Apa kabar Visit Indonesia Year 2008?

Tulisan Mas Iman Brotoseno yang membahas tentang sebuah kondisi paranoid justru mengingatkan saya kepada satu hal yang sekarang ini gaungnya entah kenapa menjadi surut. Atau, saya sendiri yang kurang informasi ya? Betul, dalam entrinya, salah satunya disinggung tentang Visit Indonesia Year 2008 (VIY 2008). Memori otak saya tiba-tiba tergelitik dengan istilah ini. Visit Indonesia Year atau tahun kunjungan wisata.

Saya sebagai warga Jogjakarta, tidak melihat tanda-tanda bahwa ada sebuah agenda besar di tahun ini. Kita lihat saja salah satu contoh. Di Jogjakarta, saya baru menemui logo VIY 2008 di beberapa tempat. Pertama di halte bis Trans Jogja yang ada di ujung utara Jl. Malioboro. Itupun hanya sebatas stiker yang ada di dinding kaca. Bahkan, penempelannya saja sepertinya miring. Besok ambil gambarnya ah!

Yang kedua, salah satu hotel di sebelah timur kawasan Malioboro yaitu Hotel Melia Purosani. Ada sebuah papan besar bahwa Indonesia (dan Jogja pada khususnya) sedang punya gawe. Selain itu, belum melihat lokasi lainnya.
Continue reading →

Perspektif Wimar di ANTV 28 Maret 2008: Blokir Situs Porno

Setelah nonton Perspektif Wimar episode 2 tanggal 25 Maret yang lalu, hari ini punya kesempatan lihat lagi dengan topik yang sangat menarik. Tapi, tetep saja kok kayaknya kurang ya waktunya. Bu produser (eh, bener ibu kan ya?), tambah waktunya donk! :D

Kebetulan, tamu juga seorang menteri yaitu Pak Mohammad Nuh, dengan co-host Wulan Guritno. Untuk diskusinya — dibandingkan dengan episode lalu tentang imigrasi — jelas kali ini diskusi lebih menarik. Pak M. Nuh sendiri mampu memberikan argumentasi yang menurut saya sangat baik; terlepas dari bahwa apa yang disampaikan tetap akan bisa menjadi sebuah isu yang akan terus dibahas dan memunculkan pro dan kontra.

Nah, kalau misalnya kebetulan ada yang tidak nonton, tapi ingin tahu apa yang didiskusikan, saya sudah coba merekam dan meng-upload berkas audionya. Silakan mengunduhnya.

Berkas audio Perspektif Wimar ANTV, 28 Maret 2008. Format: .ogg, ukuran berkas: 13.1 MB.

Update: Durasi berkas audio adalah 21 menit, 47 detik, tanpa penyuntingan kecuali untuk bagian iklan yang dihilangkan. Jangan lupa juga kunjungi Perspektif Online untuk topik ini.

Berkurang satu pohon mangga

Di rumah tempat saya tinggal, ada beberapa pohon yang cukup besar dan produktif. Dulu ada pohon sawo, rambutan, duku, cengkeh, nangka, kelapa gading dan beberapa lainnya. Kalau tidak salah pohon sawo dan dulu tersebut usianya malah lebih tua dari saya, tapi dulu masih produktif. Beberapa pohon akhirnya ditebang. Pohon sawo yang cukup besar — dulu kalau panen, yang mengangkut sampe 2 andong — akhirnya ditebang, karena buah sering jatuh di genteng yang mengakibatkan banyak genteng yang pecah. Kalau musim berbuah dan disaat yang sama juga musim hujan, repot sekali.

Pohon duku dan cengkeh akhirnya juga ditebang dengan pertimbangan karena kedua pohon tersebut tidak produktif lagi. Saat ini, yang paling banyak jumlahnya adalah pohon mangga. Ada lima pohon mangga. Yang satu belum mulai berbuah, tapi yang lain, kalau soal berbuah, tidak diragukan lagi rasa dan banyaknya. Pohon rambutan dan kelapa gading juga masih produktif. Kelapa gading yang ada dirumah lebih sering dimanfaatkan oleh tetangga. Kurang tahu untuk apa, tapi beberapa kali banyak tetangga yang minta. Untuk urusan ini, tidak ada alasan untuk bilang tidak boleh.

