Obrolan dengan Pak Tobari

Salah satu hal yang ternyata menjadi salah satu hal yang sering saya lakukan selama di Jakarta adalah membeli gorengan. Iya, gorengan yang kadang dijajakan dengan semacam gerobak dorong, atau yang kadang dipikul. Tergantung dimana saya menjumpainya. Di dekat kantor lama, yang sering saya temui adalah pedagang gorengan yang menjual dengan ukuran gerobak lebih kecil.

Kadang, saya lebih sering untuk membeli dan makan ditempat. Datang, ambil gorengan makan ditempat dan kadang mengobrol dengan penjualnya. Ya, ngobrol bertegur sapa saja. Sering malah jadi pembicaraan yang cukup panjang dan menyenangkan. Kalau berangkat ke kantor, kadang ada penjual gorengan yang saya temui. Walaupun sering juga beli untuk dibungkus — dan dibawa ke kantor — ketika beli juga sering saya langsung comot dan makan saja.

Kemarin, saya melakukan hal yang sama sewaktu saya berjalan kaki di seputaran Bulungan, Blok M. Ada bakwan yang baru  diangkat dari wajan, masih panas. Kebetulan tidak terlalu ramai. Jadilah saya berhenti, dan ambil langsung bakwan. Enak! Apalagi ditambah cabai rawit yang menumpuk — walaupun akhirnya cuma ambil dua buah cabai saja. Berawal dari sapaan ringan ke penjualnya, akhirnya malah ngobrol sambil menikmati bakwan dan tahu goreng. Pak Tobari — begitu beliau memperkenalkan nama.

Pak Tobari

Berawal dari obrolan tanya mulai jam berapa mangkal, akhirnya saya terlibat obrolan tentang hal-hal lainnya. Pak Tobari bersal dari Cirebon. Saat ini punya 3 orang anak. Yang paling besar sudah bekerja. Yang kedua, saat ini sedang bersiap untuk melakukan PKL (Praktik Kerja Lapangan), dan yang paling bungsu masih kelas 5 SD.

Beliau bilang kalau hidup memang susah, tapi tetap bersyukur. Paling tidak semua anaknya tetap bisa sekolah dan bisa kerja. “Ya, tidak apa-apa orang tua kerja keras, yang penting anak bisa tetap sekolah. Alhamdulillah yang paling besar sudah kerja…”, begitu kira-kira yang dia sampaikan. Sesaat, saya tiba-tiba teringat orang tua saya di kampung. Saya masih ingat beberapa tahun lalu, orang tua saya bilang, “Orang tua itu akan mendukung (anaknya), kalau tidak ada ya nanti ‘diadakan’…”. Begitu kurang lebih.

Walaupun saat itu sudah sore, diantara kebisingan lalu lintas dan lalu lalang orang, beliau sepertinya tidak terlalu memedulikan. Wajah ramah, mengobrol dengan tetap tersenyum, membuat saya menikmati momen tersebut. Entahlah, saya merasa senang saja. Tak terasa saya menghabiskan 2 buah tahu goreng dan 2 bakwan. “Berapa, Pak?”, tanya saya. “Dua ribu, Dik…”.

Saya bayar, dan terakhir saya minta ijin untuk mengambil gambar. Beliau mengiyakan. “Mari, Pak! Laris!”, kata saya singkat. “Makasih, Dik! Kapan-kapan jajan lagi ya…”, jawabnya singkat. Saya melanjutkan jalan kaki saya. Iya pak, saya akan datang lagi…

1 Comment