Masih tentang Keterlambatan Kereta Api Gajayana Jurusan Jakarta

Perjalanan dengan menggunakan kereta api Gajayana yang mengalami keterlambatan lebih dari lima jam dari jadwal yang ditentukan harus saya lalui. Ini bukan sebuah pilihan. Suka atau tidak, mau tidak mau, harus saya terima. Keadaan yang mengharuskan saya ambil kereta malam — pengennya pakai Taksaka Malam. Kedatangan kereta di Stasiun Tugu sudah mengalami keterlambatan sekitar 30 – 60 menit. Ada yang berbeda kali ini. Disamping tempat duduk ada colokan listrik! Dalam perjalanan menggunakan kereta, satu hal yang mengganggu adalah ketika handphone kehabisan baterai. Ya, karena handphone mungkin jadi satu-satunya teman dalam perjalanan. Apalagi kalau perjalanan sendiri dan tidak menemukan teman mengobrol.

Kira-kira pukul 06.00, kereta berhenti. Saya baru saja terbangun dari tidur sebentar. Ah, sudah jam 6, berarti tidak lama lagi sudah memasuki Jakarta. Ternyata perkiraan saya salah. Kereta berhenti tidak tahu dimana. Akhirnya, saya keluar dari kereta — karena banyak penumpang melakukan hal yang sama. Diluar, sempat juga jadinya ngobrol dengan penumpang yang lain. Semua kurang lebih mengeluhkan hal yang sama: jadwal berantakan. Mulai dari yang harus masuk kantor, ketemu orang, menyelesaikan pekerjaan dan lain-lain. Sedangkan saya, sudah pasti jadwal yang sudah saya atur bersama dengan teman saya juga harus berubah.

Lanjutkan membaca →

Pengalaman Mencari Tiket Kereta Api

Minggu lalu, saya pergi ke Jakarta untuk sebuah keperluan. Setelah mempertimbangkan jadwal dan agenda (yang kebetulan saat itu sedang cukup sibuk), saya memutuskan untuk menggunakan jasa kereta api. Awalnya, saya berencana menggunakan pesawat terbang, tapi harga tiket saat itu sedang kurang bersahabat. Apalagi, kalau saya harus menggunakan pesawat pagi, sebuah perjuangan tersendiri nantinya.

Untuk mendapatkan tiket kereta api, tidak semudah yang dibayangkan. Ya, seharusnya memang mudah, karena tinggal menuju loket pembelian tiket di Stasiun Tugu Yogyakarta, antri, bayar… selesai. Waktu itu saya menunggu kurang lebih 100 antrian. Cukup panjang dan lama juga, karena loket yang melayani pembelian hanya dua (dari 5 atau 6 yang ada). Setelah tiba giliran saya, pemesanan tiket saya tidak dapat diproses dengan alasan sistem sedang offline. Nah loh! Sudah antri lebih dari satu jam, tidak bisa. Menyebalkan!

Ternyata, sistim (atau sistem?) yang sedang offline hanya jadwal kereta api Gajayana (yang ingin saya gunakan). Saya tanya, kira-kira kapan bisa memroses pesanan tiket, ternyata tidak ada jawaban pasti. Ya, petugas tidak dapat memastikan. Oh ya, ini pengalaman pertama menggunakan kereta api Gajayana, karena biasanya saya gunakan Taksaka Malam. Saya sempat agak panik. Akhirnya, saya putuskan untuk beli saja lewat jasa agen. Kebetulan di loket tersebut ada informasi tentang agen tiket. Saya coba keberuntungan saya untuk menelpon salah satunya. Melalui telepon, saya diberitahu kalau sistim sedang tidak bekerja, alias offline. Ternyata, agen tiket tersebut lokasinya tidak jauh dari rumah. Akhirnya saya pesan ke petugas agen kalau saya mau (dan pasti!) pesan tiketnya dan minta diberitahu kalau sistim sudah beroperasi kembali.