Kemarin, satu pohon mangga akhirnya dengan terpaksa ditebang. Continue reading →

Perspektif Wimar di ANTV 25 Maret 2008: Salah sendiri!

Setelah melewatkan tayanan perdana Perspektif Wimar di ANTV kemarin tanggal 24 Maret 2008, akhirnya tadi pagi sempat nonton juga. Kesan pertama — saat Wimar bermonolog — sepertinya acaranya akan seru. Dan, ternyata memang seru! Hari Selasa (25 Maret) kemarin, topik yang diusung adalah tentang masalah keimigrasian dan Hak Asasi Manusia (HAM) dengan tamu Dewi Sandra dan Menteri Hukum dan HAM Andi Matalatta. Untuk liputannya, Perspektif Online sudah merangkumnya.

PW 25mar

Oh ya, Dewi Sandra terlihat cantik, dan WW pasti sangat setuju ini… :D

Selain obrolan yang menarik, ada pula bagian yang lebih seru sekaligus — bagi saya — menggelitik. Memang terlihat bahwa Andi Matalatta terlihat banyak “diserang”, tapi ternyata mensikapi dengan argumen yang bagi saya kurang asyik. Banyak pertanyaan atau argumen yang selalu dijawab dengan menempatkan bahwa masyarakat (dalam konteks ini adalah Dewi Sandra) adalah pihak yang ‘salah’. Belum ketika menanggaapi soal sosialiasi dan juga oknum keimigrasian, seperti yang disampaikan oleh Dewi Sandra. “Siapa bilang dan seterusnya…” seperti menjadi kalimat sakti. Dan kayaknya WW dan Dewi Sandra juga agak kaget mendapati jawaban yang demikian dari Pak Andi. Duh!

Catatan: Gambar diambil dari Perspektif Online. Kalau tidak salah, Dewi Sandra dalam gambar tersebut menunjuk WW, sebagai ungkapan menyetujui yang disampaikan WW tentang masalah sosialisasi peraturan/informasi tentang keimigrasian deh… CMIIW. Tadi sempat iseng untuk merekam audio-nya, tapi lupa belum di simpan. Ada yang punya? Saya lupa simpan karena terburu-buru mematikan komputer. Salah siapa nih… Mmm.. salah sendiri!

Salah satu perbandingan Blogger dan WordPress

Para pengguna WordPress tergolong banyak yang sombong di bandingkan dengan Blogger meskipun hanya beberapa saja, kenapa demikian? Silahkan Anda buktikan sendiri minta link Exchange ke blog Bayumukti.com. Jika Anda bukan celebrity blog sampai nangis darah pun ga bakalan di link back. Sedangkan para pengguna Blogger senantiasa bertukeran link telah terbukti di kolom-tutorial. sumber

Marketing and Religion

I am a marketer, but also a Catholic. From my opinion, marketing has been used unwisely in promoting religions. Marketing should not be used to promote the church, but deeper than that, it should be used to “market” the good values found in a religion. The values of goodwill, helping others, loving thy neighbors, etc are something that should be communicated, and not the physical church itself. Hermawan Kartajaya

We Should Have a Government Blogging Team!

We should even have a government blogging team where people in the agencies are constantly telling all of you, the taxpayers, the citizens of America, everything that’s going on so that you have up-to-the-minute information about what your government is doing, so that you too can be informed, and hold the government accountable. Hillary Clinton

Proses disain blog Dian Sastrowardoyo

Kalau beberapa waktu lalu saya pernah sedikit menuliskan cerita tentang proses mendisain blog milik Pak Yusril Ihza Mahendra, kali ini saya akan coba ceritakan sedikit informasi tentang proses mendisain blog milik Dian Sastrowardoyo. Eh, Dian Sastro? Dian Sastro yang itu? Benar, Dian Sastro sudah mulai memiliki blog. Blognya bisa dilihat melalui alamat http://blog.diansastrowardoyo.net/

