Apa Kabar Indonesia (TVOne): Luna Maya, Media Sosial dan UU-ITE

Tadi pagi, diskusi Apa Kabar Pagi Indonesia TVOne mengangkat salah satu isu yang saat ini banyak dibicarakan — khususnya untuk masyarakat pengguna teknologi internet — yaitu tentang kasus yang melibatkan Luna Maya. Bagi saya yang menjadi menarik karena bukan tentang kasus Luna Maya dengan pihak yang langsung terkait — dalam hal ini infotainment — tapi karena disini juga dibahas juga tentang media sosial tentang media sosial (social media) yang (juga) semakin populer.

Acara ini dipandu oleh Indy Rahmawati dan Andrie Jarot dengan beberapa tamu diantaranya Jerry (duh, ini siapa tadi nama lengkapnya ya?) salah seorang dari penggagas gerakan online di Facebook “Boikot Luna Maya”, Margiyono dari gerakan yang mendukung Luna Maya di Facebook, kemudian ada dari Depkominfo yaitu Bapak Gatot S. Dewobroto (Dewabrata?) dan juga Ndorokakung ‘yang tidak disebutkan nama aslinya’. :D

Karena kebetulan sedang cukup iseng (dan yang lebih penting sudah bangun tidur), saya rekam audio acara tersebut, dengan maksud supaya nantinya jika ada yang ingin mengetahui apa yang dibicarakan dalam acara tersebut, yang tertarik bisa juga mengikutinya.

Berkas audio sudah saya unggah, dan Anda dapat mengunduhnya sekarang. (Ukuran berkas 21 MB, dengan durasi 31 menit dan 33 detik). Sebenarnya saya juga ada untuk kualitas audio yang sedikit lebih rendah, tapi ukuran berkas tidak terlalu beda, jadi saya putuskan untuk tidak mengunggahnya dulu. Nanti kalau ada yang ukuran lebih kecil, saya akan unggah. Semoga berkas audio ini bermanfaat.

Posisi Nyaman Bekerja dengan Laptop?

Dirumah, saya lebih banyak melakukan pekerjaan saya dengan menggukana desktop dibandingkan dengan laptop. Karena, kebanyakan berkas pekerjaan saya memang berada disana. Laptop hanya saya gunakan sekali waktu saja dirumah.  Komputer saya letakkan diatas meja dengan posisi yang (menurut saya) nyaman. Paling tidak, saya cukup betah dan jarang mengalami capek karena posisi yang mungkin tidak sesuai.

Beberapa posisi bekerja dengan laptop. Posisi mana yang sering Anda gunakan?

Posisi tangan hampir sejajar dengan papan ketik. Pandangan ke layar juga hampir tegak lurus dengan jarak sekitar 80 sentimeter (saya menggunakan monitor layar datar 19 inci).

Ketika bekerja dengan laptop, kadang saya bahkan tidak melakukan aktivitas tersebut ditempat yang bisa dikatakan nyaman. Kadang malah sambil tiduran dengan posisi tengkurap sampai akhirnya kadang berakhir dengan posisi “dilihat laptop” alias tertidur.

Dari beberapa posisi beraktifitas ketika menggunakan laptop, ternyata ada salah satu posisi yang (menurut studi) adalah posisi yang nyaman. Nyaman dalam hal ketika menggunakan posisi ini cenderung mengurangi potensi capek pada beberapa sendi tubuh.

“a conventional small clamshell laptop is most comfortably used lying down in bed with the device on the thigh when the knees are kept up.” [sumber artikel]

Masalahnya, dengan posisi yang paling disarankan yaitu “bersandar ditempat tidur dengan laptop berada di pangkuan, dengan posisi lutut dinaikkan” ini ada masalah lainnya: panas. Nah, dengan posisi ini, kipas pendingin otomatis jadi tidak bisa digunakan ya? Posisi mungkin nyaman, tapi bisa jadi tidak nyaman ketika ini tentang panas yang menyerang pangkuan.

Recehan Susah, Buat Ibu Prita

Kemarin sewaktu bersama Lala berbelanja — lebih tepatnya membeli tas dan beberapa barang lainnya, saya terlibat obrolan yang sangat singkat dengan salah satu penjual minuman. Ketika sedang berbelanja, saya keluar sebentar dari tempat belanja untuk membeli air minum kemasan. Tidak jauh, persis didepan toko.

Berikut kurang lebih obrolan yang terjadi ketika saya membeli air kemasan tersebut (Catatan: Sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, karena percakapan asli dalam Bahasa Jawa).