Tidak lama kemudian, saya mendapatkan telepon dari agen tiket tersebut yang memberitahukan bahwa tiket bisa dipesan. Langsung saya minta di-book-kan untuk saya. Singkatnya, saya mendapatkan tiket saya tersebut hari itu juga, dengan tambahan biaya Rp. 10.000,00. Ah, kalau tahu seperti ini, mendingan dari awal saya beli lewat agen! Menurut jadwal, kereta api akan berangkat pukul 23.33 dan sampai di Stasiun Gambir pukul 07.15. Tapi, yang namanya jadwal kan itu rencananya. Kenyataannya, saya baru sampai di Stasiun Gambir sekitar pukul 13.00! Gila!

Pembayaran Tagihan Telkom Speedy Melalui ATM BCA

Dua hari yang lalu saya berencana untuk membayar tunggakan tagihan koneksi internet Telkom Speedy melalui ATM. Memang ini baru kali pertama saya melakukan pembayaran Telkom Speedy, karena memang baru sekitar 1 bulan menggunakannya. Untuk masalah kualitas akses internet, saya belum menemukan kendala yang berarti. Paling tidak, kuota saya sudah hampir habis untuk bulan Juli ini. Oh ya, saya menggunakan Speedy Multi Speed paket Family.

Jadi, waktu itu saya sekaligus membayar tagihan-tagihan lainnya (telepon rumah dan listrik). Ketika saya sudah memasukkan nomor pelanggan Telkom Speedy, saya mendapati jumlah tagihan dan nama pelanggan yang benar. Nah, sewaktu akan melanjutkan ke proses pembayaran, saya mendapatkan respon bahwa transaksi pembayaran tidak dapat diproses. Waduh! Saya coba sekali lagi, tidak berhasil juga. Coba lagi, sekali lagi, tidak berhasil juga.

Akhirnya saya urungkan niatan saya untuk membayar melalui ATM. Siapa tahu lain hari bisa dilakukan.

Hari ini, akhirnya mencoba telepon teman saya yang sama-sama menggunakan layanan Telkom Speedy, dan saya tanyakan tentang proses pembayaran. Saya mendapatkan informasi kalau ternyata memang pembayaran tagihan belum bisa dilakukan melaui ATM. Saya juga tidak tahu, apakah ini hanya terjadi di Jogjakarta, atau juga di daerah/kota lainnya.

Ya… berarti memang besok harus bayar langsung.

Berkas Rekaman Audio Debat Capres dan Cawapres Pemilu 2009

Hari pemilihan presiden dan wakil presiden Pemilu 2009 sudah berlangsung beberapa hari yang lalu. Saya akhirnya memutuskan juga untuk menggunakan hak suara saya. Bagi saya, ini pertama kalinya saya menggunakan hak pilih saya. Yang pemilu legislatif kemarin saya putuskan untuk tidak ikut memilih. Karena tidak tahu siapa yang harus saya pilih.

Nah, kebetulan dalam rangkaian proses Pilpres ada acara debat di televisi. Menarik sih, not bad-lah untuk model seperti ini, apalagi belum pernah diselenggarakan sebelumnya. Saya juga akhirnya merekam acara tersebut, namun hanya dalam format audio. Alasannya ini lebih ekonomis dan lebih mudah dilakukan, dibandingkan dengan merekam audio dan videonya.

Dari total 5 (lima) debat yang dilaksanakan, hanya debat ke-4 saja yang saya lewatkan. Ini juga karena kebetulan saya tidak dirumah. Debat ke-4 tersebut adalah debat cawapres periode kedua. Kalau misal ada yang mau meng-unduh berkas audio-nya, berikut ini adalah daftar berkasnya.

Lanjutkan membaca →

Pertanyaan untuk capres dan cawapres

Setelah melihat dan mendengarkan acara debat pertama para calon presiden untuk pemilu presiden mendatang, saya jadi punya pertanyaan untuk masing-masing capres (dan mungkin cawapres).

