Kehilangan Nokia E72

Jadi, ceritanya minggu lalu saya resmi kehilangan sebuah telepon genggam Nokia E72. Ini kali pertama saya kehilangan telepon genggam. Tapi apa mau dikata, handphone yang baru saya beli kira-kira 2,5 bulan yang lalu itu hilang. Yang lebih membuat kehilangan itu begitu tidak mengenakkan karena masih ada beberapa pertanyaan dan rasa penasaran.

Ceritanya, setelah kepulangan dari Jakarta ke kota asal saya (Jogjakarta), saya berencana untuk makan malam dengan cewek saya. Semuanya baik-baik saja. Saat itu kami naik taksi, dan saya masih ingat dengan jelas kalau handphone saya masih ada ditangan ketika taksi belum berhenti sepenuhnya di tujuan. Setelah turun taksi, masih belum menyadari kalau handphone tersebut tidak bersama saya lagi. Barulah ketika pesanan makan tersaji diatas meja, ketika siap makan, dan ketika akan memotret makanan diatas meja — ya, ini mungkin salah satu ritual sebelum makan: motret makanan — barulah saya mulai kebingungan. Dimana E72 saya?

Saya coba telpon nomor di E72 saya, masih tersambung. Dan, seingat saya memang handphone dalam kondisi silent. Waktu saya telepon tersebut kira-kira sudah 30 menit sejak saya turun dari taksi. Mungkin ada dalam tas atau saku pakaian. Setelah mencari dan mencari, tetap tidak ada. OK, ada kemungkinan tertinggal di taksi. Akhirnya saya coba telepon operator taksi tersebut dan saya ceritakan situasinya. Saya cukup beruntung karena saya masih ingat nomor lambung taksi-nya. Sesaat kemudian, saya diberitahu kalau supir taksi yang bersama saya tidak menemukan apapun di kursi penumpang bagian belakang. Oh ya, sebelumnya bahkan saya dengan rasa sedikit putus asa mengirimkan SMS ke nomor saya tersebut, yang memberitahukan bahwa saya pemilik Nokia E72 tersebut. Dan, notifikasi yang muncul adalah SMS terkirim.

Saya coba tanyakan kembali, apakah dari tujuan akhir saya, taksi tersebut sudah menaikkan penumpang lagi. Katanya, belum ada penumpang setelah saya. Kemudian operator tersebut menawarkan kepada saya untuk berkomunikasi langsung dengan pengemudi taksinya. Saya ajukan pertanyaan yang sama. Pengemudi bilang tidak menemukan apapun di kursi belakang. Sambil menelpon, cewek saya juga menelpon nomor E72 saya. Masih tersambung. Saya sampaikan saja kalau ini handphone masih bisa ditelepon dan mungkin jatuh dibawah. Saya konfirmasi ulang apakah setelah mengantar saya, pengemudi taksi itu sudah sempat menaikkan penumpang lain. Dan jawaban yang saya peroleh sama: belum.

Karena rasa penasaran saya, akhirnya saya tanya dimana posisi pengemudi taksi tersebut. Ternyata tidak jauh dari tempat saya. Makan malam gagal, karena kami putuskan untuk membungkus semua makanan yang sudah siap. Untuk terakhir kalinya, saya telepon nomor di E72 saya, dan masih tersambung. Ketika keluar dari tempat makan, sambil menunggu taksi tersebut, saya masih coba telepon lagi. Hasilnya, tidak ada nada sambung. Handphone sepertinya sudah mati (dimatikan).

Setelah saya berada ditaksi yang sama, saya ulangi lagi pertanyaan-pertanyaan saya. Jawabannya sama: belum ada penumpang yang masuk setelah saya, dan pengemudi tidak menemukan dalam taksi. Yang berbeda adalah kondisi bahwa handphone saya tidak aktif. Dan kenapa handphone saya tidak aktif dalam rentang waktu yang cukup lama? Kalau memang sudah berada ditangan orang lain — dan berniat memilikinya — kemungkinan langsung dimatikan/dinonaktifkan secepatnya. Memang itu  hanya asumsi saja, tapi kalau berniat memilikinya, saya rasa memang begitu.

Saya cari dan cari. Dan, tetap tidak ada. Paling tidak, saya menjumpai sendiri bahwa handphone tidak ada dalam taksi. Saya tidak ingin menuduh. Ingin rasanya langsung bertanya langsung ke pengemudi taksi. Bukan dengan basa-basi, tapi dengan pertanyaan seperti “Benar bapak tidak lihat?” atau “Bapak yakin tidak menemukan handphone saya?”. Sekilas bahkan sempat terpikir untuk menggeledah sendiri. Tapi saya urungkan niat saya.

Sedih? Tentu saja. Karena barang tersebut saya beli dengan usaha sendiri. Tapi saya coba ikhlas saja. Mungkin ini akan menjadi lebih mudah bagi saya. Ya sudah hilang. Konon katanya bisa menerima keadaan itu bisa menjadi terapi tersendiri. Saya mencobanya. Dan, untuk terakhir kali, saya sempat SMS pengemudi taksi tersebut. Saya menyampaikan terima kasih sudah mengantarkan saya dan minta maaf kalau tadi merepotkan urusan kehilangan handphone tersebut. Dan saya tutup dengan kalimat semoga handphone tersebut bermanfaat bagi siapapun yang memilikinya sekarang. Delivered.

1 Comment

  • Kehilangan itu terasa nikmat ketika kita bisa melepaskannya dengan ikhlas tanpa hambatan… dan penggantinya pasti lebih baik lagi ;) #SokMetuwek