Pengalaman terbang dengan Citilink Indonesia

Salah satu rutinitas yang saya lakukan terkait dengan pekerjaan adalah bepergian dengan menggunakan moda transportasi udara, walaupun memang rute yang paling sering adalah hanya rute pendek yaitu Jogjakarta ke Jakarta (dan sebaliknya).

Sewaktu saya melihat arsip salah satu transaksi pengeluaran, saya menyadari bahwa dari 6 (enam) kali saya melakukan penerbangan selama dua bulan terakhir, saya menggunakan layanan maskapai Citilink Indonesia. Dari penerbangan tersebut, total saya membeli untuk 10 (sepuluh) penumpang termasuk saya sendiri selain rekan-rekan kantor. Mengapa Citilink Indonesia?

Citilink_1294812481

Rute, jadwal terbang, dan rutinitas

Alasan yang paling utama adalah terkait dengan aktivitas saya. Ketika berkunjung ke Jakarta, dalam periode tersebut saya banyak menuju ke area Jakarta Selatan. Pesawat Citilink Indonesia yang mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) di Jakarta Timur tentu sebuah keuntungan tersendiri bagi saya. Jarak yang lebih dekat (dari tujuan) otomatis sedikit mengurangi waktu perjalanan ke tujuan, disamping juga biaya transportasi (taksi).

Citilink_19481028412

Jadwal terbang yang kebetulan sesuai dengan rutinitas menjadi alasan lain. Dari Bandara Adisutjipto (JOG) di Jogjakarta, Citilink terbang pada pukul 05:55, 09:40, 13:05, dan 15:40. Kalaupun saya harus mengejar agenda pagi di Jakarta, saya bisa ambil penerbangan pertama dari Jogjakarta. Atau, jika memang agenda agak fleksibel, saya bisa memilih untuk terbang di penerbangan berikutnya.

Jadwal yang menurut saya agak “tanggung” ini menjadi keuntungan tersendiri. Sewaktu saya mendarat di Halim Perdanakusuma sekitar pukul 14:30, saya hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk menuju ke area Kemang di Jakarta Selatan karena lalu lintas yang lancar ketika masih jam kantor. Untuk menghadiri pertemuan (terkait pekerjaan) yang dijadwalkan pukul 10.00 pagi di kawasan MT. Haryono juga tidak masalah untuk berangkat dengan pesawat pertama karena jadwal masih terkejar.

Harga dan layanan

Walaupun mungkin Citilink bukan maskapai yang paling murah, kondisi bahwa harga yang dibayarkan adalah sudah termasuk dengan airport tax dan juga bagasi adalah salah satu hal yang saya suka. Dalam kondisi tertentu, saya lebih suka mekanisme seperti ini.

Oh ya, kebijakan bahwa harga tiket sudah termasuk airport tax ternyata tidak diikuti oleh Garuda Indonesia yang notabene masih satu manajemen. Sebagai catatan, Garuda Indonesia sendiri memberlakukan harga tiket yang sudah termasuk airport tax pada September 2012. Namun, kebijakan ini berakhir mulai 1 Oktober 2014 ini.

Tapi, untunglah sepertinya Citilink Indonesia tidak mengikuti kebijakan tersebut dengan tetap memasukkan airport tax dalam harga tiket pesawat.

Kalau dari sisi layanan, saya rasa Citilink juga cukup baik. Bukan yang paling mewah, namun secara umum, saya mendapatkan pengalaman perjalanan yang baik. Satu lagi, saya suka pantun yang sering diucapkan oleh kru Citilink. Ya, walaupun kadang pantunnya agak maksa (untuk selera saya), tapi secara acak saya mengamati penumpang lain banyak yang tersenyum setelah pantun selesai. Hehehe…

Citilink_1271972419274

Penundaan jadwal perjalanan

Dari seluruh total penerbangan yang pernah saya tempuh dengan Citilink sejak pertama kali saya menggunakannya sejak April 2013, seingat saya hanya dua kali mengalami penundaan. Yang pertama beberapa waktu lalu adalah dari Jogjakarta ke Jakarta, karena adanya keterlambatan pesawat yang datang. Dan, kalau tidak salah juga karena saat itu penerbangan di Halim Perdanakusuma sedang digunakan untuk keperluan terkait dengan aktivitas kepresidenan. Ya, ini risiko tersendiri karena memang Halim Perdanakusuma merupakan markas Komando Operasi Angkatan Udara  TNI AU.

Yang kedua, saat terbang dari Jakarta menuju ke Jogjakarta. Saat itu, keterlambatan (menurut informasi) adalah karena gangguan cuaca sehingga pesawat agak tertunda untuk mendarat di Jakarta.

Secara umum: suka.