Pertanyaannya adalah: “Bagaimana menurut Anda (capres dan cawapres), kelebihan yang dimiliki oleh capres dan cawapres lainnya?”.

Ya, mungkin ini pertanyaan yang sangat kecil kemungkinannya untuk dilontarkan. Tapi, jujur saja saya penasaran dengan jawaban dari masing-masing capres dan cawapres. Yang sering terjadi adalah mencari kelemahan lawan politik. Mencari segala kejelekan, yang semoga dengan ini akan membuat mereka (tampak) lebih baik.

Tapi, dengan berani secara terbuka memberikan pendapat tentang kebaikan pihak lain diluar diri mereka sendiri, toh itu juga akan berpeluang untuk memperlihatkan kelebihan mereka juga.

Eh, nggak juga ya? Tapi, kira-kira kalau pertanyaan semacam ini diajukan, kira-kira jawabannya bagaimana ya?

Boediono Mendengar (di Jogjakarta) Tanpa Boediono

Minggu kemarin, saya memutuskan untuk datang di acara Boediono Mendengar di Jogjakarta. Saya datang ke acara ini setelah tahu informasi dari blog Ndoro Kakung. Informasi awalnya, acara yang bertajuk Boediono Mendengar – Kopdar Netter, akan berlangsung Joglo Melati, daerah Sleman. Namun, informasi terakhir katanya tempat acara diubah ke Angkringan Yayasan Umar Kayak (YUK). Alasan pemindahan tempat sih tidak begitu tahu pasti, saya cuma dengar dari beberapa obrolan kecil saja…

Saya datang ke lokasi mungkin terlalu awal, tapi paling tidak sesuai dengan informasi agendanya. Persiapan — terutama keamanan — cukup banyak, bahkan ada mobil gegana juga (yang rencananya mau saya ambil gambarnya, tapi malah lupa). Saya tidak tahu apakah ini berlebihan atau tidak, tapi kalau memang standar persiapan untuk event semacam ini, apalagi menyangkut ‘orang penting’, ya tidak apa-apa lah… Toh intinya biar aman terkendali.

Setelah menunggu cukup lama, acaranya akhirnya dimulai. Dan, kabar pertama yang disampaikan adalah bahwa Bapak Boediono tidak jadi datang. Walah… Padahal kehadiran beliau yang menjadi magnet bagi warga yang hadir disana. Untungnya, saya tidak berhasil menghubungi saudara saya yang rumahnya dekat dengan tempat tersebut.

Acara yang mungkin menjadi kesempatan bagi warga untuk bertatap muka dan mengenal Pak Boediono berubah menjadi obrolan seputar blog Pak Boediono. Ya, memang salah satu agendanya adalah tentang soft launching blog beliau. Tapi, karena beliau tidak jadi datang, ya acara diskusi tentang blog tersebut menjadi agenda utama. Hasilnya, mungkin acaranya ini hanya menarik bagi beberapa orang saja.

Alasan ketidakhadiran beliau (menurut saya) bisa diterima. Karena padatnya jadwal beliau di hari tersebut dan ditambah lagi agenda sebelum dan setelah hari berikutnya yang cukup padat, membuat kondisi fisik sepertinya tidak mengijinkan. Alasan lain? Wah saya tidak tahu juga. Acara tidak populer? Mungkin saja. Audiens sedikit? Bisa jadi.

Bahasa dan Rasa

“…bahasa itu cuma masalah rasa. Yang tersirat tidak selalu yang tersurat, tapi carilah yang tersirat itu melalu yang tersurat. Rasakan makna dari email Ibu Prita, saya yakin RSOI bisa merasakannya.”
Ruth Wijaya, tentang Ibu Prita Mulyasari dan RS Omni Internasional.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) adalah hasil hutang, atau bukan?

