Mau Pakai TV Kabel?

Kemarin siang, dapat nomer telpon yang menawarkan tentang layanan TV kabel. Kalau tidak salah tangkap, sepertinya dari yang saya dengar, data nomor telpon dapat dari Speedy deh — ya, saya pelanggan Telkom Speedy. Intinya menawarkan kalau ada paket berlangganan TV kabel, dengan biaya paling murah Rp 125.000,- per bulan. Lupa juga tadi itu untuk berapa kanal.

Sempat tertarik sih, tapi sepertinya jadi males juga. Dengan televisi yang saat ini hanya menangkap siaran televisi lokal Indonesia saja sudah jarang banget nonton TV, apakah kalau nambah kanal siaran malah jadi lebih hobi nonton TV? Waduh, ini yang saya malah ndak mau. Nonton TV terus, malah gak kerja nanti. Repot.

Eh iya, ketika saya tanya apakah (misal saya ikut berlangganan) pembayaran bisa jadi satu dengan Telkom Speedy, ternyata terpisah. Seperti tidak ada hubungan dengan Telkom. Lalu, bagaimana mereka tahu tentang nomor telpon saya? Dari Telkom, atau bukan?

Isu Tsunami dan Kepanikan Gempa Jogja 2006

Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya: Sekelumit Cerita Setelah Gempa Bantul/Jogja tahun 2006.

Entah dari mana isu adanya tsunami berawal. Yang pasti, rumor tentang adanya tsunami ini benar-benar membuat suasana menjadi sangat kacau. Ada sempat keraguan bahwa tsunami benar-benar terjadi. Tapi, keadaan panik mengalahkan akal sehat saya, dan mungkin ratusan (atau bahkan ribuan) orang yang saat itu juga sedang sangat panik. Dari arah selatan, kendaraan melaju kencang. Motor, mobil bahkan truk dengan lampu menyala bergerak cepat ke utara. Saat sampai di perempatan jalan utama, ada dua orang polisi lalu lintas yang sedang mengatur arus kendaraan.

Salah seorang polisi berusaha untuk menenangkan dengan menyebutkan bahwa tidak terjadi tsunami. Petugas yang satunya lari dari tengah jalan, menuju ke pos jaga. Entah ingin memberitahukan tentang kepanikan yang baru terjadi, atau ikut berusaha menyelamatkan diri, entahlah…

2006_tsu_1

Warga dan kendaraan yang semula hanya berdiri dan berhenti di pinggir jalan menjadi ikut panik dan segera melarikan kendaraan masing-masing. Yang kebetulan sedang berjalan, berusaha memberhentikan kendaran lain untuk bisa menumpang. Gambaran keadaan yang terjadi kurang lebih sama seperti yang terlihat di televisi beberapa saat setelah gempa.

Lanjutkan membaca →

Sekelumit Cerita Setelah Gempa Bantul/Jogja tahun 2006

Sudah hampir satu minggu, peristiwa gempa di Padang, Sumatera Barat berlalu. Turut berduka cita bagi para korban dan juga keluarga yang mendapatkan musibah. Ketika pertama kali melihat tayangan televisi, dan juga informasi lanjutan tentang gempa tersebut, langsung saya teringat tentang apa yang melanda kota Bantul dan Jogja (dan beberapa wilayah lainnya) pada saat terjadi gempa besar tahun 2006 yang lalu.

Saya tidak akan membandingkan tentang mana yang lebih parah. Satu hal yang pasti, tidak ada yang menginginkan terjadinya bencana tersebut. Walaupun sudah lebih dari tiga tahun setelah gempa tersebut, saya pribadi masih merasakan perasaan trauma, karena keluarga saya juga menjadi salah satu korban. Saya merasa sangat bersyukur (dan beruntung), karena harta yang paling bernilai — nyawa kami sekeluarga — masih kami miliki. Sesaat setelah gempa, ayah saya pernah bilang, “Uwis, rapopo. Sing penting kabeh slamet… (Sudah tidak apa-apa, yang penting semua selamat).

