Mendapatkan Kembali PIN Kartu Kredit BNI Melalui SMS

Saya cukup sering melakukan transaksi menggunakan kartu kredit. Saya hanya menggunakan dua buah kartu kredit utama dari BCA dan BNI. Mengikuti anjuran keamanan, saat ini kedunya juga sudah menggunakan PIN (Personal Identifiation Number). Diluar transaksi daring — yang (kadang) menggunakan 3D Secure PIN — saya kadang juga menggunakan transaksi langsung menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture) di beberapa gerai.

Pernah sebenarnya pakai PIN ketika melakukan transaksi, tapi kebanyakan saya gunakan tanpa PIN. Jadi tinggal tanda tangan saja.

871iulias7f13tlkqhsfasf

Ada satu gerai makanan cepat saji dimana saya sudah melakukan transaksi beberapa kali. Dan, selalu menggunakan tanda tangan alias tanpa PIN. Sampai pada akhirnya kemarin saya bertransaksi dan harus menggunakan PIN. Saya tanyakan, apakah ada opsi untuk pakai tanda tangan?

Kata petugas kasir, katanya harus pakai PIN. OK, saya coba mengingat. Saya masukkan PIN kartu kredit, dan ternyata salah. Saya coba sekali lagi, salah lagi.

Karena tidak mau mengambil risiko salah ketiga kalinya, saya akhirnya putuskan untuk menggunakan pembayaran tunai.

Untuk menghindari kejadian serupa, sepertinya perkara PIN ini memang harus dibereskan segera. Nah, bagaimana cara mendapatkannya kembali? Atau me-reset kembali PIN yang saya sudah tidak ingat lagi dengan PIN baru. Datang langsung ke kantor bank, harus menunggu hari kerja (karena kejadian saya diatas pada Jumat malam). Telepon layanan pelanggan, bisa juga. Tapi, apakah tidak ada cara lain?

Ternyata, bisa dilakukan melalui SMS. Sama seperti sewaktu aktivasi kartu kredit — yang juga melalui SMS. Sepertinya solusi ini paling sederhana. Tapi apakah berhasil atau tidak, tinggal dibuktikan saja.

Kirim SMS ke nomor 3346 dengan format RPIN <NomorKartuKredit> <TanggalLahir ddmmyyyy>. Contoh: RPIN 4105123456781267 18111976

Setelah saya kirimkan saya mendapatkan balasan dari nomor 3346 yang dengan informasi PIN baru. Informasi melalui SMS kira-kira seperti berikut:

Permintaan PIN berhasil. PIN Kartu Kredit Visa Gold xx1267 Anda adalah 539163. Untuk keamanan segera ganti PIN Anda di ATM BNI terdekat.

Oh ya, saya mengirimkan SMS tersebut dari nomor ponsel yang memang terhubung dengan kartu kredit saya. Semua beres, tinggal nanti mengubah di ATM saja.

(Berusaha) Berhenti Merokok

Sudah tiga minggu ini saya tidak menghisap sebatang rokok.

jkajsd91jdalskjdasd

Ya, saya mencoba untuk menantang — lebih tepatnya menerima tantangan — dari istri saya untuk tidak merokok selama 21 hari non-stop. Tidak mudah, tapi bisa. Dan, sepertinya akan dicoba untuk dilanjutkan, entah sampai berapa lama.

Mungkin tiga minggu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka — atau mungkin Anda — yang sudah berhenti merokok berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tapi, selama apapun itu, paling tidak kita punya kesamaan: pernah melewati satu minggu pertama tanpa rokok.

Dengan atau tanpa teori?

“Mengubah kebiasaan itu tidak mudah.” Demikian teori umumnya. Dan, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin.

Saya tidak terlalu banyak mencari referensi bacaan atau lainnya tentang bagaimana cara mengubah kebiasaan. Istri saya bilang kalau dia pernah baca bahwa kalau seseorang bisa melakukan/meninggalkan kebiasaan lama untuk memilik kebiasaan baru, maka kebiasaan baru itu dilakukan secara terus menerus selama 21 hari tanpa berhenti.

Belakangan setelah saya coba cari tahu, melakukan sesuatu selama 21 hari untuk menjadikan sebagia kebiasaan baru itu sebuah teori yang tidak sepenuhnya benar. Silakan baca artikel di Forbes yang berjudul “Habit Formation: 21-Day Myth”.

Ada pula sebuah penelitan lain yang mengatakan bahwa sebenarnya waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan bukan 21 hari, melainkan 2 bulan, atau lebih tepatnya 66 hari. Jika ingin tahu lebih lengkap, bisa baca artikel berjudul “How Long Does it Actually Take to Form a New Habit? (Backed by Science)” dan “How Long It Takes to Form a New Habit”.