Mungkin telat juga saya tahu berita ini. Saya tahu hari ini ketika menonton cara Metro TV. Yang dibahas adalah mengenai apakah Bantuan Langsung Tunai (BLT) itu hasil hutang atau bukan. Eh, sepertinya kalau dari acara tadi, statement-nya adalah bahwa BLT hasil hutang. Hal ini diperkuat/didasarkan pada hasil pemeriksaan yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Berita lengkap tentang pernyataan bahwa BLT ini adalah hasil hutang bisa dilihat di situs Media Indonesia.

Saya kaget dan juga bingung.

Yang menjadi menarik, jika ini memang benar, maka akan menjadi kabar buruk bagi banyak pihak. Apalagi BLT ini semakin gencar dijadikan sebuah amunisi dalam kaitannya dengan pesta demokrasi Pemilihan Presiden 2009.

SBY dan Jusuf Kalla sudah pasti akan mendapatkan banyak sorotan. Bisa jadi ini akan semakin meluas dampaknya, terutama kepada pembangunan persepsi dan opini. Sebelum berita ini beredar, BLT sudah menjadi perdebatan antara setuju dan tidak, antara memberikan manfaat atau malah sebaliknya, antara mensejahterakan atau membuat tambah sengsara.

Masih segar dalam ingatan saya, isu ini juga digunakan dalam merebut simpati. Ada pula yang awalnya memiliki cara pandang yang kurang tegas dalam mensikapi BLT tersebut (antara setuju atau menolak).

Lanjutkan membaca →

Reparasi Sandal di Pinggir Jalan

Kemarin akhirnya menyempatkan untuk mereparasi sandal saya yang rusak. Rusaknya karena bagian depan (jepitan untuk jempol kaki) putus. Sebenarnya ingin juga beli sandal baru lagi, tapi sepertinya sayang karena baru dipakai beberapa minggu saja. Dulu, biasanya ada tukang reparasi sandal yang lewat depan rumah, tapi sekarang sepertinya jarang sekali lewat. Bahkan, seperti tidak ada lagi.

Rencananya, mau mereparasi di Malioboro karena sudah jadi langganan. Bukan langganan sih tepatnya, tapi karena beberapa kali kesana. Terakhir kesana juga waktu mereparasi sandal milik Lala. Tapi, kemarin sewaktu mau ke Malioboro, ternyata melihat ada tukang reparasi pinggir jalan juga. Akhirnya, mampir saja kesitu sekalian nyobain. Saya kasihkan sandal saya, bilang bagian mana yang rusak dan beberapa menit kemudian jadi. Saya tidak tanya dulu berapa ongkosnya. Tapi saya yakin, semahal-mahalnya pasti masih sangat masuk akal.

Awalnya cuma ngobrol-ngobrol saja, tapi bapak yang mereparasi sandal tersebut juga bilang kalau dia bikin sandal juga. Dia kasih contohnya. Wah, unik ini, tidak ada yang jual sepertinya. Apalagi itu benar-benar buatan sendiri. Saya minta ijin untuk mencobanya. Saya buat jalan, enak juga. Tidak terlalu ringan, tapi tidak terlalu berat. Cuma sayangnya, bagian jempol masih kurang pas buat saya.

Saya tanya, apakah bagian depan ini bisa dimodifikasi? Bapak tersebut tanya modifikasi seperti apa. Setelah saya jelaskan, dia bilang bisa saja. Ngobrol-ngobrol soal harga dia bilang dengan modifikasi itu harganya adalah Rp. 60.000,00. Saya pikir, ah… kayaknya kok harga lebih tinggi juga pantas. Akhirnya saya “tawar” jadi Rp 70.000,00. Bapak tersebut malah bilang, Rp. 60.000,00 saja. Loh?

Bapak tadi juga cerita bagaimana mengawali membuka usaha reparasi sandal. Mulai dari awalnya melamar kerja di pabrik, sampai akhirnya bikin sendiri saja jasa di pinggir jalan. Cerita tentang pengalaman hidupnya… Menarik.

Setelah saya rasa cukup, akhirnya saya pamit pulang. Dan menanyakan tentang ongkos reparasi sandal saya. “Dua ribu rupiah…”.

