Cerita Perjalanan ke Malaysia (Hari Pertama)

Kalau mendengar kata Malaysia, pikiran saya seringkali langsung tertuju kepada hubungan yang terasa kurang manis antara Indonesia dengan Malaysia. Terutama ketika menyangkut pariwisata, atau budaya. Kadang merasa kesal, tapi jujur saja lebih sering merasa tidak memedulikan. Tidak akan selesai kalau harus mencari siapa yang salah atau dipersalahkan, atau siapa yang benar.

Jadi, lebih sering isu seputar hubungan yang kurang harmonis tidak terlalu menyita perhatian saya.

Awal tahun ini, saya berkesempatan untuk mendatangi Malaysia, negeri jiran sahabat Indonesia. Kedatangan saya untuk kali pertama tersebut untuk urusan pekerjaan, jadi praktis jadwal dan agenda lebih banyak terkait pekerjaan, bukan liburan. Saya hanya menghabiskan 3 hari 2 malam disana. Tidak banyak waktu mengeksplorasi negara yang memiliki 13 negara bagian, dan 3 wilayah persekutuan tersebut. Dan, ini beberapa catatan dalam perjanan saya.

Terbang menuju Kuala Lumpur

Bersama dengan 4 orang rekan kerja, saya berangkat dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dengan maskapai Air Asia pada pukul 06:25. Saya sendiri sudah tiba di lokasi sekitar pukul 05.30. Proses pemeriksaan imigrasi dan pembayaran airport tax juga cukup cepat dan lancar.

Pesawat Air Asia QZ8190 berangkat tepat waktu, tidak ada yang istimewa dalam perjalanan. Saya sendiri menghabiskan sebagian waktu dalam penerbangan untuk tidur — karena belum tidur sama sekali malamnya. Sekitar pukul 09:25 waktu Kuala Lumpur, pesawat mendarat di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) (KUL).

Setelah sampai, saya dan rekan-rekan yang lain memutuskan untuk sarapan (atau lebih tepatnya makan siang). Pilihan jatuh ke Old Town White Coffee. Untuk pilihan menu, saya memilih Old Town Nasi Lemak dengan Ayam Goreng. Untuk minum, saya memilih segelas Teh Tarik.

Nasi Lemak with Fried Chicken
Nasi Lemak with Fried Chicken

Setelah selesai makan, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan taksi ke kawasan Damansara Perdana di Petaling Jaya. Saat itu, saya memang tidak terlalu mencari informasi terlebih dahulu tentang lokasinya. Perkiraan perjalanan sekitar satu jam. Tujuannya sendiri adalah ke kantor rekanan. Biaya taksi sendiri — dengan harga dari counter taksi yang ada adalah RM 84.30.

 Melihat sepintas melalui perjalanan

Saya tidak melihat banyak hal yang istimewa selama perjalanan dari bandara ke kawasan Damansara Perdana. Mungkin perbedaan yang cukup terasa adalah bahwa jalanan yang bisa dibilang sangat lancar.

Cuaca sendiri juga tidak terlalu berbeda dengan Jakarta atau Jogja. Mungkin yang sedikit berbeda karena saya akan membiasakan diri dengan logat atau bahasa Malaysia.

Pengemudi taksi juga bisa sedikit berbahasa Inggris. Walaupun saya sendiri lebih sering untuk kesulitan menangkap apa yang diomongkan.

Akhirnya, sekitar jam makan siang, saya bersama rombongan sampai di tempat rekanan. Dilanjutkan dengan meeting sebentar, lalu dilanjut dengan makan siang. Dan, disinilah petualangan kuliner dimulai. Memang saya tidak begitu banyak membaca referensi makanan yang ada di Malaysia. Karena masih cukup kenyang, saya memilih untuk membeli segelas jus wortel saja.

Agenda pertama adalah untuk bertemu dengan klien yang ada di kawasan Petaling Jaya. Perjalanan kali ini dengan menggunakan mobil. Dan, selama perjalanan, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk ikut dalam obrolan dengan rekanan, atau melihat-lihat melalui jendela mobil.

Selanjutnya, ada ajakan makan sore (lebih tepatnya sebenarnya adalah mencari makanan kecil). Oleh tuan rumah, kami diajak ke salah satu tempat makan dengan menu utama roti canai dan kari, tepatnya ke Kanna Curry House (masih di Petaling Jaya). Sebuah menu yang bukan favorit saya. Bukan berarti tidak suka, hanya kurang cocok saja di lidah.

Tidak banyak ragam makanan yang saya coba. Kebanyakan memang yang mengandung kari. Ini adalah beberapa gambar makanan yang tersaji.

Malam harinya, saya berkesempatan untuk mengunjungi Menara Petronas — atau yang juga dikenal dengan Petronas Twin Towers — di Kuala Lumpur. Menara yang bukan hanya cantik untuk dilihat, tapi juga terlihat sangat megah.

8366712786_24919d0087_z

Menara ini sempat menjadi bangunan tertinggi di dunia pada periode 1998-2004, dengan tinggi 452 meter, dengan 88 lantai. Saat ini, Menara Petronas merupakan bangunan tertinggi nomor 6 setelah Burj Khalifa (Dubai), Makkah Royal Clock Tower Hotel (Arab Saudi), Taipei 101 (Taiwan), Shanghai World Financial Center (China) dan International Commerce Centre (Hong Kong).

Tak lengkap rasanya kalau tidak mengabadikan beberapa foto disana.

Setelah cukup puas berkeliling dan mencoba makan juga disana, akhirnya balik ke apartemen yang masih berada di Kuala Lumpur untuk beristirahat. Agenda berikutnya: meeting panjang… :)

3 Comments