Saya: “(Sambil memegang botol air kemasan) Bu, minta airnya satu.”
Penjual: “Iya, Mas.”
Saya: “Berapa?”
Penjual: “Dua ribu rupiah”
Saya: (Merogoh kantong celana) “Wah, yang seribu recehan ya bu…”
Penjual: “Wah, malah makasih Mas. Susah nyari recehan sekarang, banyak disumbangkan ke Ibu Prita.”

Nah, bukan.. bukan tentang bahwa “keluhan” ibu itu karena gerakan pengumpulan koin untuk Ibu Prita. Mungkin ibu itu tidak mengeluh, beliau hanya menyampaikan sesuatu keadaan saja yang beliau temui/rasakan. Menurut saya, ini sebuah contoh efek yang luar biasa dari gerakan untuk bersimpati terhadap sebuah kasus yang melibatkan Ibu Prita. Awareness tentang kejadian ini pun sampai juga di tingkat masyarakat bawah. Ini bukan bermaksud merendahkan pekerjaan ibu penjual minuman tersebut lho… Tapi, lebih kepada bahwa apa yang terjadi kepada Ibu Prita telah menjadi perhatian banyak orang.

Apa Kabar Perangko dan Filateli?

Beberapa minggu lalu, saya sempat bertamu ke rumah dinas salah satu pejabat di Jogjakarta. Ketika di ruang tamu rumah dinas beliau, pandangan saya sempat tertuju pada sebuah pigura yang tertempel manis di dinding. Ada yang mencuri perhatian saya disana: sebuah seri perangko edisi khusus dengan wajah beliau.

Stamp Collection (by ...Rachel J...)

Perangko. Dalam satu tahun ini, sepertinya saya tidak pernah menyentuh barang yang satu ini. Beberapa kali memang memanfaatkan jasa PT. Pos Indonesia. Cukup sering pula menerima kiriman surat yang datang ke rumah — walaupun hampir semua memang bukan untuk saya. Tapi, tak ada satupun perangko yang tertempel dalam surat-surat tersebut. Urusan ke kantor pos juga sebatas memakai jasa pengiriman barang dengan layanan khusus.

Lanjutkan membaca →

Variasi Penulisan Nama (Saya)

Saya sering menjumpai beberapa “kesalahan” dalam penulisan nama saya, khususnya pada bagian “Arie Setiawan”. Yang lebih sering terjadi ketika orang lain melakukan pencatatan terhadap nama saya. Memang ada kalanya saya bisa langsung melihat dan mengkoreksi jika ada kesalahan. Jika tidak, bersiap saja untuk menjumpai sedikit kekeliruan penulisan.

Memang kadang bukan menjadi hal yang besar jika terjadi penulisan nama. Tapi, untuk hal-hal yang sifatnya sensitif atau penting, mungkin bisa lain ceritanya.

Berikut ini beberapa variasi kekeliruan yang kadang terjadi untuk nama saya: Ari Setyawan, Ary Setyawan, Ary Setiawan. Kadang terjadi juga “Arie Setyawan”. Kadang, ketika saya menyebutkan nama saya — untuk dituliskan orang lain — saya sedikit mengeja atau menyampaikannya dengan tambahan informasi. Misalnya saya tambah: “A R I E ya… SE-TI-A-WAN”. Karena, kadang memang pelafalan nama belakang memang berpotensi untuk dituliskan sebagai “Setyawan”. Tapi, untunglah orang tua saya tidak memberikan nama yang lebih rumit lagi seperti Ariy Setiyahwan. Atau lebih gaul lagi: Ar1e Setiaw4n. Hehehe…

Ketika Bepergian dengan Pesawat Terbang

Saya memang tidak harus sering melakuan perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang. Tapi, memang ada perubahan dalam hal frekuensi bepergian dibandingkan tahun kemarin dan tahun sebelumnya. Dan, rata-rata perjalanan juga tidak jauh, masih di pulau Jawa saja. Dulu, saya lebih memilih kereta api (jika memang tujuan memungkinkan untuk dijangkau dengan moda transportasi ini). Memang, paling sering ya cuma tujuan Jogjakarta-Jakarta saja.

Tapi, jika dibandingkan dengan sekarang saya lebih sering menggunakan jasa penerbangan. Efisiensi waktu kadang lebih menjadi prioritas. Apalagi, jika menilik dari harga yang tidak terpaut jauh — dibandingkan kereta api misalnya.

Pemandangan dari jendela ketika menggunakan jasa Air Asia.
Pemandangan dari jendela ketika menggunakan jasa Air Asia.