Setelah membaca beberapa artikel tersebut, saya putuskan: gak usah terlalu pakai teori, lakukan saja! Toh, tantangan sudah cukup jelas: untuk tidak merokok.

Beberapa jam sebelum hari berganti, saya hisap dua batang rokok yang ada dalam bungkus. Setelah selesai, dimulailah tantangan yang sebenarnya. Sebenarnya saya terpikir untuk mengurangi misalnya hanya menghabiskan 1 atau 2 batang saja per hari. Namun, orang-orang dekat di sekeliling saya malah bilang kalau itu malah tambah susah. Jadi ya sudah: langsung saja.

Mengapa?

Kalau mau alasan yang sederhana, jawaban yang mungkin paling masuk akal adalah untuk hidup lebih sehat. Ya memang begitu kondisinya, namun ada beberapa alasan lain yang bagi saya tidak kalah penting:

  1. Produktivitas
  2. Pertimbangan ekonomi

Produktivitas

Saya merasa masuk dalam salah satu yang menggunakan “sebatang dulu” sebagai salah satu ukuran waktu. Walaupun, tidak selalu juga konteksnya untuk orang lain. Untuk diri sendiri juga kadang dipakai juga.

Kadang, justru produktivitas saya naik kalau sambil merokok. Saya bisa berjam-jam kerja di depan laptop saya diselingi dengan merokok. Dan, ini juga kadang berlaku untuk aktivitas lain. Masalahnya, semakin betah saya beraktivitas (karena rokok), otomatis makin banyak pula konsumsi rokoknya.

Di sisi lain, ketika bekerja saya juga kadang ada selingan untuk merokok. Misalnya bekerja di ruang ber-AC entah sendiri atau secara berkelompok. Bisa dikatakan juga ini membuang waktu, namun menurut saya juga tidak selalu berarti demikian. Bisa saja ketika sedang smoking break ini malah muncul hal-hal yang berkontribusi dalam hal pekerjaan.

Akhirnya walaupun juga lumayan berat saya ubah: paksakan dengan ritme yang sama cuma lakukan tanpa merokok.

Pertimbangan ekonomi

Saya tidak dalam kondisi kecanduan sampai memilih untuk membeli rokok daripada hal yang mungkin lebih penting. Jadi, secara ekonomi, membeli rokok tidak menjadi masalah. Cuma, ini memang bukan kondisi yang membenarkan bahwa merokok itu tidak masalah.

“Alasan ekonomi” yang saya maksud disini lebih kepada penghematan, atau sebut saja alokasi. Ini juga didasari dengan beberapa penghitungan sederhana. Kalau saya ambil rata-rata, saya menghabiskan satu bungkus rokok isi 16 batang seharga (sekitar) Rp 21.000,- per dua hari. Kadang bahkan bisa satu bungkus habis dalam satu hari, walaupun jarang.

Jadi, dengan matematika sederhana apabila kebiasaan ini dihentikan, maka ada potensi bisa dilakukan penghematan sekitar Rp 300.000,- sampai Rp 400.000,- per bulan. Jika ini dikonversi dengan pengeluaran lain, bisa kira-kira setara dengan:

  • 36 liter Pertamax — iya, kendaraan sehari-hari yang saya dan istri pakai menggunakan Pertamax;
  • 1 bulan berlangganan Biznet Home (25 Mbps) ditambah paket data internet di piranti bergerak;
  • Pulsa listrik prabayar sebesar 200 kWh yang bisa dihabiskan kurang lebih dalam 1,5-2 bulan;

Ada konversi lainnya, namun sepertinya beberapa konversi dengan matematika sederhana di atas lumayan untuk dijadikan alasan.

Sulit atau mudah?

Sulit? Tidak.

Tapi… sulit sekali!

Salah satu yang membuatnya jadi sulit adalah karena sudah menjadi kebiasaan dan adanya sensasi kenikmatan tersendiri — yang mungkin hanya dapat dipahami oleh mereka yang merokok, termasuk saya. Contohnya?

Setelah makan, dilanjutkan dengan menyalakan dan menghisap sebatang rokok. Ini seolah sudah satu paket. Ketika dalam periode mencoba berhenti merokok, pernah sewaktu makan siang dengan menu tongseng, saya melihat ada pengunjung yang setelah makan tongseng, minum segelas teh panas, dan mulai menyalakan rokok. Dan, waktu itu sedang hujan pula!

Glek.

Saat itu saya sampai bilang ke istri saya, “Duh, itu enak banget! Aku tahu banget itu enak banget rasanya….”. Istri saya pada akhirnya cuma senyum saja seolah dengan tatapan “Ya, kalau mau merokok ya sana…”. Untung saat itu, saya masih kuat. Kondisi yang mendukung adalah saat itu hujan, dan untuk mencari rokok sambil kehujanan bukan opsi.

