Pengalaman Pembuatan Kartu ATM Pengganti di Bank BCA

Singkatnya, kemarin saya mendapatkan pelayanan yang baik dari Bank BCA Kantor Cabang Utama (KCU) Sudirman ketika melakukan pengurusan pembuatan kartu ATM baru. Semua proses berlangsung dengan cepat, dan petugas layanan nasabah membantu semua prosesnya. Terima kasih Bank BCA!

Saya lupa tepatnya kapan saya kehilangan buku tabungan saya. Yang pasti, sudah lama. Atau mungkin, sudah sangat lama. Jadi praktis saya hanya mengandalkan kartu ATM saya. Oh ya, untuk transaksi perbankan, saya menggunakan ATM dari Bank BCA. Saya sendiri menjadi nasabah bank ini cukup lama. Kurang tahu kapan tepatnya, tapi kalau tidak salah sekitar awal tahun 2001/2002. Sudah pernah juga mengalami kejadian kehilangan kartu ATM.

Nah, karena sudah cukup lama, jadi memang dari sisi bentuk kartu bisa dikatakan sudah jauh dari bagus. Warna sudah mulai pudar, dan bahkan lapisan plastik di kartu juga sudah mulai mengelupas. Ya, walaupun jelek kartu tersebut pernah juga kok digunakan untuk penarikan tunai di Hong Kong beberapa bulan yang lalu.

Oke, abaikan kalimat terakhir diatas. Tidak terlalu ada hubungannya dengan inti tulisan ini.

Nah, beberapa bulan ini saya tinggal di Jogjakarta — setahun sebelumnya saya kerja di Jakarta, dan sebulan sekali balik ke Jogja — dan akhirnya punya niatan untuk mengurus hal-hal administratif ini. Kebetulan saya langsung ke KCU Sudirman — bukan ke Kantor Cabang Pembantu (KCP) — yang dekat dengan rumah. Pengalaman terakhir ke KCP ini dulu adalah karena ramai dan cukup banyak antrian, dan sepertinya (saat itu) petugas layanan konsumen tidak terlalu sebanding dengan nasabah/calon nasabah yang dilayani.

Saya datang agak pagi, sekitar pukul 09.30. Ketika akan mengambil nomor antrian, saya didatangi oleh seorang petugas tentang keperluan. Saya sampaikan secara singkat dan saya diberi sebuah formulir untuk mengisi nama, nomor rekening dan keperluan. Setelah itu saya disodori nomor antrian. Tidak banyak orang yang duduk ditempat tunggu pagi itu. Tak lama kemudian, nomor antrian saya A16 disebut. Dan, saya dibantu oleh seorang petugas yang menurut nama di mejanya adalah Lia.

Saya tidak membawa surat keterangan apapun. Jadi, tidak saya bawa surat keterangan kehilangan dari kepolisian, apalagi Surat Keterangan Berkelakukan Baik. Dan, surat-surat ini juga tidak ditanyakan. Mungkin karena kartu ATM saya masih saya pegang dengan utuh ya…

Dia duduk menghadap ke barat disebelah ujung utara, tidak jauh dari teller. Baiklah, saya tidak tahu Mbak Lia ini rumahnya dimana, apalagi username Twitter atau alamat Facebook dia. Saat itu dia memakai atasan berwarna kuning dipadupadankan dengan kemeja berwarna biru.

Tunggu, itu memang seragam pegawai bank tersebut. Jadi, lupakan paragraf diatas. Kita lanjutkan saja ke topik lain. Tulisan ini seharusnya bicara tentang pengalaman saya, bukan Mbak Lia itu tadi. Iya deh, Mbak Lia itu melayani dengan ramah.

Saya sampaikan maksud saya dan saya diminta untuk menunggu sembari menunggu formulir saya diisikan. Seingat saya, saya tidak diminta untuk mengisi formulir apapun setelah itu. Cuma tanda tangan saja — yang kalau tidak salah sebanyak empat kali. Tiga buah di berkas formulir, dan satu di buku tabungan yang baru. Saya juga ditawari apakah saya ingin kartu ATM saya dengan cetakan informasi nama saya diatasnya. Tapi, karena ini butuh waktu lebih lama, jadi saya memilih untuk yang biasa saja.

“Saya hancurkan kartu ATM-nya ya…”. Saya mengiyakan,  dan tak lama kemudian kartu ATM lama saya dipotong menjadi tiga bagian. Guntingan pertama dari ujung ke arah tengah, kedua dari ujung lainnya kearah tengah, sehingga kepingan pertama berbentuk segitiga itu lepas melayang ke tempat sampah. Sisa potongan lainnya dipotong dari bawah.

Jadi total kartu tersebut menghasilkan sebuah segitiga dan (kurang lebih) dua buah potongan berbentu segi empat. Entah kenapa saya tulis ini ya? Ah, sudahlah…

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya saya melihat sebuah kartu ATM baru sudah siap. Saya diminta untuk memasukkan nomor  PIN untuk kartu baru saya tersebut. Dua kali. Dan saya diberi tahu kalau kartu ATM baru saya baru bisa digunakan untuk bertransaksi keesokan harinya. Sempat terpikir sekilas berapa duit yang ada dalam dompet ya…

Dan, selesailah semua urusan saya. Saya lupa menghitung, tapi ketika melihat jam, belum sampai jam 10.00 (waktu jam tangan saya) semua urusan sudah selesai. Saya sempat lihat buku tabungan baru dan melihat saldo terakhir. Ya, lumayan deh… Saya lanjutkan ke halaman pertama — karena beberapa transaksi terakhir juga tercetak — dan melihat baris paling atas.

Saya berkata dalam hati, “Ebuset, jadi total jumlah saldo saya (pernah) segitu?”