Apa Kabar Indonesia tvOne

Setelah nonton Perspektif Wimar — kalau sempat — biasanya saya lanjutkan dengan nonton Apa Kabar Indonesia di tvOne. Untuk acara Apa Kabar Indonesia sendiri, beberapa waktu terakhir ini pemandu acara sedikit lain dari biasanya. Kalau biasanya Indy Rahmawati (Indy) dan Iwan Ahmad Sudirwan, sekarang posisi Iwan Ahmad Sudirwan sedang digantikan oleh Alfito Deannova (Fito).

apa kabar id tvone

Menurut pendapat pribadi saya, sepertinya Indy dan Fito ini memang pasangan yang cocok. Mungkin Pak Iwan Ahmad memang lebih senior dibandingan dengan Fito atau Indy. Saya merasa kalau keduanya bisa kompak (paling tidak terlihat lebih kompak), jika dibandingkan dengan ketika Indy bersama Iwan. Maaf ya pak Iwan, ini pendapat pribadi saya saja lho… Toh sepertinya Indy, Fito maupun Pak Iwan tidak baca blog ini, Hehehe.. Walaupun memang saya lebih tertarik dengan topik-topik yang diangkat dipagi hari. Dengan atmosfir yang santai dengan isu yang memang sangat current, acara ini mampu memberikan informasi yang sangat menarik. Acara bincang-bincang berlangsung dengan teratur, sehingga esensi dari isu yang sedang diangkat dapat digali dengan lebih dalam. Ini yang paling saya suka.

Entah host untuk acara ini nanti akan kembali lagi seperti sebelumnya atau tidak. Kalaupun iya, saya sih akan tetap nonton kalau bisa… daripada nonton infotainment. :P

Kipas Bambu

Kipas Bambu (by Orangescale)

Minggu lalu, sewaktu jalan-jalan di Malioboro, kebetulan menjumpai penjual kipas dari bambu. Yang membedakan — selain karena lokasi berjualan — adalah bahwa ini adalah kipas yang mungkin lebih pantas dipakai untuk membakar sate. Awalnya tidak terlalu tertarik, tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya perlu juga. Beberapa hari ini, memang cuaca cukup panas. Daripada pakai kipas angin, mendingan pakai kipas yang ini saja. Ya, sekalian olah raga. :P

Waktu saya tanya harganya, bapak penjual yang sudah cukup tua itu menjawab kalau harganya Rp. 1.500,- saja. Hah? Murah banget! Tanpa pikir panjang, beli dua. Sekalian saja ini hitung-hitung sebagai penglaris. Akhirnya saya beli dua kipas seharga Rp. 5.000,-.

Seribu lima ratus rupiah. Saya sendiri tidak habis pikir kenapa bisa dijual dengan harga “semurah itu”. Padahal, untuk membuatnya, saya yakin butuh ketrampilan dan ketelatenan. Saya sendiri kalau dikasih duit lebih banyak untuk bikin satu kipas, belum tentu bisa. Apalagi, hasilnya juga cukup bagus. Waktu pulang, mungkin saya — bersama Lala — dilihatin orang juga, karena kipas langsung saya bawa. Tanpa plastik pembungkus. Heheheh… Waktu nunggu bis untuk pulang, sempat juga dikira bahwa ini untuk bikin sate.

Seribu lima ratus…

Tarif Makin Murah, Layanan Makin Parah?

Beberapa minggu ini, saya mengalami cukup banyak masalah yang terjadi menyangkut sarana komunikasi telepon selular. Memang di berbagai media promosi tentang persaingan tarif antar operator layanan komunikasi makin gencar, tapi kok sepertinya makin gencar pula masalahnya ya?

proxl

Saya pengguna kartu prabayar Pro XL, sampai saat ini belum tertarik untuk pindah ke provider lain, karena alasan kepraktisan. Nomor XL ini menjadi nomor saya yang saya beli pertama kali beberapa tahun lalu. Pernah kejadian –cukup lama, dimana saya benar-benar ingin ganti ke penyedia layanan lain. Waktu itu, didaerah saya sinyal kuat, tapi jangankan untuk telepon, untuk SMS saja tidak bisa sama sekali. Adik saya yang saat itu menggunakan kartu XL juga mengalami hal yang sama. Bahkan, ketika kebetulan mengobrol dengan tetangga depan rumah, dia mengalami hal yang sama. Tapi, masalah ini hanya terjadi dalam radius beberapa ratus meter saja.

