Mengurus (Lagi) Perubahan Jadwal Keberangkatan Kereta Api

Karena perubahan agenda, minggu lalu saya melakukan perubahan jadwal keberangkatan ke Jakarta dengan menggunakan kereta api. Perubahan tersebut untuk memundurkan jadwal yang sebelumnya hari Kamis menjadi Jumat. Sebelumnya saya pernah juga melakukan perubahan jadwal dengan proses yang cukup mudah.

Kalau dulu, saya berganti jadwal namun untuk kereta yang sama, kali ini perubahan jadwal juga sekaligus perubahan kereta. Awalnya, saya menggunakan kereta api Bima dan saya ganti menjadi Argo Dwipangga.

Mengenai penghitungan biaya begini:

  1. Saya beli 2 (dua) tiket kereta api Bima, dengan masing-masing harganya Rp400.000,- sehingga total Rp800.000 melalui Traveloka. Semua sudah dibayar, dan sudah terbit e-ticket.
  2. Ketika melakukan perubahan jadwal, maka ada biaya pembatalan sebesar 25% (dari harga tiket). Jadi, saya masih punya ‘sisa’ dana untuk tiket baru sebesar Rp600.000,-
  3. Tiket baru kereta api Argo Dwipangga adalah Rp360.000,- per orang, total Rp720.000,-
  4. Kekurangan yang harus saya bayarkan Rp120.000,-

Oh ya, saat itu saya tidak ditanya identitas, namun hanya berbekal kode pemesanan saja.

Detoksifikasi

Pada fisiologi, detoksifikasi (bahasa Inggris: detoxification, detox) adalah lintasan metabolisme yang mengurangi kadar racun di dalam tubuh, dengan penyerapan, distribusi, biotransformasi dan ekskresi molekul toksin. (Sumber: Wikipedia)

Beli Frame dan Lensa Kacamata di Jogja. Dimana?

Sejak mendapakan hasil pemeriksaan mata di Klinik Sehati beberapa bulan lalu, akhirnya saya memutuskan untuk membeli frame dan lensa untuk kebutuhan saya. Sebenarnya kemampuan pengelihatan saya rasakan masih cukup baik. Cuma, karena saya merasakan mata lebih sering capek dan kadang blur untuk kondisi tertentu membaca jadi saya putuskan untuk memakai alat bantu penglihaan saja.

Saya mulai mencari-cari dimana saya harus beli kacamata pertama saya. Ada beberapa pilihan seperti Optik Seis, Optik Tunggal, Optik Melawai, Optik Tugu dan lain sebagainya. Karena ini kacamata pertama saya, jadi butuh lebih banyak waktu untuk memilih.

Setelah saya berkunjung ke beberapa lokasi tersebut, dengan membandingkan model, kualitas frame, pilihan lensa, dan juga harga saya akhirnya memutuskan untuk beli di Optik Seis. Kebetulan, model yang saya suka ada disana. Tentu saja, ini soal selera, tapi setelah mencoba banyak sekali model, pilihan saya jatuh ke Oakley Surface Plate OX5132-0152.

Agak sulit menentukan karena ini soal selera juga, dan kenyamanan sewaku dipakai. Semoga cocok.

Bayar dengan Cicilan Kartu Kredit atau Tunai?

Saya punya kartu kredit dari beberapa bank, walaupun tidak semuanya saya pakai. Intinya, saya mencoba menggunakannya sebagai mana fungsinya. Benar memang bahwa prinsipnya sih kita hutang yang tetap harus dibayar, cuma yang saya hindari adalah bahwa kartu kredit dipakai untuk membayar hutang kartu kredi yang lain. Itulah kenapa saya pakai metode pembayaran auto-debet.

Selain promo kartu kredit, saya fitur yang sering saya manfaatkan adalah cicilan dengan bunga 0%. Tidak selalu semua bisa dicicil, cuma kalau bisa dicicil dan memang lebih menguntungkan, kenapa tidak?

Untuk pengeluaran yang sifatnya rutin, saya gunakan cicilan kartu kredit. Atau, untuk barang yang butuh sekarang tapi bisa dinikmati cukup lama.