Kondisi lain misalnya sedang mengobrol — dengan sesama perokok, sambil minum kopi atau teh, dan sukur-sukur ada makanan ringan…. hujan pula! Ini godaan menurut saya juga tidak kalah dahsyat, karena kalau ingin merokok, tinggal minta dan kecil kemungkinan tidak diberi.

Satu lagi contoh adalah ketika menunggu atau memiliki waktu senggang dan tidak ada aktivitas berarti yang bisa dilakukan. Misalnya, menunggu waktu meeting, nunggu di parkir dan pada akhirnya satuan waktu “sebatang dulu” menjadi sangat masuk akal.

Itu. Tidak. Mudah. Bagi. Saya.

Jadi, bagaimana?

Saya tidak ingin membuatnya terasa mudah, karena sebenarnya bagi saya memang tidak mudah. Seingat saya, tiga hari pertama adalah saat yang sangat sulit. Yang pasti, dukungan dari orang atau lingkungan jelas sangat membantu. Oh ya, menurut saya dukungan itu bisa juga diciptakan sendiri.

Misalnya, niat saya ini saya sampaikan ke beberapa teman dan orang terdekat. Tujuannya bukan untuk sombong atau gaya-gayaan, tapi supaya kalau ternyata gagal mereka bisa menjadi saksinya dan bisa puas mencela (kalau mau). Oh ya, pilih sekalian teman yang sering dijumpai. Haha!

Kalau dipikir-pikir mencoba lanjut beberapa minggu lagi sepertinya bisa…

Akun Uber Kena Retas (dari Rusia)

Dua minggu lalu, akun Uber for Business yang saya buat digunakan oleh seseorang dari Rusia. Penyebabnya bermula dari salah satu akun yang terdaftar dalam Uber for Business yang diretas seseorang. Pembayaran menggunakan kartu kredit saya total sekitar Rp2.000.000,-. Segera blokir kartu kredit, dan mengurus kasus ini ke Uber melalui surel. Setelah beberapa kali bertukar surel dalam beberapa jam. Dan, sekitar 5 hari kemudian, seluruh biaya transaksi dikembalikan ke kartu kredit saya. Untunglah tidak dikembalikan sebagai saldo.

Top-Up Flazz BCA

Saya sebenarnya jarang sekali melakukan transaksi dengan menggunakan kartu Flazz BCA. Namun, akhir-akhir ini pola transaksi saya berubah. Untuk transaksi yang sifatnya kecil dan saya memilih untuk cashless seperti pembayaran parkir, Flazz BCA lebih menjadi opsi. Tentu saja, ketika tidak ada gangguan teknis. Proses top-up juga mudah.

Mekanisme Pre-paid Layanan Biznet Home Internet

Setelah beberapa waktu menggunakan layanan Biznet, bulan lalu kali pertama mengalami masalah koneksi karena keterlambatan pembayaran koneksi internet. Pembayaran dilakukan dengan cara pre-paid, jadi kalau lupa bayar — sebut saja deposit atau top-up — maka koneksi internet terputus. Sejujurnya, saya lebih suka dengan model ini daripada post-paid, bahkan misal dengan ditambah denda (jika ada).

Selama ini, proses pembayaran juga tidak begitu sulit. Tinggal melakukan transfer melalui beberapa pilihan metode pembayaran. Saya biasanya memilih menggunakan transfer ke Virtual Account BCA.

Continue reading →

Berpindah ke Layanan Biznet Home Internet dari Telkom IndiHome

Akhirnya, rencana saya untuk berpindah layanan dari IndiHome PT Telkom Indonesia telah berhasil akhir minggu lalu. Saya akhirnya menggunakan layanan Biznet Home Internet dari Biznet.

Proses Registrasi

Sebenarnya, sudah cukup lama saya ingin menggunakan layanan dari Biznet ini. Namun, saat itu jaringan belum tersedia. Saya pernah memang mengirimkan inquiry melalui email, namun tidak mendapatkan balasan. Mungkin saat itu memang karena layanan belum tersedia.

Saya tidak tahu kapan tepatnya layanan ini tersedia di tempat tinggal saya. Namun, saat melalukan pengecekan di awal bulan ini, ternyata layanan sudah tersedia. Akhirnya lakukan registrasi melalui laman web Biznet Home pada tanggal 4 Mei 2017. Saat itu, saya memilih paket Home Internet 1 dengan harga paket Rp 240.000,00.

Setelah saya lakukan registrasi, saya mendapatkan surel balasan yang berisi mengenai detil permintaan layanan, termasuk harga awal yang termasuk instalasi sebesar total Rp 487.000,00. Saat itu, saya tidak langsung melakukan pembayaran, karena saya belum mendapatkan kepastian apakah layanan tersebut memang dapat terpasang atau tidak.