Kalau misalnya saya sedang keluar rumah dan berada kurang lebih 300 meter dari tempat saya, nomor bisa digunakan dengan lancar. Waktu itu, kejadian berlangsung selama kurang lebih 3 hari. Mungkin saking dodolnya, waktu itu saya sempat paksakan keluar rumah hanya untuk sekadar kirim SMS. Doh!
Continue reading →

Apa kabar Visit Indonesia Year 2008?

Tulisan Mas Iman Brotoseno yang membahas tentang sebuah kondisi paranoid justru mengingatkan saya kepada satu hal yang sekarang ini gaungnya entah kenapa menjadi surut. Atau, saya sendiri yang kurang informasi ya? Betul, dalam entrinya, salah satunya disinggung tentang Visit Indonesia Year 2008 (VIY 2008). Memori otak saya tiba-tiba tergelitik dengan istilah ini. Visit Indonesia Year atau tahun kunjungan wisata.

Saya sebagai warga Jogjakarta, tidak melihat tanda-tanda bahwa ada sebuah agenda besar di tahun ini. Kita lihat saja salah satu contoh. Di Jogjakarta, saya baru menemui logo VIY 2008 di beberapa tempat. Pertama di halte bis Trans Jogja yang ada di ujung utara Jl. Malioboro. Itupun hanya sebatas stiker yang ada di dinding kaca. Bahkan, penempelannya saja sepertinya miring. Besok ambil gambarnya ah!

Yang kedua, salah satu hotel di sebelah timur kawasan Malioboro yaitu Hotel Melia Purosani. Ada sebuah papan besar bahwa Indonesia (dan Jogja pada khususnya) sedang punya gawe. Selain itu, belum melihat lokasi lainnya.
Continue reading →

Perspektif Wimar di ANTV 28 Maret 2008: Blokir Situs Porno

Setelah nonton Perspektif Wimar episode 2 tanggal 25 Maret yang lalu, hari ini punya kesempatan lihat lagi dengan topik yang sangat menarik. Tapi, tetep saja kok kayaknya kurang ya waktunya. Bu produser (eh, bener ibu kan ya?), tambah waktunya donk! :D

Kebetulan, tamu juga seorang menteri yaitu Pak Mohammad Nuh, dengan co-host Wulan Guritno. Untuk diskusinya — dibandingkan dengan episode lalu tentang imigrasi — jelas kali ini diskusi lebih menarik. Pak M. Nuh sendiri mampu memberikan argumentasi yang menurut saya sangat baik; terlepas dari bahwa apa yang disampaikan tetap akan bisa menjadi sebuah isu yang akan terus dibahas dan memunculkan pro dan kontra.

Nah, kalau misalnya kebetulan ada yang tidak nonton, tapi ingin tahu apa yang didiskusikan, saya sudah coba merekam dan meng-upload berkas audionya. Silakan mengunduhnya.

Berkas audio Perspektif Wimar ANTV, 28 Maret 2008. Format: .ogg, ukuran berkas: 13.1 MB.

Update: Durasi berkas audio adalah 21 menit, 47 detik, tanpa penyuntingan kecuali untuk bagian iklan yang dihilangkan. Jangan lupa juga kunjungi Perspektif Online untuk topik ini.

Berkurang satu pohon mangga

Di rumah tempat saya tinggal, ada beberapa pohon yang cukup besar dan produktif. Dulu ada pohon sawo, rambutan, duku, cengkeh, nangka, kelapa gading dan beberapa lainnya. Kalau tidak salah pohon sawo dan dulu tersebut usianya malah lebih tua dari saya, tapi dulu masih produktif. Beberapa pohon akhirnya ditebang. Pohon sawo yang cukup besar — dulu kalau panen, yang mengangkut sampe 2 andong — akhirnya ditebang, karena buah sering jatuh di genteng yang mengakibatkan banyak genteng yang pecah. Kalau musim berbuah dan disaat yang sama juga musim hujan, repot sekali.

