Fenomena halaman Facebook tentang Say “NO!!!” to …

Saya tahu pertama kali tentang salah satu halaman di layanan jejaring sosial Facebook yang menkampanyekan tentang ‘Say “NO!!!” to Megawati’ justru bukan dari Facebook, melainkan dari layanan microblogging Twitter. Karena terus terang, saya lebih aktif memanfaatkan Twitter daripada Facebook.

Yang menarik — bagi saya — justru lebih kepada informasi yang bertebaran di halaman tersebut. Sepertinya media tersebut digunakan untuk menempatkan hal-hal yang (bagi para pengguna layanan Facebook) mungkin menjadi uneg-uneg, aspirasi, atau bahkan… menghujat. Yang cukup mengherankan adalah bagaimana jumlah pertumbuhan suporter untuk halaman tersebut. Kurang dari 3 (tiga) hari saya rasa, halaman tersebut telah memiliki lebih dari 60,000 suporter. Menurut saya ini adalah sebuah angka yang tidak kecil jika dibandingkan dengan berapa jumlah pengguna Facebook yang berasal dari Indonesia.

Sangat sulit untuk membaca satu per satu tulisan yang muncul di “Wall”. Karena pergerakannya sangat cepat, tapi beberapa kali — sering sih — saya lihat, banyak beberapa hal yang berulang kali dituliskan. Saya tidak akan menuliskan tentang komentar yang bersifat menghujat, tapi ini beberapa isu yang diangkat:

  • Mempertanyakan konsistensi pandangan tentang Bantuan Langsung Tunai (BLT). Saya secara pribadi juga mempertanyakan hal ini — namun saya tidak menuliskan dalam media tersebut. Di media massa sering kita dengar bahwa Megawati selalu mengkritisi tentang BLT, menganggap bahwa BLT itu menghina rakyat, tidak efektif, menjadikan rakyat menjadi malas, dan sebagainya. TAPI disaat yang sama, partai yang mengusung beliau juga menggunakan isu BLT sebagai salah satu materi kampanyenya. Nah, jadi bagaimana sebenarnya konsistensi pandangan partai (dan pemimpinnya) terhadap BLT ini?
  • Kinerja Megawati selama menjabat sebagai presiden. Banyak pertanyaaan dan pernyataan yang mengkritisi bagaimana prestasi yang didapatkan oleh Megawati selama beliau menjabat sebagai presiden. Beberapa yang cukup mencolok (menyolok?) adalah tentang penjualan aset negara, kondisi ekonomi saat itu, apa yang telah dilakukan oleh Megawati.
  • Sikap nasionalisme Megawati sebagai calon presiden, dan sebagai seorang pemimpin. Banyak suporter halaman tersebut mempertanyakan tentang mengapa tidak hadir dalam upacara kenegaraan? Dimana beliau pada saat pelantikan SBY?

Saya lihat di hari-hari awal, tidak/belum banyak media yang meliput fenomena ini. Yang pasti, sekarang sudah mulai banyak berita tentang hal ini. Sebut saja misalnya Kompas.

PDI-P Laporkan Facebook “Say No!!! to Megawati” ke Bawaslu

PDI Perjuangan, kata Pramono, akan segera melaporkan komunitas itu kepada pengawas pemilu. “Pasti itu merupakan black campaign yang dilakukan dengan sangat terbuka. Dalam UU Pemilu, pelaku bisa diancam pidana pasal 270 dengan hukuman 24 bulan. Kami meminta Bawaslu menyikapi hal ini karena ada upaya mengadu domba,” kata Pramono saat dihubungi Kompas.com, Senin.

PDI-P: Facebook “Gerakan Anti-Mega” = “Black Campaign”

Lebih lanjut ia mengatakan, ini termasuk black compaign sekalipun ia mengaku belum melihat sendiri grup itu di Facebook. “Motifnya jelas. Kami bisa melihat sendiri akan memberi keuntungan kepada siapa dan siapa yang dirugikan,” kata Aria.

Detik Pemilu juga menuliskan artikel tentang fenomena ini, dalam artikelnya dikatakan bahwa pembuat halaman di Facebook tersebut bisa dijerat dengan hukuman penjara 1 tahun dan denda 24 juta. Hal ini merujuk pada pasal 270 Undang Undang (UU) Pemilu.

Pasal 270 UU Pemilu berbunyi,’ Setiap orang dengan sengaja melanggar larangan pelaksanaan kampanye Pemilu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, atau huruf i dipidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan denda paling sediki Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dan paling banyak Rp24.000.000,00.’

Yang menjadi pertanyaan/fakta yang mungkin masih terus akan diperdebatkan pasti akan terus bertambah. Apakah suporter untuk halaman tersebut ikut karena ajakan? Apakah ada penggerakan opini ke arah sana? Apakah yang disampaikan adalah fitnah, atau fakta? Kita tunggu saja perkembangannya. Saat saya tuliskan artikel ini, jumlah statistik suporter untuk halaman tersebut sudah lebih dari 74.000. Bukan kapasitas saya untuk menilai berapa akun yang memang berniat untuk mendukung, tidak mendukung, atau akun fiktif.