Frekuensi Menulis di Blog dan Mikroblog

Kemarin, Ivan Lanin melontarkan sebuah pertanyaan melalui akun Twitter miliknya:

Apakah mikroblog dan pemutakhiran status membuat orang jadi lbh malas menulis di blog “tradisional”? [tautan]

Gara-gara pertanyaan tersebut, saya tergoda untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan lebih panjang, melalui sebuah entri di blog ini. Jawaban saya untuk pertanyaan tersebut melalui akun Twitter saya sepertinya terlalu singkat.

Saya tidak akan menjawab mengenai istilah blog “tradisional”, tapi pemahaman saya terhadap kata ‘tradisional’ tersebut adalah blog yang pada umumnya dikenal, sebelum mikroblog berkembang sampai dengan hari ini. Atau mungkin, ketika layanan semacam Twitter, Plurk, Facebook, Foursquare, Koprol, dan lain sebagainya menjadi sangat populer.

Saya sendiri harus mengakui bahwa aktivitas menulis di blog juga cenderung menurun, walaupun dari sisi jumlah blog yang saya kelola bertambah, namun perubahan jumlah tulisan bisa dikatakan tidak mengalami peningkatan yang berarti. Sejak saya menulis di sebuah blog sekitar tahun 2001 — walaupun yang terarsipkan hanya mulai tahun 2002 dikarenakan banyak mengalami pergantian alat bantu blog dan webhosting — ternyata sampai sekarang ‘hanya’ ada sekitar 1.000 entri saja. Tapi, selama rentang waktu tersebut, jumlah blog yang saya miliki dan kelola juga bertambah. Ditambah lagi, dengan keterlibatan saya dalam beberapa blog yang bukan milik saya pribadi. Satu hal: kesibukan terus bertambah.

Kesibukan bisa jadi menjadi sebuah alasan yang mungkin juga akan dilontarkan oleh para narablog. Konsistensi menjadi sebuah tantangan yang tidak enteng. Beberapa tahun lalu, saya pernah menjumpai orang yang dengan semangat akan menulis dengan telaten. Beliau dengan berapi-api menyampaikan kalau akan menulis rutin. Beliau mengatakan sanggup, karena hal itu bagi dia tidak sulit. Dalam hati, saya hanya berpikir, “Ah, belum tahu dia…” Hasilnya? Dua bulan lebih tak satupun tulisan dihasilkan. Alasannya? Sibuk.

Kesibukan ini juga didukung dengan begitu maraknya layanan di internet yang (mungkin) menjadi gangguan tersendiri dalam aktivitas menulis di blog. Ya, kehadiran layanan mikroblog. Hanya mikroblog? Tentu tidak. Saya sendiri merasa bahwa aktivitas menulis blog saya terganggu dengan kehadiran Flickr. Keingintahuan saya untuk mencoba podcast bahkan videoblog juga saya nilai sebagai ‘gangguan’ aktivitas menulis blog.

Plurk, Twitter, Facebook, MySpace, dan layanan online lain mungkin menjadi lebih menarik. Karena sederhana, dan proses interaksi berlangsung dengan lebih cepat. Saya — dan mungkin anda — pasti akan jauh disibukkan karena interaksi yang begitu luar biasa dilayanan tersebut. Tentu saja jika Anda menggunakan layanan tersebut. Di Facebook misalnya, respon untuk status kita bisa datang bertubi-tubi. Seorang teman mengunggah foto kemudian men-tag nama kita, sudah menjadi urusan tersendiri. Ulir diskusi berlangsung dengan cepat. Kadang, mengabaikan percakapan bisa menjadi alasan untuk menyelamatkan diri dari keriuhan. Belum lagi ketika kita di-mention di Twitter. Atau, menemukan tautan/informasi menarik melalui Twitter, Facebook, dan medium mikroblog lain. Semuanya akan membuat kita menjadi jauh lebih sibuk (lagi!).

Beberapa tahun lalu, saya mungkin lebih banyak menulis. Kemudian kebiasaan agak berubah dari sisi konten yang diproduksi. Mulailah gambar, audio dan video. Mulai tahun lalu, mungkin lebih banyak membaca saja.

Menjadi lebih selektif? Tentu saja. Sampai sekarang, sehari tetap 24 jam. Waktu yang dimiliki untuk menikmati dan berada dalam gegap gempita informasi semakin sedikit. Tapi, kenapa juga gara-gara sebuah status Twitter Ivan Lanin diatas, saya malah membuat sebuah entri sepanjang ini ya?