Perang argumen dan komentar seputar Pemilu

Menjelang pelaksanaan Pemilihan Presiden Juli mendatang, semakin banyak komentar dan perang argumen diantara politisi. Ya, sudah sejak pemilu legislatif yang lalu juga. Atau, diluar periode itupun, terkait dengan pemerintahan, sudah sering terjadi seperti ini.

Sepertinya, argumentasi dengan merendahkan, menjelekkan dan mencari kekurangan orang lain (terutama pesaing) sudah menjadi hal yang lumrah. Menjadi sesuatu yang wajar. Bahkan dianggap sangat wajar sepertinya.

Bagi saya sendiri, silakan saja sih… Tapi ketika katakanlah salah satu orang membicarakan kejelekan orang lain (bahkan dengan semangat dan penuh keyakinan bahwa dirinyalah yang paling benar), pada saat yang sama malah memperlihatkan kualitasnya. Maksud saya, maunya sih meninggikan diri/kelompok, tapi hasilnya malah memperlihatkan seperti apa diri/kelompok mereka sendiri. Seolah-olah orang lain atau pihak lain tidak memiliki sisi positif sedikitpun.

Yang lebih ajaib adalah, ketika mereka sendiri mengingkari apa yang mereka omongkan sendiri. Atau, ketika argumen yang disampaikan untuk orang lain dipertanyakan atau dikembalikan ke diri/kelompok mereka sendiri. Ternyata, mereka kok malah ngomongkan kejelekan diri mereka sendiri.

Lanjutkan membaca →

Fenomena halaman Facebook tentang Say “NO!!!” to …

Saya tahu pertama kali tentang salah satu halaman di layanan jejaring sosial Facebook yang menkampanyekan tentang ‘Say “NO!!!” to Megawati’ justru bukan dari Facebook, melainkan dari layanan microblogging Twitter. Karena terus terang, saya lebih aktif memanfaatkan Twitter daripada Facebook.

Yang menarik — bagi saya — justru lebih kepada informasi yang bertebaran di halaman tersebut. Sepertinya media tersebut digunakan untuk menempatkan hal-hal yang (bagi para pengguna layanan Facebook) mungkin menjadi uneg-uneg, aspirasi, atau bahkan… menghujat. Yang cukup mengherankan adalah bagaimana jumlah pertumbuhan suporter untuk halaman tersebut. Kurang dari 3 (tiga) hari saya rasa, halaman tersebut telah memiliki lebih dari 60,000 suporter. Menurut saya ini adalah sebuah angka yang tidak kecil jika dibandingkan dengan berapa jumlah pengguna Facebook yang berasal dari Indonesia.

Sangat sulit untuk membaca satu per satu tulisan yang muncul di “Wall”. Karena pergerakannya sangat cepat, tapi beberapa kali — sering sih — saya lihat, banyak beberapa hal yang berulang kali dituliskan. Saya tidak akan menuliskan tentang komentar yang bersifat menghujat, tapi ini beberapa isu yang diangkat:

  • Mempertanyakan konsistensi pandangan tentang Bantuan Langsung Tunai (BLT). Saya secara pribadi juga mempertanyakan hal ini — namun saya tidak menuliskan dalam media tersebut. Di media massa sering kita dengar bahwa Megawati selalu mengkritisi tentang BLT, menganggap bahwa BLT itu menghina rakyat, tidak efektif, menjadikan rakyat menjadi malas, dan sebagainya. TAPI disaat yang sama, partai yang mengusung beliau juga menggunakan isu BLT sebagai salah satu materi kampanyenya. Nah, jadi bagaimana sebenarnya konsistensi pandangan partai (dan pemimpinnya) terhadap BLT ini?
  • Kinerja Megawati selama menjabat sebagai presiden. Banyak pertanyaaan dan pernyataan yang mengkritisi bagaimana prestasi yang didapatkan oleh Megawati selama beliau menjabat sebagai presiden. Beberapa yang cukup mencolok (menyolok?) adalah tentang penjualan aset negara, kondisi ekonomi saat itu, apa yang telah dilakukan oleh Megawati.
  • Sikap nasionalisme Megawati sebagai calon presiden, dan sebagai seorang pemimpin. Banyak suporter halaman tersebut mempertanyakan tentang mengapa tidak hadir dalam upacara kenegaraan? Dimana beliau pada saat pelantikan SBY?

