Kue Putu

Saya lupa kapan tepatnya saya pertama kali makan kue putu. Jajanan yang menurut saya sederhana ini menang enak. Sewaktu saya kecil — mungkin saat masih SD — salah satu penjual kue putu yang saya ingat ada di pinggir jalan, sebelah sisi timur Alun-alun Utara Jogjakarta.

Penjualnya seorang ibu, dengan penerangan lampu minyak. Bukan gerobak, bukan kios. Seingat saya, hanya sebuah meja kecil dan kursi kecil. Putu disajikan dengan dibungkus daun pisang dan kertas koran. Harganya? Saya lupa.

Penjual Kue Putu

Ah, sepotong ingatan masa kecil yang tiba-tiba muncul ketika tadi sore membeli jajanan yang dijual secara berkeliling lewat rumah. Bukan kali pertama sebenarnya. Hampir setiap hari sekitar pukul empat sampai lima sore, seorang bapak berjualan kue putu berkeliling dengan menggunakan sepeda. Ketika mendekati rumah, suara yang muncul dari uap air untuk memasak kue ini mulai terdengar.

Sepotong kue putu ini dijual dengan harga Rp. 500,-. Murah atau mahal, itu relatif. Tapi, bagi saya yang lebih penting adalah sebuah jajanan yang enak, dan mungkin itu sebuah kemewahan.

Dan, mungkin lebih penting lagi adalah bahwa putu ada yang beli. Karena ada yang beli, berarti menambah alasan lagi bagi penjualnya untuk tetap berjualan.

Setelah menunggu beberapa saat, putu-pun matang. Masih dengan selongsong bambu dan putu didorong keluar dengan potongan kayu. Satu demi satu tersaji diatas piring. Dua belas potong yang saya dapatkan sore itu untuk harga Rp. 5.000,-

Dan, tentu saja dilanjutkan dengan ditaburi dengan parutan kelapa dan gula pasir. Oh ya, dulu taburan gula adalah gula bubuk. Dan, untuk yang saya beli ini, masih gula pasir biasa. Pasti masih ada pula yang memakai gula bubuk. Mungkin.

Langsung dimakan sudah enak. Irisan gula Jawa diantara tepung beras menawarkan rasa  manis dan sedikit asin. Gurih. Disajikan dengan teh hangat tidak terlalu manis, atau dengan kopi di sore hari tentu lebih nikmat.

Hayo, kapan Anda terakhir kali makan putu? :)