Mang Usman

Di Jakarta, saya lebih sering menggunakan penyebutan “Kang” daripada “Bang” ketika saya memanggil atau terlibat dengan pembicaraan dengan orang yang saya temui. Terutama dalam keseharian, misalnya penjual ayam/pecel lele pinggir jalan, nasi goreng, pemilik warung seberang kontrakan, termasuk juga sang empunya warteg langganan.

Saya tidak tahu kenapa, mungkin karena “Kang” ini lebih familiar bagi saya — dalam hal penyebutan. Toh, sampai sekarang tidak ada yang keberatan dengan panggilan itu (eh, memang akan ada yang keberatan ya? :D)

Tapi, ada satu orang yang cukup lain dalam saya memanggilnya. Orang itu adalah Usman — seorang yang buka warung rokok di area parkir depan kantor. Entah mulai dari mana, tapi kalau saya coba ingat, panggilan ini muncul karena teman-teman dikantor dulu lebih sering menyebut “Mamang”, atau hanya “Mang” saja. Walaupun pada akhirnya tahu kalau Mang Usman ini bukan nama sebenarnya. Saya pernah diberitahu kalau namanya itu Yusuf. Atau sebenarnya namanya Usman Yusuf? Atau Yusuf Usmanto? Ah, entahlah… Ya sudah, bagi kita namanya Mang Usman saja.

Kenapa tiba-tiba saya ingin menulis tentang Mang Usman?

Ketika sedang membuka aplikasi foto di laptop saya, dan ingin melihat beberapa foto yang ingin saya unggah di akun Flickr, saya menemukan satu koleksi foto. Foto-foto Mang Usman, bersama istri dan anaknya. Saya masih cukup ingat suasana pagi saat mengambil foto itu. Si Adam yang masih kecil sudah mandi dan menikmati makan paginya sambil berjemur. Mang Usman baru saja membuka warung. Pagi itu saya memang membawa kamera kantor — karena kantor ada kerjaan diluar. Dan lagi-lagi kebiasaan/kesukaan saya adalah memotret, maka saya iseng saja keluarkan kamera. Dari yang awalnya malu-malu membuang muka, si Adam ini jadi mulai senyum-senyum ketika saya panggil namanya. Kadang saya ajak becanda. Serasa menyenangkan sekali pagi itu…

Setelah itu, sama seperti hari-hari biasa. Kalau anak-anak kantor pada lapar, tinggal buka pintu dan tak lama kemudian semangkuk mie goreng atau mie rebus datang. Kadang teh atau kopi panas. Atau, minuman lainnya. Kadang, kalau kebetulan lagi pengen merokok dan rokok habis, warung Mang Usman ini seolah jadi telaga ditengah gurun. OK, ini berlebihan. :D

Dan, tidak jarang pula seisi kantor membuat Mang Usman repot dengan urusan administrasi. Ya, ngebon. Hehehe…

Oh ya, itu catatan jajan udah lunas semua kok…

Akhir tahun lalu, kantor berpindah tempat. Sebenarnya rencana ini sudah ada beberapa waktu sebelumnya. Kadang, saya sekadar duduk-duduk di ‘singgasana’ Mang Usman ini, untuk bercakap-cakap dan ngobrol. Pernah dia menanyakan pindah kemana, atau kapan. Para penyewa gedung juga dengar-dengar ada kabar mau pindah. Mungkin berlebihan, tapi saat itu terlintas di kepala saya, “Trus ini Mang Usman mau kemana?”

Setelah pindah kantor, saya sering kali menyempatkan ke warung. Sekadar menanyakan kabar, beli rokok, atau teh botol. Adam dan ibunya jarang terlihat disitu. Sering saya lihat dagangan di warung semakin sedikit, mungkin kalau mau kulakan cukup berpikir apakah nanti akan ada yang beli atau tidak. Sampai pada akhirnya, beberapa minggu lalu, warungnya tutup. Saya pikir mungkin dia sedang tutup saja. Mungkin, pulang kampung.

Tapi, beberapa hari berikutnya, kok malah warungnya sudah tidak ada lagi. Duh! Saya coba tanya ke tukang ojek yang mangkal didekat situ — yang kebetulan saya sudah kenal mereka — kemana Mang Usman sekarang. Si Yono, salah satu tukang ojek, bilang kalau warung pindah tidak jauh, masih di Jakarta Selatan. Saya bilang dalam hati kalau saya akan main kesana.

Belum lama ini, waktu saya pulang dari kantor, saya ketemu Mang Usman. Dia sedang dipinggir jalan, asik dengan tumpukan tanah. Saya sapa dan tanya kabarnya. Ternyata dia sedang mencari cacing untuk umpan memancing katanya. Hehehe… Asik juga kayaknya. Saya tanya kabar dia sekarang usaha apa, katanya sudah tidak jualan lagi, salah satunya karena belum dapat tempat. Istri dan anaknya balik ke kampung. Cirebon, katanya.

Saya tanya lagi, tentang kesibukan dan pekerjaannya apa. Katanya, dia mau balik menyupir saja. Ikut orang di bengkel. Saya tidak sanggup untuk tanya-tanya lagi. Saya cuma tidak ingin saya terlihat terlalu ikut campur urusan dia. Mungkin dia tidak nyaman juga saya terlalu banyak tanya. Entah. Sejak saat itu, saya tidak pernah melihat dia lagi…