Apa Kabar Perangko dan Filateli?

Beberapa minggu lalu, saya sempat bertamu ke rumah dinas salah satu pejabat di Jogjakarta. Ketika di ruang tamu rumah dinas beliau, pandangan saya sempat tertuju pada sebuah pigura yang tertempel manis di dinding. Ada yang mencuri perhatian saya disana: sebuah seri perangko edisi khusus dengan wajah beliau.

Stamp Collection (by ...Rachel J...)

Perangko. Dalam satu tahun ini, sepertinya saya tidak pernah menyentuh barang yang satu ini. Beberapa kali memang memanfaatkan jasa PT. Pos Indonesia. Cukup sering pula menerima kiriman surat yang datang ke rumah — walaupun hampir semua memang bukan untuk saya. Tapi, tak ada satupun perangko yang tertempel dalam surat-surat tersebut. Urusan ke kantor pos juga sebatas memakai jasa pengiriman barang dengan layanan khusus.

Saya pernah memiliki hobi filateli ketika saya SMP. Dulu, ayah saya suka mengoleksi perangko, yang entah didapatkan dari mana. Kesukaan saya kepada perangko saat itu mungkin karena ada beberapa teman satu kelas yang memiliki hobi yang sama: filateli. Apalagi, SMP saya juga tidak jauh dari Kantor Pos Besar Yogyakarta, sehingga tidak jarang pulang sekolah mampir sebentar kesana. Bahkan, dulu sempat ada keinginan untuk ikut klub filateli yang ada.

Bagian yang menurut saya seru (saat itu) adalah ketika bertukar koleksi perangko. Ada beberapa koleksi perangko yang sama, sehingga bisa ditukarkan dengan koleksi teman lain. Oh ya, sepertinya kalau dulu di kantor pos beli, itu adalah perangko yang imitasi deh. Kalau di hitung, mungkin jumlah koleksi imitasi dengan yang asli cukup berimbang (duh!). Keasyikan yang lain adalah kegiatan menata koleksi perangko dalam sebuah album, bagaiman mengatur perangko dalam sebuah susunan yang pas. Seingat saya, dulu saya mengaturnya berdasar negara asal perangko. Dan, perangko yang menurut saya berharga saya tempatkan dalam album terpisah. Saya lupa tepatnya berapa album perangko yang saya pernah punya, tapi saya yakin lebih dari tiga buah. Kemana mereka sekarang ya?

Perangko edisi khusus — terbitan PT. Pos Indonesia — beberapa koleksinya pernah juga saya punya. Yang saat itu cukup langka (karena tidak ada teman yang punya, hehehehe…) juga lumayan banyak. Perangko asli yang masih tertempel di amplop atau kartu pos juga ada.

Sekarang, benar-benar tidak tahu perkembangan perangko dan dimana semua album perangko saya berada. Mungkin kehadiran perangko sudah mulai tergantikan seiring perkembangan teknologiĀ  yang semakin cepat saja. Surat elektronik semakin menjadi pilihan lebih banyak orang. Berkirim surat atau ucapan hari raya juga sudah jarang dilakukan dengan layanan pos. Bertukar kabar atau mengucapkan selamat melalui SMS lebih banyak menjadi pilihan. Hmmm…

Sumber gambar: Rachel J.

1 Comment

  • klau aq dlu jga sring ngumplin perngko lama2 dri thn 1898-1923 jg ad tlasn 10 ct,1 gulden,50 ct,24 cent, & msh bnyk yg lain.lma2 jga bsan mngkin krang telaten krna lgi bth buat kulia maaf numpang jual klau brmnat tlp:085649444239