Lanjutkan membaca →

Telkom Flexi Putus Sambung

Sudah dua hari terakhir ini, saya mengalami beberapa masalah dengan penggunaan jalur komunikasi dengan Telkom Flexi. Kejadiannya, setiap beberapa menit (kurang dari lima menit), koneksi tiba-tiba terputus. Saya melakukan sambungan telepon ke nomor Flexi yang lain.

Ketika saya menerima telepon — dari nomor Flexi yang lain — hampir selalu terjadi kasus yang sama. Apakah karena pengaruh lokasi? Saya rasa tidak. Lokasi rumah saya bukan di daerah yang (saya yakin) minim jaringan. Berada di tengah kota. Bahkan, beberapa puluh meter dari tempat saya ada STO milik Telkom. Ya, saya tahu, ini mungkin memang tidak berhubungan.

Saya tidak terlalu peduli dengan promo tarif murah yang ditawarkan baik oleh Telkom Flexi atau operator lainnya, karena aktivitas penggunaan telepon saya juga tidak terlalu tinggi. Lha makin murah tarif tapi layanan makin buruk? Memang beginilah seharusnya?

Masih tentang Keterlambatan Kereta Api Gajayana Jurusan Jakarta

Perjalanan dengan menggunakan kereta api Gajayana yang mengalami keterlambatan lebih dari lima jam dari jadwal yang ditentukan harus saya lalui. Ini bukan sebuah pilihan. Suka atau tidak, mau tidak mau, harus saya terima. Keadaan yang mengharuskan saya ambil kereta malam — pengennya pakai Taksaka Malam. Kedatangan kereta di Stasiun Tugu sudah mengalami keterlambatan sekitar 30 – 60 menit. Ada yang berbeda kali ini. Disamping tempat duduk ada colokan listrik! Dalam perjalanan menggunakan kereta, satu hal yang mengganggu adalah ketika handphone kehabisan baterai. Ya, karena handphone mungkin jadi satu-satunya teman dalam perjalanan. Apalagi kalau perjalanan sendiri dan tidak menemukan teman mengobrol.

Kira-kira pukul 06.00, kereta berhenti. Saya baru saja terbangun dari tidur sebentar. Ah, sudah jam 6, berarti tidak lama lagi sudah memasuki Jakarta. Ternyata perkiraan saya salah. Kereta berhenti tidak tahu dimana. Akhirnya, saya keluar dari kereta — karena banyak penumpang melakukan hal yang sama. Diluar, sempat juga jadinya ngobrol dengan penumpang yang lain. Semua kurang lebih mengeluhkan hal yang sama: jadwal berantakan. Mulai dari yang harus masuk kantor, ketemu orang, menyelesaikan pekerjaan dan lain-lain. Sedangkan saya, sudah pasti jadwal yang sudah saya atur bersama dengan teman saya juga harus berubah.

Lanjutkan membaca →

Pengalaman Mencari Tiket Kereta Api

Minggu lalu, saya pergi ke Jakarta untuk sebuah keperluan. Setelah mempertimbangkan jadwal dan agenda (yang kebetulan saat itu sedang cukup sibuk), saya memutuskan untuk menggunakan jasa kereta api. Awalnya, saya berencana menggunakan pesawat terbang, tapi harga tiket saat itu sedang kurang bersahabat. Apalagi, kalau saya harus menggunakan pesawat pagi, sebuah perjuangan tersendiri nantinya.

Untuk mendapatkan tiket kereta api, tidak semudah yang dibayangkan. Ya, seharusnya memang mudah, karena tinggal menuju loket pembelian tiket di Stasiun Tugu Yogyakarta, antri, bayar… selesai. Waktu itu saya menunggu kurang lebih 100 antrian. Cukup panjang dan lama juga, karena loket yang melayani pembelian hanya dua (dari 5 atau 6 yang ada). Setelah tiba giliran saya, pemesanan tiket saya tidak dapat diproses dengan alasan sistem sedang offline. Nah loh! Sudah antri lebih dari satu jam, tidak bisa. Menyebalkan!

