Jakarta ke Jogjakarta dengan Taksaka

Minggu lalu, dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Jogjakarta, saya menggunakan jasa kereta api. Rencananya, memang akan menggunakan pesawat terbang. Tapi, ketika mencoba mencari tiket di tempat yang sebelumnya saya datangi, kantor ticketing tersebut sudah tidak ada lagi (tutup). Akhirnya, saya putuskan saja untuk menggunakan kereta.

Sebenarnya, saya agak malas kalau mengingat pengalaman keterlambatan. Tapi, saya singkirkan sejenak hal tersebut. Siang hari sebelum berangkat — saya menggunakan kereta api Taksaka Malam — saya sama sekali belum memiliki tiket. Asumsinya, kalau hari Minggu dari Jakarta, mungkin tidak banyak penumpang yang berangkat. Sore harinya teman saya menyampaikan bahwa kereta api yang akan saya tumpangi masih memiliki cukup banyak kursi kosong, dan dijadwalkan berangkat pada pukul 20:45.

Perjalanan menuju Stasiun Gambir diantar oleh teman saya, Teguh. Sedikit terburu-buru juga pada akhirnya, karena jalanan yang macet. Baru sampai di Gambir sekitar pukul 20:30 dengan kondisi belum punya tiket. Bahkan, rencananya baru sampai Gambir ini mau mampir ke ATM, karena sisa uang di dompet tidak sampai Rp. 200.000,– Sialnya, ATM BCA yang saya jumpai semuanya tidak ada yang beroperasi. Waduh! Untunglah, teman saya ini berbaik hati mau meminjamkan sebagian uangnya untuk membeli tiket terlebih dahulu. Harga tiket saat itu Rp. 270.000,- Suwun yo pak!

Menurut jadwal, kereta akan tiba di Stasiun Tugu Jogjakarta pada pukul 04:45. Masih terlalu pagi sebenarnya. Tapi, kalau misalnya agak terlambat, mungkin malah jadi waktu yang sesuai. Ya, moga-moga saja tepat waktu. Gerbong kereta api yang saya tumpangi cukup penuh, tapi memang ada beberapa kursi yang kosong. Setelah kereta berjalan, penumpang disebelah saya pindah tempat duduk, karena ada tempat duduk yang kosong. Jadilah kursi disebelah saya kosong. Lumayan bisa untuk tidur (nanti). Salah satu kebiasaan saya kalau naik kereta adalah mengunjungi gerbong makan. Entah sekadar untuk membeli segelas teh panas, semangkuk mie rebus atau merokok.

Beberapa kali naik kereta, ada pemandangan yang mulai menjadi kebiasaan. Ada karaoke di gerbong makan. Tapi, kalau soal lagu, ya terima tidak terima lagu-lagu dangdut dan campursari tetap mendominasi.

10012010436-001

Kalau urusan menyanyi, awak-awak kereta api sepertinya tidak perlu diragukan lagi suaranya. Hehehehe. Saya sendiri belum punya keberanian untuk ikut karaoke, walaupun beberapa kali disodori mic oleh beberapa petugas kereta api yang kebetulan beristirahat disana. Selain karena suara yang tidak lebih merdu dari gesekan roda dan rel kereta api, perbendaharaan lagu dangdut dan campursari saya juga sangat mengecewakan.

Menjelang tengah malam, saya kembali ke tempat duduk saya dan mencoba untuk beristirahat. Tidur. Dan, mungkin baru kali pertama kemarin saya bisa tidur nyenyak. Entah karena memang badan lumayan capek atau apa. Tapi memang kemarin saya sedikit memaksakan untuk tidur. Colokan listrik yang ada di dinding gerbong tidak berhasil menggoda saya untuk menyalakan laptop saya. Saya lebih memilih untuk mencoba tidur karena pagi harinya memang ada cukup banyak hal yang harus diselesaikan di rumah.

Saya terbangun ketika beberapa petugas kereta api berkeliling untuk mengambil selimut, kira-kira pukul 04.00. Saya lihat ke handphone, ternyata memang sudah tidak jauh dari Jogja! Berarti benar-benar bisa tepat waktu. Dan ternyata benar, kurang lebih pukul 04.40 kereta berhenti di Stasiun Tugu Jogjakarta.

Saya tidak langsung pulang ke rumah. Tujuan pertama saya adalah mencari warung untuk sekadar minum teh lebih dulu. Menyeruput teh panas di pagi hari… Ah, saya sampai Jogja lagi. Dan mungkin, akan kembali (lagi!) ke Jakarta dalam beberapa minggu.

2 Comments