Catatan Perjalanan: Lion Air JT-568 CGK-JOG, 28 Mei 2015

Akhir bulan Mei 2015, saya ke Jakarta — lebih tepatnya ke Tangerang — untuk urusan pekerjaan. Perjalanan dari Jogjakarta menuju Jakarta saya tempuh melalui kereta api karena alasan efisiensi juga. Keperluan saya di Jakarta mulai jam 08.00, kalaupun dengan pesawat pertama, belum tentu saya bisa menjangkau tujuan dengan tepat waktu.

Dan, saya memutuskan untuk pulang ke Jogjakarta dengan menggunakan pesawat bersama dua orang rekan saya yang sehari sebelumnya sudah berada di Jakarta. Karena mencari jadwal yang sesuai (dan aman untuk menyelesaikan pekerjaan) dan rute perjalanan menuju bandara, kami memutuskan untuk menggunakan maskapai Lion Air dari bandar udara Soekarno-Hatta.

Lion Air Boeing 737-900 ER

Lion Air nomor penerbangan JT-568 yang kami tumpangi direncanakan berangkat dari Terminal 3 pada pukul 19.00 WIB dan direncanakan mendarat pada pukul 20.10 WIB di Adisutjipto, Yogyakarta.  Proses check-in berlangsung dengan lancar tanpa kendala yang berarti. Sekitar pukul 18:15, kami bertiga sudah berada di ruang tunggu yang sore itu terlihat cukup ramai (banyak penumpang yang akhirnya duduk-duduk di lantai ruang tunggu.

Beberapa kali, petugas dari maskapai yang berangkat dari Terminal 3 (seperti AirAsia dan Lion Air) mengumumkan ada beberapa penerbangan yang terlambat, dan termasuk penerbangan saya. Seingat saya, penerbangan saya ditunda sampai sekitar 30 menit dari jadwal.

Setelah menunggu, akhirnya panggilan boarding naik ke pesawat datang juga sekitar pukul 19.15. Salah satu rekan naik duluan ke bis yang membawa kami ke pesawat. Saya dan rekan saya yang lain memutuskan untuk naik ke bis berikutnya, karena bis yang sudah terlalu penuh. Ternyata, menunggu cukup lama, karena ada penumpang yang belum datang (masuk ke dalam bis). Sekitar pukul 19:35, barulah bis berangkat. Dan, ternyata pesawat sepertinya bukan di area Terminal 3, karena waktu tempuh menuju ke pesawat yang sepertinya cukup lama.

Tak mengapa, paling tidak sudah boarding. Bayangan saya saat itu adalah: masuk ke pesawat, duduk, dan menikmati sisa perjalanan sambil beristirahat. Ternyata, harapan saya agak meleset.

Ketika sudah berada di dalam pesawat, saya langsung menuju ke tempat duduk sesuai dengan informasi pada boarding pass saya. Ternyata, tempat duduk saya sudah diisi oleh orang lain. Begitu juga tempat duduk rekan saya. Kacau!

Kalau dulu pernah beberapa kali membaca berita tentang adanya nomor kursi ganda pada boarding pass di penerbangan Lion Air, saat itulah untuk kali pertama saya mengalaminya. Tentu saja, para penumpang sempat bingung. Banyak penumpang yang sudah berada di dekat tempat duduk akhirnya diarahkan oleh kru pesawat dengan, “Silakan pindah ke belakang di tempat duduk yang masih kosong.” Begitu kurang lebih instruksinya. Saya sudah terlalu lelah untuk berargumen, karena sepertinya tidak ada gunanya.

“Silakan Bapak pindah ke belakang di tempat duduk yang masih kosong.”

Akhirnya, saya mendapatkan tempat duduk yang kosong. Tak lama berselang, ada penumpang lain yang menanyakan tempat duduk saya, karena tempat duduk tersebut adalah miliknya. Saya jelaskan situasinya. Dan, hal seperti ini otomatis terjadi di penumpang lainnya. Raut muka penumpang terlihat banyak yang kecewa dan marah. Tentu saja, mereka punya alasan yang masuk akal, termasuk saya.

Dengan segala keribetan proses boarding, akhirnya seluruh penumpang yang masuk dalam penerbangan tersebut sudah duduk. Dan, selain penumpang dari Jakarta ke Jogjakarta, ternyata ada penumpang yang nantinya akan melanjutkan perjalanan ke Denpasar, Bali.

jt-913751985-10810w8r1-51

Cukup lama menunggu di dalam pesawat, pesawat belum juga melakukan pushback. Pramugari mengumumkan informasi keterlambatan, yang kurang lebih karena pesawat mengalami keterlambatan dari Makassar(?). Setelah menunggu lagi sejak pengumuman, kapten pilot memberikan pengumuman kalau pesawat harus mengalami keterlambatan lagi karena belum mendapatkan ijin untuk terbang, karena adanya ‘aktivitas militer’ di bandara Adisutjipto. Duh!

Akhirnya, sekitar pukul 20:35 WIB, pesawat terbang meninggalkan Soekarno-Hatta. Penerbangan berlangsung dengan cukup lancar dalam kondisi cuaca yang cukup baik. Ketika sudah mendekati kota Jogjakarta, sekitar pukul 21:15 WIB kembali pilot pemimpin penerbangan menginformasikan bahwa pesawat belum bisa mendarat karena belum mendapatkan ijin mendarat. Hal ini sesuai dengan informasi sebelumnya yaitu karena adanya ‘aktivitas militer’ di bandara Adisutjipto, Jogjakarta. Entah aktivitas apa, saya juga tidak tahu.

Akhrinya, sekitar pukul 21:55 WIB, pesawat mendarat di landasan Adisutjipto dengan selamat. Pendaratan malam itu terasa kurang nyaman. Pesawat mendarat dengan agak keras. Kalau untuk mengurangi kecepatan, saya rasa seluruh penerbangan yang mendarat disini kurang lebih sama.

Perjalanan yang panjang…

Catatan: Tulisan diatas adalah tulisan pribadi berdasarkan pengalaman terbang pada tanggal yang tertulis. Data jalur penerbangan merujuk pada situs Flightradar24. Koleksi foto adalah koleksi pribadi yang diambil selama perjalanan.