Ternyata, sistim (atau sistem?) yang sedang offline hanya jadwal kereta api Gajayana (yang ingin saya gunakan). Saya tanya, kira-kira kapan bisa memroses pesanan tiket, ternyata tidak ada jawaban pasti. Ya, petugas tidak dapat memastikan. Oh ya, ini pengalaman pertama menggunakan kereta api Gajayana, karena biasanya saya gunakan Taksaka Malam. Saya sempat agak panik. Akhirnya, saya putuskan untuk beli saja lewat jasa agen. Kebetulan di loket tersebut ada informasi tentang agen tiket. Saya coba keberuntungan saya untuk menelpon salah satunya. Melalui telepon, saya diberitahu kalau sistim sedang tidak bekerja, alias offline. Ternyata, agen tiket tersebut lokasinya tidak jauh dari rumah. Akhirnya saya pesan ke petugas agen kalau saya mau (dan pasti!) pesan tiketnya dan minta diberitahu kalau sistim sudah beroperasi kembali.

Tidak lama kemudian, saya mendapatkan telepon dari agen tiket tersebut yang memberitahukan bahwa tiket bisa dipesan. Langsung saya minta di-book-kan untuk saya. Singkatnya, saya mendapatkan tiket saya tersebut hari itu juga, dengan tambahan biaya Rp. 10.000,00. Ah, kalau tahu seperti ini, mendingan dari awal saya beli lewat agen! Menurut jadwal, kereta api akan berangkat pukul 23.33 dan sampai di Stasiun Gambir pukul 07.15. Tapi, yang namanya jadwal kan itu rencananya. Kenyataannya, saya baru sampai di Stasiun Gambir sekitar pukul 13.00! Gila!

Pembayaran Tagihan Telkom Speedy Melalui ATM BCA

Dua hari yang lalu saya berencana untuk membayar tunggakan tagihan koneksi internet Telkom Speedy melalui ATM. Memang ini baru kali pertama saya melakukan pembayaran Telkom Speedy, karena memang baru sekitar 1 bulan menggunakannya. Untuk masalah kualitas akses internet, saya belum menemukan kendala yang berarti. Paling tidak, kuota saya sudah hampir habis untuk bulan Juli ini. Oh ya, saya menggunakan Speedy Multi Speed paket Family.

Jadi, waktu itu saya sekaligus membayar tagihan-tagihan lainnya (telepon rumah dan listrik). Ketika saya sudah memasukkan nomor pelanggan Telkom Speedy, saya mendapati jumlah tagihan dan nama pelanggan yang benar. Nah, sewaktu akan melanjutkan ke proses pembayaran, saya mendapatkan respon bahwa transaksi pembayaran tidak dapat diproses. Waduh! Saya coba sekali lagi, tidak berhasil juga. Coba lagi, sekali lagi, tidak berhasil juga.

Akhirnya saya urungkan niatan saya untuk membayar melalui ATM. Siapa tahu lain hari bisa dilakukan.

Hari ini, akhirnya mencoba telepon teman saya yang sama-sama menggunakan layanan Telkom Speedy, dan saya tanyakan tentang proses pembayaran. Saya mendapatkan informasi kalau ternyata memang pembayaran tagihan belum bisa dilakukan melaui ATM. Saya juga tidak tahu, apakah ini hanya terjadi di Jogjakarta, atau juga di daerah/kota lainnya.

Ya… berarti memang besok harus bayar langsung.

Berkas Rekaman Audio Debat Capres dan Cawapres Pemilu 2009

Hari pemilihan presiden dan wakil presiden Pemilu 2009 sudah berlangsung beberapa hari yang lalu. Saya akhirnya memutuskan juga untuk menggunakan hak suara saya. Bagi saya, ini pertama kalinya saya menggunakan hak pilih saya. Yang pemilu legislatif kemarin saya putuskan untuk tidak ikut memilih. Karena tidak tahu siapa yang harus saya pilih.

Nah, kebetulan dalam rangkaian proses Pilpres ada acara debat di televisi. Menarik sih, not bad-lah untuk model seperti ini, apalagi belum pernah diselenggarakan sebelumnya. Saya juga akhirnya merekam acara tersebut, namun hanya dalam format audio. Alasannya ini lebih ekonomis dan lebih mudah dilakukan, dibandingkan dengan merekam audio dan videonya.

