saya. Dan, saya melihat “tatapan mata itu”. Sempat saya bercanda dalam hati, “Come on… don’t give me that look!” Haha!

Begitu sampai tempat duduk, saya langsung buka bagasi kabin untuk menyimpan tas. Semua ponsel saya keluarkan, dan saya masukkan ke saku celana. Airplane mode!

Tak lama setelah saya duduk — yang pasti saya masih mengatur napas — pintu pesawat ditutup, dan langsung menuju ke runway.

Perjalanan sendiri lancar. Sempat terjadi beberapa goncangan kecil karena memang cuaca yang sedikit gerimis. Tapi, secara keseluruhan perjalanan yang menyenangkan.

Pelajaran: Perhatikan boarding pass!

Paling tidak, kalau penasaran bagaimana menjadi penumpang terakhir dan rasanya dilihat penumpang yang sudah menunggu dalam pesawat… saya sudah tahu rasanya.¬†Kapok kalau kayak gini lagi. Cukup sekali saja :)

Hari itu, saya merasa ‘pintar’ sekali.