Pengalaman pertama terbang bersama Citilink (Jakarta-Jogjakarta)

Jumat (19 April 2013) kemarin adalah kali pertama saya mendapatkan pengalaman terbang menggunakan maskapai Citilink. Walaupun sebenarnya dari sekian kali penerbangan — total dalam tiga bulan terakhir ini, sudah terbang total sekitar 14 kali — kebanyakan memang hanya Jogjakarta – Jakarta (dan beberapa kali Jakarta – Kuala Lumpur), tapi kebetulan mencoba beberapa maskapai penerbangan yang berbeda: Air Asia, Batavia Air, Lion Air, Garuda Indonesia, dan terakhir Citilink.

Citilink di Bandara Soekarno-Hatta (foto oleh Zamroni) Citilink di Bandara Soekarno-Hatta (foto oleh Zamroni)

Setelah Batavia Air berhenti beroperasi, alternatif untuk terbang (JOG-CGK dan sebaliknya) berkurang satu. Kabar baiknya, mulai 15 April 2013 yang lalu Citilink sebagai anak perusahaan PT Garuda Indonesia Tbk membuka rute baru Jakarta (CGK) – Jogjakarta (JOG) dan sebaliknya, setiap hari dengan jadwal penerbangan 16.10 dari CGK, dan 18.05 dari JOG. Jadwal yang lumayan cocok untuk terbang pulang ke Jogjakarta.

Pengalaman terbang saya rasa hampir sama dengan penerbangan yang lainnya. Jadwal penerbangan saya QG9321 sedikit mundur dari jadwal. Walaupun, masih dalam keterlambatan yang bisa saya terima. Sekitar pukul 16.20 saya boarding.

Saat itu, saya duduk di kursi barisan belakang (di baris 24 dari 25 baris yang ada). Di bagian belakang, saya lihat hanya ada dua (atau tiga ya?) kursi kosong. Dari sisi interior pesawat, sepertinya memang pesawat yang digunakan sudah cukup lama (terlihat dari kondisi kabin atas, dan juga monitor diatas), walaupun saya melihat kondisinya masih terawat. Tempat duduk juga cukup lega dan nyaman.

Oh ya, salah satu hal yang langsung menarik perhatian adalah pramugari yang terlihat masih muda-muda. Iya, dan mereka cakep-cakep, dan ramah. Oke, ini antara penting dan tidak penting sih. Well, penting deh… :)

Saat itu, kondisi cuaca beberapa kali terasa kurang baik. Cukup banyak goncangan kecil selama perjalanan. Dan, saya sendiri merasa ada gangguan kecil yaitu suara yang terlalu berisik. Saya kurang jelas itu suara apa, tapi seperti suara peluit yang cukup kencang. Saya tidak begitu ingat apakah saya pernah mendengar suara seperti ini dalam penerbangan-penerbangan sebelumnya. Mungkin suara ini muncul karena disain pesawat, atau karena sebab apa. Suara ini tidak muncul selama perjalanan, terasa sekali ketika setelah take-off dan akan landing.

Sudah menjadi kebiasaan saya untuk selalu memerhatikan saat pesawat mendarat di Adisutjipto, Jogjakarta. Landas pacu yang cukup pendek membuat pengalaman mendarat bisa berbeda-beda — panjang landas pacu Adisutjipto adalah 2.240 m (sumber: Wikipedia). Selama ini, saya merasakan Batavia dan Garuda Indonesia terasa lebih nyaman saat mendarat, jika dibandingkan dengan Lion Air. Mungkin faktor pilot, atau faktor pesawat itu sendiri. Dan, sore itu pendaratan Citilink di Adisutjipto saya rasakan tidak kalah nyaman. Mendarat dengan cukup mulus di landasan.

Setelah mendarat, saya langsung melanjutkan untuk mengambil bagasi. Dan, untunglah sore itu proses pengambilan bagasi berlangsung cepat.

Kesan pertama untuk penerbangan kali ini adalah baik. Dan, sepertinya akan menjadikan Citilink ke dalam salah satu alternatif kembali untuk jasa penerbangan — ya karena memang memiliki rute penerbangan yang cukup sering saya lalui.