Saya selalu beli listrik prabayar dalam jumlah yang agak banyak, sekaligus untuk beberapa bulan. Misalnya saya beli sebesar Rp1.000.000,- yang harapannya bisa untuk 6 bulan. Transaksi semacam ini saya gunakan cicilan 0%, jadi saya menghitungnya dengan biaya bulanan listrik sekitar Rp150.000,-.

Karena ini mungkin bisa jadi lebih murah dibandingkan setiap bulan saya isi sedikit demi sedikit. Belum lagi kalau misalnya ketika melakukan pembayaran mendapatkan cashback. Dan juga, kebutuhan dan kemampuan masih bisa sebesar itu.

Contoh lainnya adalah ketika beli ponsel awal Agustus lalu. Saya memilih untuk menggunakan cicilan kartu kredit, karena saya memilih untuk menempatkan ponsel sebagai biaya bulanan. Bahkan, setelah saya pertimbangkan, saya akhirnya memutuskan untuk beralih ke pasca bayar. Jadi, kebutuhan untuk komunikasi (ponsel, pulsa, dan paket data) bisa lebih jelas.

Ya, semoga ponsel jangan hilang lagi saja sih…

Beberapa transaksi yang memang harus bayar tunai, saya usahakan untuk tetap dibayar tunai. Tunai disini maksudnya tunai lunas (entah pakai kartu kredit atau debi), bukan untuk dicicil. Misalnya belanja bulanan, pengeluaran rutin seperti IPL berlangganan server. Ya, apalagi kalau memang tidak tersedia opsi cicilan.

Toh secara prinsip kita juga sudah belajar matematika sejak dulu. Jadi, soal penghitungan dan logika jelas masih sangat relevan.

Mi TV 4A 32, Smart TV dari Xiaomi

Xiaomi memperkenalkan Mi TV 4A 32 dalam jajaran produk mereka baru-baru ini. Ketika membaca informasi singkatnya, yang paling menarik bagi saya adalah harganya yang ‘hanya’ Rp1.999.000. Untuk sebuah smart TV, dengan ukuran 32 inchi, tentu saja ini menarik.

Dari spesifikasi, juga cukup menggoda. Saat ini, saya puas dengan televisi SONY yang saya beli sekitar dua tahun lalu. Tentu ini bukan untuk dibandingkan, namun saya cukup penasaran dengan Mi TV ini. Saya tidak bisa mengulas atau menulis apa-apa lagi, karena memang belum melihat kualitas gambar dan fiturnya secara langsung. Mi TV 4A ini akan masuk dalam periode penjualan pada 20 September 2018 mendatang.

Pembayaran PBB DKI Jakarta Melalui Tokopedia

Karena ada keperluan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan untuk objek pajak yang ada di Jakarta, saya dan istri mencoba melakukan pembayaran secara daring. Beberapa pilihan kemarin adalah melalui KlikBCA atau Tokopedia.

Sebelumnya, kami cari tahu dulu mengenai Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) melalui situs Badan Pajak dan Retribusi Daerah DKI Jakarta. Cukup mudah, hanya dengan memasukkan nomor objek pajak, dan akan terlihat statusnya.

Ternyata, pembayaran tidak dapat dilakukan. Entah karena kendala teknis apa, namun setelah saya coba beberapa kali (dalam durasi waktu yang berbeda), hasilnya tetap sama saja. Saya terus mendapatkan pesan kesalahan “Terjadi kendala teknis, silakan coba beberapa saat lagi”.

Karena tidak berhasil juga, kami akhirnya memutuskan untuk menggunakan pembayaran melalui KlikBCA, dan berhasil dengan lancar.

Office 365 Personal untuk 5 Perangkat Sekaligus

Kabar baik untuk pengguna/pelanggan Office 365 Personal, karena mulai Oktober 2018, Microsoft mengubah kebijakan mengenai jumlah perangkat yang digunakan untuk satu lisensi.

With your current Office 365 Personal subscription, you can use Office on one PC or Mac and one tablet. Starting Oc‍tober 2, 20‍‍18, you’ll be able to install it on all your devices and sign in to five at the same time–that means you can use Office no matter where you are or what device you’re on.

