Hampir kehilangan iPad

Karena beberapa situasi, saya memang harus bolak balik dari Jogja ke Jakarta. Dan, ketika di Jakarta, sarana transportasi yang paling sering saya gunakan adalah taksi. Untuk alasan kepraktisan, dan tidak ribet saja. Selama saya di Jakarta, dan berdasarkan pengalaman pribadi (termasuk rekomendasi), saya memang hanya memilih untuk naik beberapa taksi dari perusahaan Blue Bird, Express, Gamya, dan Taxiku.

Taksi lain pernah sekali dua kali menggunakan. Dan, selama ini bisa dikatakan tidak ada menemui masalah atau pengalaman yang tidak mengenakkan. Satu atau dua kali pernah, tapi dibandingkan dengan seluruh pengalaman, saya rasa saya beruntung karena bisa dikatakan mendapatkan pelayanan yang baik.

Beberapa hari yang lalu, ketika menggunakan jasa taksi di Jakarta — saat itu saya menumpang Taksi Express, saya hampir kehilngan iPad saya. Untuk sepotong cerita, saya sudah tuliskan di blog lain. Tapi, ini mungkin adalah potongan cerita yang lain tentang apa yang terjadi hari itu.

Screen-Shot-2013-04-08-fmi0

Setelah menyadari kehilangan, saya telepon layanan konsumen dari Taksi Express. Kondisinya adalah bahwa saya tidak ingat nomor lambung taksi yang saya gunakan, dan rentang waktu sudah cukup lama. Sempat panik tentu saja, tapi sepertinya saya setuju bahwa yang paling penting adalah untuk tetap tenang.

Saya pantau melalui aplikasi Find My iPhone, dan terlihat bahwa saat pertama kali melihat, iPad saya berada di daerah Sunter, Jakarta Utara. Saya tunggu, dan saya kembali mencoba menarik lokasi terbaru. Sudah berpindah. Begitu seterusnya. Saya sempatkan untuk membunyikan alarm melalui menu “Play Sound” di aplikasi, dan juga mengirimkan pesan yang isinya adalah memberitahu bahwa saya adalah pemilik iPad, dan meminta pengemudi taksi tersebut (jika memang yang memegang adalah pengemudi taksi) untuk menghubungi saya melalui nomor yang saya tuliskan.

Screen-Shot-2013-04-08-ipadmsg

iPad saya saya ubah statusnya menjadi “Lost Mode”.

Sempat saya telepon kembali layanan pelanggan Taksi Express, menyampaikan informasi bahwa iPad saya ada di sebuah lokasi. Namun, karena jumlah armada (yang saya tahu) sangat banyak, ditambah bahwa tidak semua (atau malah belum semua?) taksi tidak dilengkapi dengan fitur GPS, jadi informasi ini tidak begitu membantu.

Saya mengambil kesimpulan sendiri, bahwa:

  • Besar kemungkinan iPad saya masih ada di dalam taksi. Perkiraan saya: pengemudi taksi menyimpannya, dan menaruh ditempat bagasi.
  • Taksi sedang mengantarkan penumpang, sehingga pengemudi memutuskan untuk melayani penumpang yang sedang dia bawa.
  • Saya semakin yakin kalau iPad saya masih di taksi, karena lokasi selalu berpindah, dan menunjukkan ke jalan-jalan utama di Jakarta.
  • Pemikiran positif saya yang lain adalah: nantinya taksi akan kembali ke pangkalan, menyerahkan iPad saya dan saya akan dihubungi oleh operator taksi tersebut.

Selang beberapa waktu, saya naik taksi lagi, dan menggunakan Taksi Express kembali. Tidak memilih, cuma karena memang itu taksi yang kebetulan saya dapatkan. Salah satu kebiasaan saya naik taksi adalah membuka obrolan ringan. Kadang, pengemudi duluan yang menyapa atau membuka percakapan. Tapi, saat itu saya yang memulai.

Saya sampaikan apa yang baru saja terjadi. Dan, saya sudah menduga jawaban bahwa “Ya susah pak kalau tidak tahu nomor taksinya berapa. Kalau tahu, gampang nyarinya…”. Kurang lebih seperti itu.

Saya coba lagi memeriksa kembali melihat lokasi iPad melalui Find My iPhone di iPhone 5 saya. Wah, cukup dekat. Ditambah dengan kondisi jalan yang saat itu bisa dikatakan cukup lancar. Ini hal baik, tapi sekaligus hal yang kurang baik dalam pencarian saya tersebut. Kenapa?

Screen-Shot-2013-04-08-fmi1

Hal baiknya adalah saya bisa menuju ke lokasi tersebut dengan lebih cepat. Namun, dalam kondisi yang sama, taksi yang “membawa” iPad saya juga bisa bergerak dengan lebih cepat. Situasi lainnya adalah bahwa ada delay antara hasil lokasi dengan lokasi sebenarnya ketika saya melihat melalui iPhone. Sering terlihat bahwa “Last location” itu diambil 30 detik atau 1 menit setelahnya. Saya putuskan untuk menguji keberuntungan saya, sekaligus melampiaskan rasa penasaran.

“Pak, kalau kita coba ke arah taksi berdasarkan lokasi yang saya dapat melalui GPS mau nggak?”, tanya saya. Pengemudi taksi tersebut mengiyakan. Akhirnya saya pandu, dan pengemudi taksi tersebut pro aktif menanyakan ke saya. Beberapa lampu merah telah dilewati. Dan, ada satu situasi bahwa lokasi taksi dalam rentang waktu 30 detik terakhir ada di sebuah perempatan tidak jauh dari lokasi saya.