Pohon duku dan cengkeh akhirnya juga ditebang dengan pertimbangan karena kedua pohon tersebut tidak produktif lagi. Saat ini, yang paling banyak jumlahnya adalah pohon mangga. Ada lima pohon mangga. Yang satu belum mulai berbuah, tapi yang lain, kalau soal berbuah, tidak diragukan lagi rasa dan banyaknya. Pohon rambutan dan kelapa gading juga masih produktif. Kelapa gading yang ada dirumah lebih sering dimanfaatkan oleh tetangga. Kurang tahu untuk apa, tapi beberapa kali banyak tetangga yang minta. Untuk urusan ini, tidak ada alasan untuk bilang tidak boleh.

Kemarin, satu pohon mangga akhirnya dengan terpaksa ditebang. Continue reading →

Perspektif Wimar di ANTV 25 Maret 2008: Salah sendiri!

Setelah melewatkan tayanan perdana Perspektif Wimar di ANTV kemarin tanggal 24 Maret 2008, akhirnya tadi pagi sempat nonton juga. Kesan pertama — saat Wimar bermonolog — sepertinya acaranya akan seru. Dan, ternyata memang seru! Hari Selasa (25 Maret) kemarin, topik yang diusung adalah tentang masalah keimigrasian dan Hak Asasi Manusia (HAM) dengan tamu Dewi Sandra dan Menteri Hukum dan HAM Andi Matalatta. Untuk liputannya, Perspektif Online sudah merangkumnya.

PW 25mar

Oh ya, Dewi Sandra terlihat cantik, dan WW pasti sangat setuju ini… :D

Selain obrolan yang menarik, ada pula bagian yang lebih seru sekaligus — bagi saya — menggelitik. Memang terlihat bahwa Andi Matalatta terlihat banyak “diserang”, tapi ternyata mensikapi dengan argumen yang bagi saya kurang asyik. Banyak pertanyaan atau argumen yang selalu dijawab dengan menempatkan bahwa masyarakat (dalam konteks ini adalah Dewi Sandra) adalah pihak yang ‘salah’. Belum ketika menanggaapi soal sosialiasi dan juga oknum keimigrasian, seperti yang disampaikan oleh Dewi Sandra. “Siapa bilang dan seterusnya…” seperti menjadi kalimat sakti. Dan kayaknya WW dan Dewi Sandra juga agak kaget mendapati jawaban yang demikian dari Pak Andi. Duh!

Catatan: Gambar diambil dari Perspektif Online. Kalau tidak salah, Dewi Sandra dalam gambar tersebut menunjuk WW, sebagai ungkapan menyetujui yang disampaikan WW tentang masalah sosialisasi peraturan/informasi tentang keimigrasian deh… CMIIW. Tadi sempat iseng untuk merekam audio-nya, tapi lupa belum di simpan. Ada yang punya? Saya lupa simpan karena terburu-buru mematikan komputer. Salah siapa nih… Mmm.. salah sendiri!

Salah satu perbandingan Blogger dan WordPress

Para pengguna WordPress tergolong banyak yang sombong di bandingkan dengan Blogger meskipun hanya beberapa saja, kenapa demikian? Silahkan Anda buktikan sendiri minta link Exchange ke blog Bayumukti.com. Jika Anda bukan celebrity blog sampai nangis darah pun ga bakalan di link back. Sedangkan para pengguna Blogger senantiasa bertukeran link telah terbukti di kolom-tutorial. sumber

Marketing and Religion

I am a marketer, but also a Catholic. From my opinion, marketing has been used unwisely in promoting religions. Marketing should not be used to promote the church, but deeper than that, it should be used to “market” the good values found in a religion. The values of goodwill, helping others, loving thy neighbors, etc are something that should be communicated, and not the physical church itself. Hermawan Kartajaya