Proses awalnya bagi saya pribadi cukup rumit, dalam artian bahwa saya tidak mendapatkan banyak informasi dasar misalnya bagaimana disain seharusnya, bagaimana warna, fitur blog, dan lain-lain. Jadi, diawal saya sedikit berspekulasi. Bagi saya pribadi, lebih enak jika sudah ada rencana disain, permintaan fitur, atau informasi lainnya. Materi jika sudah ada diawal, mungkin akan membantu. Tapi, the show must go on… jadi kita buat saja. :) Oh ya, saya tidak dikontak langsung oleh Dian Sastrowardoyo, tapi oleh Budi Putra, CEO dari Asia Blogging Network — situs dimana saya juga ikut berperan didalamnya. Sebenarnya, obrolan ini sih sudah beberapa bulan lalu, ketika ada seminar blog Asia Blogging di Surabaya. Jadi, awalnya ada diskusi ringan — cenderung banyak bercanda sih kalau boleh saya bilang — antar saya, Budi Putra, dan Benny Chandra.

Continue reading →

Tempe!

Tadi pagi, saya — bareng teman saya, Adhi — sarapan di warung angkringan di depan gereja dekat rumah. Biasanya, salah satu yang mencolok di meja tumpukan makanan adalah tempe goreng dengan potongan berbentuk segitiga. Dan biasanya sebungkus nasi anget dengan lauk oseng-oseng, tempe goreng dan teh panas menjadi menu sarapan. Tapi ada yang berbeda pagi ini, tidak ada tempe. Kalau tidak salah lihat, tahu juga tidak ada…

Kemarin, saya tanya di warung pecel lele langgan saya — yang ternyata masih menjual menu tempe goreng — katanya harga tempe memang naik lumayan tinggi. Saya sendiri jawab, “Ya dinaikkan saja harga lumrah kok Mbak…”. Kejadian ini mirip ketika beberapa waktu lalu harga telur juga mengalami kenaikan. Porsi tetap dijaga secara jumlah, tapi harga dinaikkan. Saya lihat, pembeli lain juga bisa memaklumi. Ditambah lagi dengan penjualnya bilang duluan kalau harga agak naik. Tapi setelah harga kembali normal, harga jual juga ikut normal. Syukurlah…

Oh ya, beberapa hari ini, orang rumah tidak bikin masakan yang ada tempenya. Entah karena barangnya ada tapi agak mahal, atau memang penjual keliling yang biasanya tidak jual ya? Atau, memang lagi gak pengen makan tempe ya? Tapi… kemarin masak sup, gak ada tempenya. Ah, tempeeee.. tempeeee…

Saatnya ganti mouse dan keyboard

Wah, mouse sudah usang. Kemarin, setelah pulang mengantar Lala balik ke Ngawi, berkutat dengan komputer lagi. Yah, seperti biasa, menyempatkan untuk mengerjakan sedikit pekerjaan yang menumpuk (duh!). Nah, ternyata mouse-nya bermasalah. Mouse tidak responsif. Kadang-kadang tidak terdeteksi. Wah, sepertinya sudah ngaco banget. Dan jelas ini sangat mengganggu. Kalau cuma melakukan hal-hal sederhana, tanpa mouse (jika dipaksakan) bisa juga. Tapi tetap saja, kok rasanya menjadi tidak produktif sekali.

Yang kedua, keyboard. Sebenarnya, keyboard sih tidak ada masalah. Masalahnya cuma satu: sudah banyak ‘huruf yang hilang’. Mungkin harus maklum juga, lha keyboard sudah lama juga, ditambah dengan keyboard ini sudah menjadi korban aktivitas kerjaan. Kalau saya sendiri sih tidak masalah, tapi kadang karena adik saya juga sering pakai komputer, mungkin kebingungan juga kali ya? Hehehehe…

Mouse dan keyboard yang saya pakai mungkin bukan tergolong mahal. Keyboard kalau tidak salah dulu beli harga Rp. 25.000,00-an. Dan mouse-nya Rp. 50.000,00-an. Saya juga belum ‘memaksa’ untuk membeli yang canggih-canggih amat. Yang penting: nyaman dipakai! Selama masih bisa untuk bekerja dan terasa nyaman menggunakannya, kenapa harus beli yang mahal? Hari ini, kayaknya mendingan beli mouse baru deh…