Biaya Tambahan Go-Food oleh Go-Jek Indonesia dari Penjual?

Saya sudah cukup lama menggunakan jasa layanan Go-Jek terutama di Jogjakarta dan Jakarta. Secara frekuensi, dulu kebanyakan hanya ketika di Jakarta saja. Namun, sejak Go-Jek (dengan layanan lainnya) hadir di Jogjakarta, frekuensi pemakaian layanan menjadi lebih tinggi. Ada tiga layanan utama yang paling banyak saya manfaatkan: Go-Ride, Go-Send, dan Go-Food. Secara umum, saya mendapatkan layanan yang cukup baik.

Oh ya, fitur untuk memberikan tip melalui Go-Pay setelah layanan selesai saya rasa juga baik, karena ketika saya ingin memberikan tips, saya sering tidak bawa uang tunai. Dan, hampir seluruh transaksi sekarang saya lakukan melalui Go-Pay.

Soal harga, seluruh layanan bagi saya cukup terjangkau, walaupun kadang kok terasa “terlalu murah”. Jadi, memberikan tip atau kadang menambahkan pesanan di Go-Food untuk diberikan kepada pengemudi bisa jadi salah satu cara — bagi saya — untuk mengucapkan terima kasih.

Kejelasan Harga Layanan Go-Food

Dalam menggunakan layanan Go-Food, saya biasanya memilih atau memutuskan untuk menggunakan layanan dengan alasan berikut:

  • Saya memang cukup malas untuk keluar rumah, apalagi jika memang kebetulan ada pekerjaan dan juga ketika sudah terlalu malam.
  • Variasi makanan yang dapat dipesan juga makin beragam.
  • Layanan yang “Free Delivery” juga tersedia, walaupun tidak semua. Bagian ini saya tidak terlalu masalah, karena kalaupun memang ada biaya antar, toh ini juga jelas biayanya.

Mengenai “Free Delivery” ini, saya merasa ada hal yang kayaknya cukup membingungkan. Atau, paling tidak berbeda antar kebijakan. Pemesanan melalui Go-Good ada dua parameter utama: 1) Harga yang tertera dan 2) biaya kirim (jika ada). Apabila ada outlet yang memiliki label “Free Delivery”, maka biaya pengiriman ditiadakan, dan kita hanya membayar sesuai dengan nota. Sesederhana itu.

Namun, dalam satu transaksi akhir-akhir ini, saya mendapati bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada saya. Biasanya, biaya semacam ini tidak pernah ada. Bahwa misalnya ada “harga khusus versi Go-Food” yang diberlakukan oleh outlet, saya masih bisa menerima misalnya harga dilebihkan. Tapi, selama ini, harga yang tertera di aplikasi dengan harga sebenarnya juga sesuai. Pun tidak, saya berpatokan kepada nota pembelian.

Ketika menerima nota diatas dalam sebuah pemesanan, saya terus terang bertanya-tanya. Saya tidak pernah membaca informasi bahwa ada biaya 15% dari total belanja. Ya, 15%! Outlet pemesanan tersebut — di Jogjakarta — memilik label “Free Delivery”.

Saya bertanya-tanya saja, apakah 15% tersebut sampai dengan nominal tertentu misalnya jika transaksi Rp. 100.000,- maka biaya antar akan sama dengan biaya jika tidak “Free Delivery” dengan asumsi biaya antar Rp 15.000,-? Kalau transaksi sampai Rp 200.000,- berarti jika menggunakan prosentase, maka akan ada tambahan Rp. 30.000,-?

Saya coba ulangi melakukan pemesanan yang sama untuk membandingkan hasilnya.

Ternyata benar bahwa harga “versi Go-Food” adalah Rp 75.000,-

Saya tahu, ini mungkin terjadi pada beberapa outlet saja, namun tidak ada informasi outlet mana yang memberlakukan hal seperti ini. Jadi, saya tanyakan saja kepada Go-Jek. Pertanyaan saya saat itu:

Kalau Free Delivery, apakah ada biaya lain seperti komisi ke Go-Food yang dibebankan ke konsumen?

Solusinya memang mungkin tidak sederhana. Tapi, jika hal seperti ini, hilangkan saja label “Free Delivery” dan bebankan saja dalam biaya pengiriman. Ini bukan tentang uang Rp. 11.000,- namun saya rasa lebih kepada transparansi saja. Saya sendiri memilih untuk tidak memesan kembali ke outlet tersebut. Toh, masih banyak pilihan lainnya.