Sampai sekarang, kadang masih ada kekhawatiran tentang keselamatan perjalanan. Tapi, kalau dipikir lagi, bukankah semua perjalanan memang memiliki resiko? Syukurlah sampai sekarang saya masih bisa menikmati perjalanan dengan aman. Dan, kebetulan belum mengalami keterlambatan perjalanan yang mengganggu jadwal yang sudah direncanakan. Keterlambatan paling parah yang pernah saya alami terakhir kali ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta api beberapa bulan lalu. Setiap perjalanan, saya sering menikmatinya dengan melihat pemandangan dari sisi jendela. Walaupun kadang memang tidak mendapat tempat duduk di sisi jendela.

Lanjutkan membaca →

Tentang Saya dan Kopi

Ngomong-ngomong tentang kopi, saya memang cukup suka minum kopi. Tapi, jangan tanya soal jenis-jenis kopi dan bagaimana racikan kopi yang paling enak. Kalau kopi cocok dilidah, ya itulah kopi yang enak (bagi saya). Minum kopi lebih sering saya lakukan dirumah dengan membuat sendiri, dibandingkan dengan sambil nongkrong atau ke tempat minum kopi. Alasan pertama, tentu saja lebih ekonomis. Alasan yang lainnya juga karena memang tidak terlalu suka minum kopi diluar. Apalagi jika cuma sendirian. Kalau misal karena ada acara/agenda tertentu, ya mari… :D

Nescafe
Nescafe

Dulu, saya suka dengan Nescafe Classic. Bahkan, sepertinya saya lebih sering beli kemasan sachet dibandingkan dengan kemasan yang lebih besar. Bagi saya, kemasan sachet sudah sesuai dengan takaran. Selain itu, ini kemasan sekali habis. Pernah sih coba beli kemasan yang lebih besar — tapi yang kemasan isi ulang. Hasilnya, karena memang menyimpannya kurang rapi, malah dibuang sebelum habis.

Kalau sekarang, saya kadang minum kopi Kapal Api. Gara-garanya sih sewaktu nyari kemasan Nescafe Classic tapi warung dekat rumah tidak ada. Cukup menjadi selingan juga diantara waktu bersama Nescafe. Oh ya, sampai sekarang bagi saya Nescafe yang paling enak ya yang Classic, bukan yang dengan campuran atau modifikasi ini itu. Coffeemix? Atau kopi dengan rasa dan aroma macam-macam? Ah, kalau misal ada Nescafe yang Classic, saya akan pilih yang Classic.

Kalau banyak yang bilang bahwa minum kopi itu memang untuk membuat kita terjaga dari mengantuk, kok saya tidak begitu terpengaruh ya? Mau minum kopi  Nescafe atau Kapal Api, tetap saja yang namanya ngantuk ya bisa saja menyerang. Ketika saya minum kopi, kalau misal ada cemilan (ya, dan rokok) mungkin ini lebih dahsyat cemilan dan rokok daripada kopi itu sendiri. Oh ya, ada satu hal yang membuat saya malah tidak ngantuk: kerjaan dan deadline! Atau, keasikan browsing dan baca-baca ini itu di internet. Ini efek lebih dahsyat daripada kopi. Pernah saya diberi kopi oleh teman saya yang katanya kopi mahal, enak, bikin melek. Mencoba membuat, enak juga ternyata. Membuat tidak ngantuk? Ah, enggak juga. Malah justru sebaliknya saya lebih cepat ngantuk ketika mencoba kopi itu. Wahahaha! Kacau!

Yuk mari, minum kopi dulu…

Catatan: ini merupakan pendapat/pengalaman pribadi, bukan karena ada permintaan penulisan di blog ini dari pihak-pihak yang disebut dalam tulisan. Dan, (ini info tidak penting sih…) saya beli Nescafe-nya pakai duit sendiri, tidak disponsori siapa-siapa.

Senayan City, Public Relations dan Berita di Republika Online

Agak terkejut sebenarnya melihat berita di Republika Online yang tentang pernyataan Humas Senayan City, Sri Ayu Ningsih terkait dengan peristiwa bunuh diri yang terjadi di Senayan City.

Microphone (by hiddedevries)

“Sebetulnya saya sangat menyesalkan insiden yang tadi malam. Kenapa Reno harus memilih bunuh diri di Senayan City, tidak mencari tempat lain seperti jembatan, jalan layang, atau gedung tinggi lainnya,” ujar Humas Senayan City, Sri Ayu Ningsih, Selasa (1/12).
“Menurut saya, si Reno terkesan mencari sensasi. Sampai saat ini belum diketahui sebab pastinya kenapa dia melakukan aksi nekat itu. Kalau dari CCTV (alat pemantau) kita sih dia terlihat sengaja menjatuhkan diri setelah keluar dari resto Takemuri di lantai lima,” tukas Ayu. [sumber]

Lanjutkan membaca →

Kambing!

