Bis Damri Dari Bogor Ke Bandar Udara Soekarno-Hatta (CGK)

Sebelumnya, saya menggunakan Damri dari Halim Perdanakusuma (HLP) ke Bogor. Namun, saya meninggalkan Bogor untuk kembali ke Jogja tidak melalui Halim Perdanakusuma melainkan dari Bandar Udara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten.

Jaraknya bahkan lebih jauh dibandingkan menuju Halim Perdanakusuma. Dengan pertimbangan ini pula, saya kembali menggunakan jasa layanan transportasi Damri.

Saya berangkat dari terminal Damri yang ada di kawasan Botani Square sekitar pukul 14:00 WIB di hari Jumat. Sore itu, saya lihat beberapa armada yang berangkat tidak terlalu ramai. Menurut informasi dari jadwal keberangkatan, Damri dari Bogor ini paling pagi berangkat pada pukul 02:00 WIB menuju Soekarno-Hatta.

Continue reading

Pengalaman Menggunakan Jasa Bis Damri Dari Halim Perdanakusuma ke Bogor

Walaupun cukup sering terbang menuju dan dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma (HLP), namun saya belum pernah menggunakan jasa angkutan Damri dari sana. Karena, setahu saya angkutan Damri yang tersedia hanya ke arah Bogor, dan saya memang belum ada keperluan harus ke Bogor.

Awal Mei lalu, saya perlu untuk melakukan perjalan ke Bogor untuk urusan pekerjaan. Ini kali pertama saya ke Bogor. Sebelumnya, perjalanan ke arah selatan dari Jakarta hanya sampai Cibinong. Dan, waktu itu perjalanan saya tempuh dari Stasiun Jatinegara menggunakan taksi.

Ketika harus memikirkan cara saya menuju Bogor, Damri menjadi pilihan utama karena saya yakin biaya lebih murah dibandingkan dengan taksi — walaupun saat itu saya juga belum tahu berapa harga tiketnya. Kereta mungkin bisa menjadi opsi juga, walaupun saya harus berpindah moda transportasi menuju stasiun yang melayani rute ke Bogor.

Continue reading

Transportasi (Tiket dan Rute) Bis Damri di Bandara Adisutjipto Jogjakarta

Jika bepergian menggunakan jasa layanan transportasi udara, salah satu moda transportasi yang dapat digunakan adalah bis Damri. Cukup sering saya menggunakan jasa layanan ini ketika saya berada di Jakarta, baik pada saat meninggalkan atau menuju ke bandara Soekarno-Hatta. Salah satu alasannya adalah cukup banyak rute yang ditawarkan, dan juga dari sisi harga juga termasuk lebih murah jika dibandingkan dengan taksi.

Lalu bagaimana dengan Bis Damri di bandara Adisutjipto Jogjakarta? Bis Damri bisa menjadi salah satu alternatif, tentu saja jika rute yang dilalui sesuai dengan jadwal/rute perjalanan.

Lokasi Kios Pemesanan Tiket Bis Damri Bandara Adisutjipto

Jika Anda baru saja mendarat dan keluar melalui pintu kedatangan di Adisutjipto, bisanya Anda akan disambut oleh beberapa orang yang menawarkan jasa angkutan taksi. Lokasi pemesanan berada tidak jauh dari pintu keluar. Setelah keluar dari pintu kedatangan, cukup berjalan sekitar 20-25 meter saja dan Anda akan menemukan kios penjualan tiket di sebelah kiri.

Kios Informasi Damri

Rute dan Harga Tiket Bis Damri Bandara Adisutjipto

Rute yang ditawarkan oleh armada Damri dari/ke Adisutjipto cukup beragam. Berikut daftar harga tiket dan rute perjalanan bis Damri dari/ke Bandara Adisutjipto Jogjakarta. Harga adalah untuk satu kali/arah rute perjalanan. Harga dibawah ini adalah berdasarkan informasi pada bulan Juli 2015.

Continue reading

Tertinggal KTP di Whiz Prime Pajajaran Bogor

Ketika awal bulan lalu mengunjungi Bogor, ada satu hari dimana saya menginap di Whiz Prime Hotel Pajajaran Bogor. Saya melakukan pemesanan melalui Booking.com dan mendapatkan pengalaman yang positif selama saya menginap. Lokasi cukup strategis, di depan hotel ada Circle K, dan tidak jauh dari tempat makan juga. Proses check-in dan check-out juga cepat.

Beberapa hari setelahnya, saya menginap di tempat lain di Bogor, tidak jauh dari Kebun Raya Bogor. Saya pulang ke Jogjakarta melalui Soekarno-Hatta (CGK); dengan menggunakan bis Damri dari Bogor.

KTP Tertinggal!

Ketika hendak masuk ke ruang tunggu, saya agak panik karena tidak menemukan KTP saya. Saya coba ingat-ingat kembali dimana kali terakhir saya mengeluarkan KTP. Setelah yakin bahwa terakhir kali KTP saya keluarkan dari dompet ketika check-in di Whiz Prime untuk dipindai, saya langsung coba hubungi melalui telepon ke +62 251 756 0088. Beberapa kali percobaan, gagal.