“Kita coba pak, ke arah situ…”. Taksi menuju ke daerah Pecenongan. Setelah mendekati area itu, saya coba cek lokasi, dan ternyata taksi tersebut menunjukkan riwayat jalan yang berkebalikan. Berarti: tadi iPad saya “sempat lewat berpapasan”. Masalahnya, kalau mau putar balik, itu bukan perkara mudah. “Lagi dimana mas posisi terakhir?”. Saya lihat, ternyata sudah ke arah Stasiun Kereta Gambir. “Mau dicoba?”. Saya jawab, “Boleh pak..”

Begitu seterusnya percakapan beberapa menit selanjutnya. Sampai saya ketahui bahwa iPad saya sudah masuk ke daerah Jl. Thamrin. “Kalau selanjutnya mengarah ke Sudirman, sepertinya makin sulit…”, pikir saya. Dan benar saja, iPad saya menuju ke arah Jl. Sudirman. Saya putuskan saja untuk balik ke kantor, karena dari posisi terakhir saat itu, memang jarak ke kantor tidak terlalu jauh.

Screen-Shot-2013-04-08-fmi

Ketika dalam perjalanan menuju kantor, dalam hati saya cuma berpikir kalau iPad saya kembali. Kalaupun tidak, ya sudah toh ini pada akhirnya terjadi karena keteledoran saya sendiri. Tidak ada yang perlu disalahkan.

Sesampai di kantor, saya sampaikan yang baru saja terjadi. Beberapa rekan di kantor ikut kaget juga. Saat itu, saya cuma pasrah saja. Jadi, gara-gara ini mungkin saya malah terlihat lebih santai. Rekan kerja yang lain ada yang menyarankan saya untuk mendatangi lokasi terakhir. Intinya: memperjuangkan untuk bisa mendapatkan iPad saya kembali. Saya sendiri tidak bereaksi terlalu banyak, ya karena memang ini kemungkinannya kecil.

Kebetulan, tempat kerja saya memiliki karyawan dan personel lapangan yang ada di beberapa area di Jakarta (dan beberapa di kota lain). Akhirnya, mencoba peruntungan dengan cara yang lain. Kita telepon karyawan yang berada di area terakhir iPad terlihat, dan memandunya. Ini terjadi selama beberapa menit, dengan perpindahan lokasi. Tidak mudah memang, apalagi dengan jumlah armada yang tidak sedikit. Tapi, paling tidak sudah menjawab rasa penasaran rekan kerja disana.

Saya kembali ke MacBook Pro saya. Saya coba pencet tombol “Refresh”. Selang beberapa detik kemudian, saya mendapatkan telepon dari nomor yang tidak saya kenal. Spontan pemikiran saya adalah bahwa penelpon adalah pengemudi taksi bersama iPad saya.

Dan,… benar!

“Halo selamat siang pak, ini bapak yang ketinggalan barang di taksi ya?”, tanya seseorang di seberang sana. “Benar, pak! Bapak pengemudi taksi tadi ya? Nomor taksi bapak berapa, dan bapak ada dimana?”. Agak beruntun pertanyaan saya, tapi ini yang terpikir pertama kali terpikirkan.

BC 5713. Itulah nomor taksinya. Kemudian saya berbincang sebentar untuk mengatur tentang apakah taksi tersebut bisa mengantarkan ke tempat saya. Atau, kalaupun saya harus mendatangi, tidak masalah juga. Akhirnya pengemudi taksi tersebut menyanggupi untuk mengantarkannya dari kawasan Kuningan.

Selanjutnya, saya berbalas pesan melalui SMS, memberitahukan tentang lokasi saya, memberikan informasi yang cukup lengkap. Dan, saya sampaikan kalau tidak perlu terburu-buru. Yang penting, saya sudah lebih tenang mengetahui dimana iPad saya berada. Pada salah satu pesan pendek, pengemudi taksi menyampaikan kalau dia sedang makan siang.

Ketika sedang berdiskusi, saya mendapat telepon kembali dari pengemudi taksi tersebut. Saya langsung keluar dari ruangan, dan menjumpai taksi sedang menunggu di depan. Pintu depan terbuka, dan saya menyapa pengemudi taksi tersebut.

Pengemudi taksi tersebut membuka laci depan. Saya melihat iPad saya dalam case berwarna merah. Bapak tersebut mencoba mengeluarkannya, dan karena posisi yang agak kurang menguntungkan, jadi agak susah mengeluarkannya. Akhirnya saya bantu.

iPad berada di tangan saya. Saya ucapkan terima kasih, dan saya berikan sedikit tanda terima kasih untuk bapak tersebut. Jumlah yang menurut saya termasuk kecil atas nilai iPad yang kembali. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.

Selanjutnya, saya segera menelpon kembali layanan konsumen taksi, dan memberitahukan tentang status kasus saya. Saya sampaikan bahwa permasalahan saya sudah terselesaikan. Kemudian, saya minta detail pengemudi (nama, pool, dan alamat pool-nya) berdasarkan informasi nomor taksi yang saya dapatkan, dan saya menyampaikan apresiasi atas kejujuran dan kebaikan pengemudi tersebut. Terima kasih, Pak Heru dari pool Bekasi!

Selanjutnya, saya kirimkan pesan pendek kembali ke Bapak Heru tersebut untuk mengucapkan terima kasih sekali lagi. Beliau menjawah pesan saya.

Ya, masih ada — dan saya yakin banyak — orang baik yang ada di sekitar kita. Mungkin yang jarang adalah adanya kesempatan untuk dipertemukan…