Beberapa bulan lalu, saya memutuskan untuk beli kambing. Suatu hal yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Kebetulan ada sedikit rejeki sehingga saya bisa beli kambing. Tapi, kambing tersebut tidak saya pelihara sendiri. Salah satu alasan karena saya tidak punya waktu dan lokasi yang sepertinya tidak memungkinkan untuk memelihara kambing.

Ada teman yang ternyata sudah cukup sering memelihara kambing titipan dari orang. Kenapa duit tidak ditabung saja? Wah, kalau ditabung sepertinya bakal sia-sia. Pasti akan lebih cepat menguap dari tabungan tanpa jelas nanti keluar kemana. Hehehehe… Keputusan beli kambing bukan sesuatu yang tanpa resiko. Kambing bisa sakit dan mati. Bisa juga curi. Kalau ini terjadi — semoga tidak! — hilang sudah biaya beli kambing. Tapi, ada juga kemungkinan bahwa kambing tetap bisa hidup, sukur-sukur bisa beranak pinak. Kambing ini dipelihara oleh teman yang nanti modelnya adalah bagi hasil penjualan. Jika kambing terjual, maka biaya beli awal akan dikembalikan dulu, dan sisanya akan dibagi antara saya, dan yang merawat kambing.

Dulu, sewaktu akan membeli, sebenarnya ada beberapa pilihan pada awalnya. Pilihan pertama beli satu kambing betina dan anaknya. Kedua, betina sedang bunting dan sudah punya anak. Yang ketiga (kalau tidak salah) emak kambing yang sedang bunting saja. Karena ternyata terlalu lama mikir (termasuk mencairkan dana — hehehe), akhirnya pilihan jatuh untuk beli emak kambing dan anaknya yang masih kecil. Mungkin anaknya belum masuk playgroup.

Ketika ketemu dengan teman saya, kadang pertanyaannya juga termasuk, “Gimana kabar kambing saya?” Hehehehe… Beberapa minggu lalu, kambing saya konon sempat bunting. Wah! Tapi, sayangnya kambingnya keguguran. Ya, resiko. Sekarang sih, kambing masih sehat dan anaknya yang dulu waktu beli masih kecil, sudah agak gede. Mungkin sudah mau masuk TK (halah!). Oh ya, anaknya jantan.

Sampai sekarang memang belum merasakan hasil dari punya kambing. Mungkin sedikit bersabar dulu. Paling tidak, duit masih utuh sampai sekarang. Kalau kedua kambing dijual, mestinya modal awal sudah balik ditambah sedikit keuntungan. Ya, mungkin ada tabungan sedikit berbentuk kambing. Dan, kayaknya bunga bank tidak lebih besar dari keuntungan penjualan kambing ini. Eh, nggak juga ya?

Facebook yang (Kadang) Membingungkan

Saya menggunakan Facebook, walaupun tidak terlalu aktif memanfaatkan fitur-fitur yang ada. Misalnya aplikasi games. Saya lupa kapan atau aplikasi permainan apa yang saya mainkan. Bagi saya, aplikasi games ini tidak terlalu menarik. Mungkin saja menarik sih, tapi saya lebih takut kalau susah berhenti yang mengakitbatkan pekerjaan menjadi terbengkalai — karena keasikan bermain games.

Logo Facebook

Saya hanya menggunakan Facebook untuk hal-halyang sifatnya mendasar saja: membangun jaringan pertemanan dengan teman-teman lama atau yang baru bertemu. Selain itu, terkait dengan blog publishing, saya juga menggunakannya untuk memublikasikan tautan ke artikel atau entri yang saya tuliskan dalam blog milik saya.

Sejak awal, saya memang tidak punya sesuatu yang prinsip tentang istilah “teman” di Facebook. Maksudnya, apakah teman itu berarti “seseorang yang saya kenal”, “seseorang yang pernah ketemu”, atau “seseorang yang ada pernah saya tahu melalui internet”. Seiring berjalannya waktu, kadang hal ini menjadi merepotkan. Saat ini, lebih dari 100 friend requests yang ada dalam akun saya. Biasanya, saya melihat terlebih dahulu satu per satu. Yang paling susah adalah ketika menemukan seseorang ingin “berteman” dengan saya, tapi saya sama sekali tidak mengenalnya. Atau, jika seseorang tersebut sama sekali tidak memiliki hubungan melalui mutual friends.