Saya lanjutkan untuk masuk ke ruang tunggu dengan menggunakan SIM sebagai identitas pengecekan di bandara. Lalu saya coba lagi. Ada nada sambung, tapi telepon saya tidak diangkat. Saya pastikan kembali apakah nomor sudah benar.

Entah percobaan ke berapa, akhirnya saya terhubung dengan operator. Saya sampaikan keperluan saya, operator yang bertugas saat itu — saya lupa namanya siapa — meminta nomor telepon saya dan diberitahu kalau akan dihubungi kembali.

Sampai dengan saya kembali ke Jogja dan beberapa hari berikutnya, saya tidak mendapatkan informasi balasan. Saya coba telepon lagi, dan gagal lagi. Setelah beberapa percobaan lagi, saya terhubung dengan operator — yang kalau tidak salah namanya Dilang — dan diberitahu kalau ada KTP atas nama saya yang benar tertinggal.

Lega. Karena saya sempat membayangkan keribetan yang mungkin akan saya alami dalam mengurus kehilangan dan penggantian KTP. Kemudian saya diminta untuk mengirimkan detil mengenai alamat pengiriman KTP untuk diproses.

Setelah beberapa hari, saya akhirnya mendapatkan kembali KTP milik saya dikirim melalui JNE ke Jogja. Biaya pengiriman saya kirim melalui transfer bank. Saya sendiri yang sejak awal memang meminta untuk menanggung biaya pengirimannya. Terima kasih Whiz Prime Pajajaran Bogor!

Tips Memilih Taksi di Bandara Adisutjipto Jogjakarta

Saya sering mendapatkan beberapa pertanyaan terkait salah satu cara meninggalkan (atau menuju) ke bandara Adisutjipto Jogjakarta dengan menggunakan armada taksi — selain tentu saja menggunakan bis Trans Jogja, ataupun Damri. Dua atau tiga tahun terakhir ini, saya memang cukup sering harus menuju/meninggalkan bandara Adisutjipto, yang kebanyakan untuk urusan pekerjaan. Dan, taksi adalah salah satu pilihan transportasi saya.

Seputar Taksi di Jogjakarta

Di Jogjakarta, pilihan taksi cukup beragam dan memberlakukan tarif dengan menggunakan argometer. Walaupun, ada satu atau dua armada yang kadang menawarkan dengan tanpa menggunakan argometer, namun jumlahnya sangatlah sedikit.

Perusahaan taksi yang beroperasi juga beragam, namun semuanya menggunakan tarif per kilometer yang sama. Dan, semua dapat juga dipesan dengan menggunakan telepon melalui operator. Juga, taksi di Jogjakarta ini beroperasi 24 jam, walaupun secara jumlah armada, untuk kondisi setelah jam 22.00 mungkin yang beroperasi lebih sedikit.

Untuk perjalanan dalam kota, taksi beroperasi dengan menggunakan sistem argometer. Namun, jika perjalanan keluar kota, atau mungkin ke obyek wisata tertentu, akan dikenakan tarif resmi yang ditentukan oleh masing-masing perusahaan taksi. Silakan tanya kepada pengemudi atau operator taksi tentang detil harganya. Saya pernah membandingkan, rata-rata harganya sama.

Continue reading

Menikmati Jakarta-Jogjakarta di pagi hari

Sebenarnya, bukan ini rencananya. Tapi, karena dengan “cerdasnya” saya salah pesen tiket pesawat, akhirnya saya harus mengalami pengalaman terbang dengan pesawat dari Jakarta ke Jogjakarta di jam 06.00 pagi. Ya, benar jam dimana saya kadang masih tidur, atau bahkan baru berangkat tidur.

Karena takut bangun kesiangan, akhirnya saya putuskan saja untuk tidak tidur sekalian. Padahal, hari itu lumayan banyak juga kegiatan yang harus saya lewati. Sempat terpikir untuk naik taksi dari Kemang ke Blok M untuk menuju tempat perhentian bis DAMRI, atau malah ke Stasiun Gambir. Bahkan, sempat juga malah langsung saja naik taksi ke Bandara Soekarno-Hatta. Sebelumnya, saya bertanya ke beberapa teman tentang kepastian jadwal berangkat bis DAMRI. Akhirnya saya putuskan untuk berangkat naik DAMRI dari Blok M menuju bandara.

Sekitar jam 03.00, saya akhirnya keluar dari kontrakan untuk menunggu taksi. Lima belas menit menunggu, tak ada taksi yang melintas. Saat itu hari Minggu, dan saya berasumsi kalau di jalan itu banyak taksi — karena daerah yang cukup ramai. Ternyata saya kurang beruntung. Ketika menunggu, ada bajaj yang melintas dan menawarkan untuk mengantar.

Supir bajaj: “Mau kemana? Gambir?”
Saya: “Ke Blok M saja kok, Kang” (ya, saya lebih sering pakai kata “Kang” daripada “Bang”)
Supir bajaj: “Ayolah…”
Saya: “Berapa nih?”
Supir bajaj: “Biasalah, dua puluh ribu…”
Saya: “Ah, lima belas…”
Supir bajaj: “Tujuh belas deh… buat penglaris…”
Saya: “Ayo deh…” (pada akhirnya sih saya kasih Rp 25.000,– untuk ongkos dan pengalamannya)

Continue reading