Dari total 5 (lima) debat yang dilaksanakan, hanya debat ke-4 saja yang saya lewatkan. Ini juga karena kebetulan saya tidak dirumah. Debat ke-4 tersebut adalah debat cawapres periode kedua. Kalau misal ada yang mau meng-unduh berkas audio-nya, berikut ini adalah daftar berkasnya.

Lanjutkan membaca →

Pertanyaan untuk capres dan cawapres

Setelah melihat dan mendengarkan acara debat pertama para calon presiden untuk pemilu presiden mendatang, saya jadi punya pertanyaan untuk masing-masing capres (dan mungkin cawapres).

Pertanyaannya adalah: “Bagaimana menurut Anda (capres dan cawapres), kelebihan yang dimiliki oleh capres dan cawapres lainnya?”.

Ya, mungkin ini pertanyaan yang sangat kecil kemungkinannya untuk dilontarkan. Tapi, jujur saja saya penasaran dengan jawaban dari masing-masing capres dan cawapres. Yang sering terjadi adalah mencari kelemahan lawan politik. Mencari segala kejelekan, yang semoga dengan ini akan membuat mereka (tampak) lebih baik.

Tapi, dengan berani secara terbuka memberikan pendapat tentang kebaikan pihak lain diluar diri mereka sendiri, toh itu juga akan berpeluang untuk memperlihatkan kelebihan mereka juga.

Eh, nggak juga ya? Tapi, kira-kira kalau pertanyaan semacam ini diajukan, kira-kira jawabannya bagaimana ya?

Boediono Mendengar (di Jogjakarta) Tanpa Boediono

Minggu kemarin, saya memutuskan untuk datang di acara Boediono Mendengar di Jogjakarta. Saya datang ke acara ini setelah tahu informasi dari blog Ndoro Kakung. Informasi awalnya, acara yang bertajuk Boediono Mendengar – Kopdar Netter, akan berlangsung Joglo Melati, daerah Sleman. Namun, informasi terakhir katanya tempat acara diubah ke Angkringan Yayasan Umar Kayak (YUK). Alasan pemindahan tempat sih tidak begitu tahu pasti, saya cuma dengar dari beberapa obrolan kecil saja…

Saya datang ke lokasi mungkin terlalu awal, tapi paling tidak sesuai dengan informasi agendanya. Persiapan — terutama keamanan — cukup banyak, bahkan ada mobil gegana juga (yang rencananya mau saya ambil gambarnya, tapi malah lupa). Saya tidak tahu apakah ini berlebihan atau tidak, tapi kalau memang standar persiapan untuk event semacam ini, apalagi menyangkut ‘orang penting’, ya tidak apa-apa lah… Toh intinya biar aman terkendali.

Setelah menunggu cukup lama, acaranya akhirnya dimulai. Dan, kabar pertama yang disampaikan adalah bahwa Bapak Boediono tidak jadi datang. Walah… Padahal kehadiran beliau yang menjadi magnet bagi warga yang hadir disana. Untungnya, saya tidak berhasil menghubungi saudara saya yang rumahnya dekat dengan tempat tersebut.

Acara yang mungkin menjadi kesempatan bagi warga untuk bertatap muka dan mengenal Pak Boediono berubah menjadi obrolan seputar blog Pak Boediono. Ya, memang salah satu agendanya adalah tentang soft launching blog beliau. Tapi, karena beliau tidak jadi datang, ya acara diskusi tentang blog tersebut menjadi agenda utama. Hasilnya, mungkin acaranya ini hanya menarik bagi beberapa orang saja.

Alasan ketidakhadiran beliau (menurut saya) bisa diterima. Karena padatnya jadwal beliau di hari tersebut dan ditambah lagi agenda sebelum dan setelah hari berikutnya yang cukup padat, membuat kondisi fisik sepertinya tidak mengijinkan. Alasan lain? Wah saya tidak tahu juga. Acara tidak populer? Mungkin saja. Audiens sedikit? Bisa jadi.

Bahasa dan Rasa

“…bahasa itu cuma masalah rasa. Yang tersirat tidak selalu yang tersurat, tapi carilah yang tersirat itu melalu yang tersurat. Rasakan makna dari email Ibu Prita, saya yakin RSOI bisa merasakannya.”
Ruth Wijaya, tentang Ibu Prita Mulyasari dan RS Omni Internasional.