Kadang mutual friends sendiri juga cukup membingungkan. Misalnya, ketika saya melihat bahwa ada salah satu (atau lebih) mutual friends tersebut adalah teman satu SMA saya. Tapi, saya sendiri tidak kenal sama sekali — karena berbeda angkatan. Contoh lain misalnya beberapa mutual friends-nya adalah para narablog yang saya tahu blog-nya, tapi belum pernah bertatap muka. Bisa jadi saya akan dianggap sombong kali ya… Tapi, sepertinya mendingan seperti ini daripada saya malah repot dikemudian hari.

Yang lebih “ajaib” lagi adalah ketika seseorang menyarankan untuk berteman dengan saya. Sebut saja si Bagong — yang saya tidak kenal tapi ada dalam daftar teman — menyarankan saya untuk berteman dengan si Gogon yang sama sekali juga tidak saya kenal. Wahahaha!

Itu salah satu contoh saja. Mungkin, sekarang saya harus membiasakan diri dengan kebingungan — karena hal tersebut — di ranah jejaring sosial saja.

Menonton dan Memotret Karnaval Festival Upacara Adat di Jogjakarta

Ketika tadi sedang ada dirumah, kira-kira pukul 15.30 sayup terdengar suara alat musik tradisional dimainkan dari pinggir jalan. Ah, tumben ada karnaval lewat. Memang ini sebuah kejadian yang agak jarang karena karnaval atau arak-arakan rata-rata diadakan di sepanjang Jalan Malioboro. Tanpa pikir panjang, langsung lari sambil nyamber kamera. Siapa tahu ada yang bisa dipotret. Jarak antara rumah dengan pinggir jalan tidak jauh, sekitar 30 meter.

Sesampainya dipinggir jalan, lha kok ternyata sudah banyak warga yang sedang asik menonton. Eyang saya — dan beberapa tetangga sekitar rumah juga sudah duduk mengambil posisi. Waaahhh… Ternyata rombongan yang terdengar tadi sudah lewat depan pintu gang rumah. Karena belum terlalu jauh, sempatkan lari saja mendahului rombongan tersebut. Untung belum jauh. Langsung ambil posisi ditengah jalan, dan mulai jeprat-jepret, tanpa tahu ini sebenarnya karnaval dalam rangka acara apa. Hehehe…

Lanjutkan membaca →

Jadwal dan Harga Tiket Kereta Api Pramex

Sudah cukup lama sejak terakhir kali saya menggunakan jasa transportasi kereta api Pramex. Setiap kali akan menggunakan kereta Pramex — baik dari Jogja ke Solo ataupun sebaliknya, pasti cukup kebingungan untuk mencari informasi tentang jadwal keberangkatan. Ya, bisa sih telpon informasi di stasiun. Berharap menemukan informasi — yang bisa dipercaya — melalui situs web sepertinya juga sia-sia. Mungkin ada, tapi tidak begitu yakin 100%.

Kemarin siang, akhirnya dengan sedikit nekat — sudah dapat informasi sih, tapi belum yakin sepenuhnya — saya coba langsung ke Stasiun Solo Balapan setelah menemani Lala pulang kampung. Sampai di Stasiun Solo Balapan kira-kira pukul 14.20. Lihat jadwal, ternyata ada yang keberangkatan pukul 14.45! Akhirnya tidak harus menunggu lama (atau baru saja ketinggalan kereta). Tanpa pikir panjang langsung ke loket untuk beli tiket. Eh, ternyata harga tiket sudah berubah dari yang semula Rp. 7.000,– sekarang menjadi Rp. 8.000,–. Dan melihat dari pengumuman yang terpasang, perubahan ini sejak bulan Agustus 2009.

Ternyata tidak hanya harga tiket yang berubah. Bentuk tiket juga mengalami perubahan. Mungkin sudah lama sih, beberapa bulan mungkin. Tapi saya benar-benar lupa terakhir kali naik Pramex itu kapan dan bentuk tiketnya seperti apa. Karena bentuknya yang tipis dan seperti lembaran kertas biasa, tadi hampir saja malah sempat terbuang.

Perjalanan cukup lancar, tapi terlambat sekitar 10 menit sampai di tujuan. Entah kenapa alasan keterlambatannya apa. Yang pasti, penumpang tidak begitu banyak. Mungkin kalau berangkat lebih sore lagi, bisa beda ceritanya.