Pengalaman Makan di Holycow! Steakhouse Jogja dan Sedikit Tentang (salah satu) Vouchernya

Kemarin (21 20 Januari 2014), saya bersama dengan beberapa teman kantor mencoba untuk menikmati santapan di salah satu restoran steak di Jogja. Holycow! Steakhouse yang berada di area kompleks Hotel Grand Aston, Jl. Urip Sumoharjo.

Tentang restoran ini, sebenarnya saya sudah cukup sering mendengarnya. Cukup populer untuk diperbincangkan, dan saya banyak mendengar tentang kualitas rasa dan masakannya. Namun, dari berkali ke Jakarta, saya belum pernah mampir untuk mencicipi. Sampai akhirnya tadi malam saya mencobanya.

Terus terang, saya bukan penggemar steak. Bukan tidak doyan, tapi tidak terlalu menggandrungi jenis makanan ini. Jadi, saya tidak terlalu banyak memiliki ekspektasi. Dan, setelah pulang kerja, saya bersama tiga orang rekan kerja memutuskan untuk mencoba makan di sana. Oh ya, dua dari kami (Linggar dan Yudan) kebetulan memperoleh sedikit keberuntungan dengan memiliki dua buah voucher potongan harga.  Cerita tentang bagaimana mereka mendapatkan voucher bisa dilihat di tulisan teman saya.

Sekitar pukul 20.00 rombongan kecil kami datang. Saya amati sekeliling, suasanya enak. Mungkin sekitar 40% meja terisi saat itu. Ada bagian yang tertutup oleh bangunan permanen, dan ada juga area yang semi outdoor (terpasang tenda disana). Mungkin karena memang sedang musim hujan — dan kemarin memang kami datang setelah hujan selesai –, atau ini merupakan konsep dekorasi permanen. Saya kurang tahu. Ambience-nya menarik. Saya suka.

Setelah memilih tempat duduk, kami lanjutkan melakukan pemesanan.  Saya sendiri memesan Sirloin Big Bites, dengan saos barbeque, bayam, dan kentang goreng.

12064190113_69a0bfbcec_b

Karena sekaligus ingin menggunakan voucher, kami menanyakan kepada pramusaji yang melayani kami. Kemudian, pramusaji tersebut sepertiya meneruskan informasi ini kepada yang (mungkin) berwenang/mengurusi hal redeem voucher.

Tidak ada yang istimewa dengan hal ini. Ada sedikit proses validasi, walapun sejak kali pertama saya tahu bahwa teman-teman saya mendapatkan voucher ada beberapa pertanyaan dalam hati. Bahkan, sampai dengan saya melihat lebih detil tentang voucher (yang di cetak sendiri dari hasil kiriman surel), saya masih ada pertanyaan, “Lho, lha validasinya bagaimana? Yang menunjukkan bahwa itu vouchermu mana?”

Dua teman saya menunjukkan print-out voucher. Kemudian dilanjutkan dengan menunjukkan isi surel tentang pemberitahuan/pengiriman voucher melalui ponsel mereka. Sampai ada terjadi:

  • Nama salah satu teman saya ternyata sudah memiliki tanda tangan. Dan, ini bukti bahwa seseorang telah me-redeem voucher tersebut. Saya yakin teman saya tidak begitu iseng (ada niatan memermalukan diri sendiri dengan datang dua kali menggunakan voucher).
  • Tanda tangan yang tertera bukan tanda tangan teman saya. Tapi, disitu memang tidak tertera kapan voucher tersebut di-redeem. Sedangkan, saat itu baru kali pertama teman saya datang ke sana.

Ada sedikit diskusi — kalau saya tidak sebut sebut sebagai perdebatan — saat itu. Intinya, tidak ada solusi. Teman saya merasa belum menggunakan voucher tersebut, pihak Holycow! merasa bahwa voucher atas nama teman saya tersebut tidak valid lagi. Mungkin, hanya Tuhan yang tahu siapa yang benar, siapa yang sial, dan siapa yang nakal saat itu.

Saya tidak ingin merusak suasana dan niat bahwa ingin datang untuk mencicipi makanan. Akhirnya, saya sampaikan saja bahwa ya sudah, tidak perlu diperpanjang. Jika memang hanya satu voucher yang diterima, maka satu itu saja yang dipakai. Saya cuma tidak mau gara-gara ini jadi berkepanjangan.

Membagikan voucher dalam rangka promosi memang sudah menjadi hal umum. Dan, dari penyelenggara hadiah, ini jelas sudah masuk dalam penghitungan biaya tersendiri. Saya tidak tahu berapa voucher yang dibagikan dalam promosi tersebut. Dan, (semoga) kejadian yang saya tuliskan diatas hanya terjadi sekali saja. Ya, hal seperti ini bisa terjadi, tapi bukan tidak mungkin untuk diantisipasi. Toh, pada akhirnya ingin membuat konsumen (baik new customers, maupun returning customers) menjadi senang, bisnis juga lancar.

Membagikan voucher adalah satu hal. Tapi, bagaimana hal tersebut dikelola sampai dengan proses akhir (redeem, bahkan sampai dengan kalkulasi), merupakan hal yang lain. Kalau menurut saya, hal tersebut bisa diantisipasi dengan beberapa cara:

  • Buat kode unik untuk masing-masih voucher yang dipegang baik oleh penerima atau pembuat voucher. Keunikan yang membedakan bisa bermacam-macam. Mulai dari nama, nomor acak, atau yang lainnya.
  • Catatan informasi lainnya baik ketika voucher didistribusikan sampai dengan saat redeem. Misal tanggal, siapa penerimanya, identitas yang me-redeem. Intervensi manusia dalam melakukan pengecekan tentu saja bisa dilibatkan.

Saya rasa, apapun itu — bahkan untuk sesuatu yang gratis — jika ada sebuah mekanisme atau aturan main yang jelas, masalah dapat diminimalisir. Konsumen adalah raja, tapi bukan berarti (tidak selalu) konsumen juga ingin menang sendiri dan harus dimenangkan.

Kembali soal pengalaman makan. Saya sendiri mengalami pengalaman yang positif — dan sepertinya teman-teman saya juga mendapatkan pengalaman yang sama. Apakah akan datang lagi? Ya, mungkin saja. Kenapa tidak?

2 Comments