Saya lihat di hari-hari awal, tidak/belum banyak media yang meliput fenomena ini. Yang pasti, sekarang sudah mulai banyak berita tentang hal ini. Sebut saja misalnya Kompas.

PDI-P Laporkan Facebook “Say No!!! to Megawati” ke Bawaslu

PDI Perjuangan, kata Pramono, akan segera melaporkan komunitas itu kepada pengawas pemilu. “Pasti itu merupakan black campaign yang dilakukan dengan sangat terbuka. Dalam UU Pemilu, pelaku bisa diancam pidana pasal 270 dengan hukuman 24 bulan. Kami meminta Bawaslu menyikapi hal ini karena ada upaya mengadu domba,” kata Pramono saat dihubungi Kompas.com, Senin.

PDI-P: Facebook “Gerakan Anti-Mega” = “Black Campaign”

Lebih lanjut ia mengatakan, ini termasuk black compaign sekalipun ia mengaku belum melihat sendiri grup itu di Facebook. “Motifnya jelas. Kami bisa melihat sendiri akan memberi keuntungan kepada siapa dan siapa yang dirugikan,” kata Aria.

Detik Pemilu juga menuliskan artikel tentang fenomena ini, dalam artikelnya dikatakan bahwa pembuat halaman di Facebook tersebut bisa dijerat dengan hukuman penjara 1 tahun dan denda 24 juta. Hal ini merujuk pada pasal 270 Undang Undang (UU) Pemilu.

Pasal 270 UU Pemilu berbunyi,’ Setiap orang dengan sengaja melanggar larangan pelaksanaan kampanye Pemilu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, atau huruf i dipidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan denda paling sediki Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dan paling banyak Rp24.000.000,00.’

Yang menjadi pertanyaan/fakta yang mungkin masih terus akan diperdebatkan pasti akan terus bertambah. Apakah suporter untuk halaman tersebut ikut karena ajakan? Apakah ada penggerakan opini ke arah sana? Apakah yang disampaikan adalah fitnah, atau fakta? Kita tunggu saja perkembangannya. Saat saya tuliskan artikel ini, jumlah statistik suporter untuk halaman tersebut sudah lebih dari 74.000. Bukan kapasitas saya untuk menilai berapa akun yang memang berniat untuk mendukung, tidak mendukung, atau akun fiktif.

Penarikan Tunai Western Union Melalui Bank Internasional Indonesia

wu-bii

Minggu ini, saya melakukan pencarian/penarikan tunai yang dikirimkan melalui Western Union melalui Bank Internasional Indonesia (BII). Sebenarnya ini bukan kali pertama saya menggunakan jasa BII. Sebelumnya — sudah cukup lama — saya pernah menggunakan jasa BII untuk melakukan penarikan yang sama, dan hasilnya memuaskan. Kenapa tidak menggunakan Pacto Moneygram? Ya, karena memang dapatnya untuk diuangkan melalui Western Union, tidak bisa milih ke Pacto. Kenapa tidak lewat kantor pos? Karena saya dulu pernah menggunakan jasa kantor pos, dan — entah kenapa — hasil akhir penarikan jauh dari jumlah yang diharapkan. :)

Saat melakukan penarikan, saya belum menjadi nasabah BII. Ada rekening bank lain sebenarnya, dan bank-bank tersebut juga melayani pencarian dana dari Western Union. Tapi, saya sedang tidak ingin berspekulasi, jadilah saya pilih BII.

Lanjutkan membaca →