Menikmati Jakarta!

Sudah hampir setahun ini, saya tinggal di Jakarta. Tentu saja dengan kondisi sering balik juga ke kampung halaman, di Jogjakarta. Keputusan untuk tinggal sementara dan bekerja di Jakarta ini juga bukan keputusan yang mudah. Namun, ada sebuah keinginan pribadi untuk menjawab tantangan, melakukan sesuatu di sebuah kota metropolitan — yang bagi beberapa orang penuh rejeki, namun juga (kadang) kejam.

Pekerjaan tentu saja memberikan tantangan tersendiri. Namun, tidak hanya itu. Menjalani hari demi hari di kota ini bisa jadi mengasyikkan dan menyebalkan. Ada sebuah keasyikan tersendiri, kekesalan kadang juga menjadi sebuah bumbu tersendiri. Namun, saya mencoba menikmatinya. Bagi saya, ‘menikmati’ ini menjadi salah satu aktivitas yang lebih menenangkan daripada mencoba bereaksi menumpahkan kekesalan. Walaupun memang tidak gampang juga. Umpatan kekesalan juga sering keluar dari mulut. Suka atau tidak suka: hadapi atau nikmati.

Cara saya menikmati kota ini tentu saja menjadi pilihan pribadi. Kadang, malah saya bawa kebiasaan dan kondisi di Jogja kedalam situasi yang sangat berbeda. Misalnya jalan kaki dipinggir jalan besar. Hasilnya, beberapa kali harus kesal karena ada kendaraan yang melintas di genangan air, dipinggir jalan. Atau, jalan sedikit berakrobat karena kadang menemukan trotoar, kadang tidak.

Kebiasaan lain (di Jogja) yang saya bawa/lakukan adalah mengobrol dengan orang yang saya temui di jalan. Menyempatkan untuk duduk dan ngobrol dengan tukang ojek sebelum berangkat ke kantor bagi saya menjadi aktivitas yang menghibur. Mengetahui ada kabar apa di hari sebelumnya, atau ada cerita apa. Bahkan, kadang tak ada cerita — hanya bertegur sapa. Dari sinilah saya belajar beberapa hal seputar ojek. Tidak banyak, tapi menjadi tahu hal baru.

Menikmati Jakarta. Sepertinya menarik juga untuk dituliskan masing-masing bumbunya. Mari!