Pengalaman Menggunakan Layanan Uber Jakarta

Walaupun sudah cukup lama layanan taksi Uber dapat dinikmati di Jakarta sebagai salah satu pilihan moda transportasi, namun saya baru saja mencobanya sendiri dalam satu bulan terakhir. Selain Jakarta, layanan Uber di Indonesia juga dapat dinikmati di kota lain seperti Bandung dan Bali.

17613487154_f554babe7b_b

Kalau dari melihat beberapa pengalaman dari pengguna Uber, sepertinya sangat banyak yang mendapatkan pengalaman positif (dibandingkan yang negatif). Saya sendiri berdomisili di Jogjakarta, dan cukup sering harus berada di Jakarta kebanyakan untuk urusan pekerjaan. Dan, sarana transportasi seperti taksi atau bis Transjakarta merupakan pilihan moda yang sering saya pakai.

Sebelumnya, saya sudah menginstal aplikasi Uber di ponsel saya. Saat ini, aplikasi Uber dapat diunduh untuk ponsel dengan sistem operasi Android, iOS, dan Windows Phone. Proses registrasi sendiri dapat dilakukan dengan mudah, dan bagian yang terpenting adalah bahwa penumpang perlu untuk memiliki kartu kredit. Ini karena konsep Uber yang cashless, atau tidak ada transaksi dengan menggunakan uang secara langsung. Seluruh transaksi langsung dibebankan ke kartu kredit.

Memesan taksi Uber melalui aplikasi

Pemesanan dengan menggunakan aplikasi dapat dilakukan dengan mudah. Saat membuka aplikasi, kita bisa melihat apakah ada armada Uber yang tersedia dalam area disekitar kita. Sebelum kita mengkonfirmasi pemesanan, berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan:

  • Melihat ada atau tidaknya armada
  • Jika ada, maka akan diberikan informasi perkiraan kapan armada terdekat bisa sampai ke tujuan penjemputan
  • Mendapatkan informasi perkiraan tentang biaya perjalanan dari titik penjemputan sampai dengan tujuan akhir. Informasi perkiraan biaya ini bergantung kepada armada pilihan apakah uberX, atau UberBLACK

Fitur-fitur inilah yang bagi saya menjadi penentu apakah saya mau/dapat melakukan pemesanan armada Uber. Kadang, bahkan saya secara acak menggunakan fitur estimasi harga dari sebuah lokasi ke lokasi lainnya, sekadar untuk mengetahui perkiraan harga yang harus saya bayarkan.

Setelah menetukan lokasi penejemputan (dan tujuan), kita tinggal melakukan pemesanan. Aplikasi (dengan algoritma yang dimilikinya) akan mencoba mencariakan armada. Jika ada pengemudi yang merespon dan dapat melayani pesanan, maka pesan akan dikirimkan untuk memberitahu profil pengemudi.

Jika diperlukan, kita bisa langsung menghubungi pengemudi. Saya sendiri pernah menghubungi pengemudi setelah melakukan pemesanan, sekadar ingin mengkonfirmasi pesanan saya. Di lain kesempatan, pengemudi malah lebih dulu menghubungi saya dan memberitahukan tentang posisinya, walaupun saya bisa memantau juga posisi dari aplikasi Uber.

Perjalanan dan Tarif

Ketika membandingkan dengan moda lain seperti taksi dengan tarif biasa (misal: Bluebird, Express, atau yang lain), secara sekilas saya mendapati bahwa Uber lebih murah. Misalnya, dengan rute yang sama (dan kondisi lalu lintas yang sama), selisih total biaya perjalanan bisa mencapai sekitar Rp 20.000,- sampai Rp 30.000,-.

18232378412_2c8c91c8c1_h2

Konsep cashless (tanpa melibatkan transaksi dengan uang fisik secara langsung) juga merupakan hal yang saya sukai. Kalau melihat harga dari bukti transaksi yang diberikan, ada beberapa parameter yang mentukan harga yaitu: harga tarif dasar, jarak tempuh, waktu perjalanan, dan biaya tol (jika ada).

Kebetulan, salah satu perjalanan saya ada yang melewati gerbang tol. Dan, biaya tol langsung dibebankan (dan dideteksi) oleh aplikasi.

Karena informasi tersebut, ketika melewati pintu tol, saya tidak perlu menyiapkan uang untuk membayar. Pengemudi sudah menyiapkan sendiri uang pembayarannya. Saya hanya memberikan uang kepada pengemudi ketika meninggalkan area parkir dan ada biaya parkir yang harus dibayarkan.

Dari pemesanan yang pernah saya lakukan, saya mendapatkan dua jenis kendaraan yaitu Daihatsu Xenia dan Toyota Avanza.

Mobil Uber yang mengantarkan ke Bandara Soekarno-Hatta.
Mobil Uber yang mengantarkan ke Bandara Soekarno-Hatta.

Jenis kendaraan baru diketahui setelah kita mendapatkan mobil pesanan. Namun, dari beberapa kali menggunakannya, saya mendapati kalau standar pelayanan, dan kebersihan kurang lebih sama baiknya.

Pak Santo yang pagi itu mengantarkan saya ke Alam Sutera, menyapa saya dengan ramah. Ketika kendaraan sudah mulai berjalan sekitar 5 menit, beliau menanyakan ke saya apakah AC mobil sudah cukup temperaturnya. Tak lama kemudian, beliau juga memberi tahu saya tentang rute yang akan diambil dan di gerbang tol mana kami akan masuk. Bahkan, di mobil beliau, sudah disiapkan air mineral dan permen. Saya sendiri tidak mengambilnya, karena saat itu saya sudah membawa sendiri.

17651790844_5d09904b12_o

Pak Sadino yang menjemput saya untuk mengantarkan ke bandara Soekarno Hatta tak lama langsung menelpon saya, memberitahukan ke saya tentang perkiraan waktu kedatangan dan dimana posisi beliau. Dalam perjalanan, dalam obrolan ringan menjumpai bahwa beliau berasal dari Solo, Jawa Tengah. Akhirnya, kami melanjutkan obrolan dengan menggunakan bahasa Jawa. Hehe…

Setelah sampai tujuan, pengemudi menginformasikan untuk mengakhiri perjalanan. Dan, tak lama kemudian detil biaya dimunculkan dalam aplikasi, sekaligus dikirimkan melalui e-mail. Karena kadang perjalanan saya ke Jakarta untuk urusan pekerjaan, dan biaya perjalanan ditanggung oleh perusahaan, maka hal ini dapat sekaligus menjadi bukti transaksi bagi saya.

812489162841241_71827418274

Dengan beberapa kali pengalaman menggunakan layanan ini, sepertinya bisa menjadi alternatif ketika membutuhkan sarana transportasi ketika di Jakarta. Untuk kota lain dimana ada layanan Uber, saya belum pernah mencobanya. Mungkin lain kali. Oh ya, jika pertama kali menggunakan layanan ini, dan ingin mendapatkan potongan Rp 75.000,- untuk perjalanan pertama, bisa menggunakan kode referal saya yaitu uberthomasarie, atau bisa melalui tautan uber.com/invite/uberthomasarie

Catatan: tulisan diatas merupakan pendapat dan pengalaman saya pribadi ketika menikmati layanan Uber pada bulan Mei 2015.