Tanggal 5 Mei 2017, saya mendapatkan kontak dari Biznet yang akan melakukan survei terkait dengan jaringan. Siang hari, akhirnya ada dua orang dari Biznet yang datang ke rumah. Singkat cerita, saya mendapatkan informasi bahwa internet dapat terpasang, dan nanti akan dikirimkan beberapa informasi pemasangan beserta dengan instruksi pembayaran karena data registrasi saya perlu diperbarui. Sore harinya, saya mendapatkan informasi pendaftaran kembali melalui surel, dan saya langsung lakukan pembayaran.

Continue reading →

Berhenti Berlangganan Layanan Telkom IndiHome

Sekitar satu tahun lebih saya sudah berlangganan layanan koneksi internet IndiHome milik PT Telkom Indonesia. Secara umum, tidak ada masalah. Pernah memang, saya mengalami kebingungan dengan tagihan yang dibebankan oleh IndiHome.

Masalah lain yang saya hadapi dulu saat adanya gangguan yang cukup lama — hampir dua minggu — dan diikuti dengan proses saya meminta penyesuaian tagihan. Bulan Mei 2017 ini, saya mencoba untuk mengurus pendaftaran langganan internet di rumah dari penyedia layanan lain, yaitu Biznet Home dari Biznet yang akhirnya jaringan dapat menjangkau tempat tinggal saya. Memang proses pemasangan baru belum selesai, karena permohonan saya baru saya laksanakan akhir pekan lalu. Semoga bisa segera terpasang.

Biaya Tambahan Go-Food oleh Go-Jek Indonesia dari Penjual?

Saya sudah cukup lama menggunakan jasa layanan Go-Jek terutama di Jogjakarta dan Jakarta. Secara frekuensi, dulu kebanyakan hanya ketika di Jakarta saja. Namun, sejak Go-Jek (dengan layanan lainnya) hadir di Jogjakarta, frekuensi pemakaian layanan menjadi lebih tinggi. Ada tiga layanan utama yang paling banyak saya manfaatkan: Go-Ride, Go-Send, dan Go-Food. Secara umum, saya mendapatkan layanan yang cukup baik.

Oh ya, fitur untuk memberikan tip melalui Go-Pay setelah layanan selesai saya rasa juga baik, karena ketika saya ingin memberikan tips, saya sering tidak bawa uang tunai. Dan, hampir seluruh transaksi sekarang saya lakukan melalui Go-Pay.

Soal harga, seluruh layanan bagi saya cukup terjangkau, walaupun kadang kok terasa “terlalu murah”. Jadi, memberikan tip atau kadang menambahkan pesanan di Go-Food untuk diberikan kepada pengemudi bisa jadi salah satu cara — bagi saya — untuk mengucapkan terima kasih.

Kejelasan Harga Layanan Go-Food

Dalam menggunakan layanan Go-Food, saya biasanya memilih atau memutuskan untuk menggunakan layanan dengan alasan berikut:

  • Saya memang cukup malas untuk keluar rumah, apalagi jika memang kebetulan ada pekerjaan dan juga ketika sudah terlalu malam.
  • Variasi makanan yang dapat dipesan juga makin beragam.
  • Layanan yang “Free Delivery” juga tersedia, walaupun tidak semua. Bagian ini saya tidak terlalu masalah, karena kalaupun memang ada biaya antar, toh ini juga jelas biayanya.

Mengenai “Free Delivery” ini, saya merasa ada hal yang kayaknya cukup membingungkan. Atau, paling tidak berbeda antar kebijakan. Pemesanan melalui Go-Good ada dua parameter utama: 1) Harga yang tertera dan 2) biaya kirim (jika ada). Apabila ada outlet yang memiliki label “Free Delivery”, maka biaya pengiriman ditiadakan, dan kita hanya membayar sesuai dengan nota. Sesederhana itu.

Namun, dalam satu transaksi akhir-akhir ini, saya mendapati bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada saya. Biasanya, biaya semacam ini tidak pernah ada. Bahwa misalnya ada “harga khusus versi Go-Food” yang diberlakukan oleh outlet, saya masih bisa menerima misalnya harga dilebihkan. Tapi, selama ini, harga yang tertera di aplikasi dengan harga sebenarnya juga sesuai. Pun tidak, saya berpatokan kepada nota pembelian.

Ketika menerima nota diatas dalam sebuah pemesanan, saya terus terang bertanya-tanya. Saya tidak pernah membaca informasi bahwa ada biaya 15% dari total belanja. Ya, 15%! Outlet pemesanan tersebut — di Jogjakarta — memilik label “Free Delivery”.

Continue reading →