Sebagai pengguna Office 365 Personal sejak Mei 2014, tentu saja ini kabar yang baik. Sebelumnya, pelanggan Office 365 Personal hanya dapat melakukan otentikasi pada dua perangkat saja yaitu satu PC/Mac, tablet, dan ponsel (termasuk Windows, iOS, dan Android).

Masalahnya, kadang mungkin ada pengguna yang memiliki perangkat lebih dari itu. Jadi, perubahan ini saya rasa jelas menguntungkan. Untuk harga tidak ada yang berubah juga. Secara otomatis, seluruh pelanggan Office 365 akan langsung dapat menikmati perubahan ini.

Bagaimana dengan Office 365 Home?

Untuk pelanggan Office 365 Home, jika sebelumnya hanya dapat digunakan oleh lima pengguna, per Oktober 2018 akan dapat digunakan oleh enam pengguna.

Referensi: You’re about to get even more from your Office 365 Home or Personal subscription!

Jangan Hemat Listrik, Nanti PLN Rugi!

Berita mengenai pernyataan dari Syofvi Felienty Roekman, Direktur Direktur Perencanaan Korporat PLN membuat saya heran. Entah sedang bercanda atau serius. Tapi, semoga sedang bercanda dan ada revisi yang benar seharusnya bagaimana. Tapi, misalpun serius, ya mungkin tinggal dinilai sendiri bagaimana pernyataan tersebut.

Mengutip dari berita di Kumparan dengan judul ‘PLN Minta Rumah Tangga Perbanyak Gunakan AC di Rumah‘:

“Makanya saya berharap ini cuaca panas terus, supaya banyak rumah tangga yang pakai AC. Jadi jangan main-main ke mal terus, supaya konsumsi listrik di rumah bisa meningkat”

Syofvi Felienty Roekman, Direktur Direktur Perencanaan Korporat PLN.

Pernyataan tersebut terkait dengan bahwa konsumsi listrik hinggal Mei 2018 hanya naik 5,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka tersebut masih di bawah rata-rata Rencana Usaha Pembangkit Tenaga Listrik (RUPTL) tahun ini yang ditetapkan pemerintah sebesar 6,8 persen. Padahal, dalam berita lain target konsumsi listrik sebenarnya diharapkan terpenuhi dari sektor industri.

Saya sendiri saat ini menggunakan listrik (prabayar) justru berusaha untuk menghemat. Di tempat tinggal sebelumnya, saya berpindah menjadi listrik prabayar sehingga dapat lebih mudah mengontrol penggunaan listrik.

AC di rumah saya ada dua buah, namun hampir tidak pernah saya nyalakan karena cuaca yang panasnya masih bisa ditolerir. Pun panas, tinggal buka jendela. Semua lampu di rumah saya juga sudah ganti dengan lampu LED yang lebih hemat. Walapun secara jumlah lampu cukup banyak, namun saya hanya berusaha menyalakan kalau memang butuh.

Jadi, jika himbuan tersebut disampaikan, himbauan yang aneh. Atau memang slogan ‘hemat energi, hemat biaya’ sudah diperbarui dan tidak valid lagi?

Kecap Bango Light

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan bukan merupakan tulisan berbayar.

Saya lupa kapan tepatnya saya beralih ke kecap Bango produksi Unilever Indonesia ini. Tapi, saya yakin sudah sangat lama. Rasa dan aroma kecap ini menurut saya sangat enak, dan cocok dengan selera dan lidah saya sebagai orang Jogja yang cenderung suka dengan makanan yang manis.

Manisnya menurut saya mantap, karena sudah cukup manis, jadi tidak terlalu banyak kebutuhannya untuk penyajian. Kecap Bango Manis inilah yang selalu saya beli. Sampai akhirnya kemarin baru mencoba Kecap Bango Light. Saya tidak tahu kapan produk ini sudah ada di pasaran — atau lebih tepatnya di tempat biasa saya belanja, tapi karena setiap beli kecap saya langsung lihat kemasan Kecap Bango Manis lalu ambil saja tanpa menyadari mungkin varian lain saat itu memang sudah ada.

Tidak Begitu Manis, Lebih Sehat

Ketika melihat kemasan tertulis cukup besar BANGO LIGHT. Paling yang jelas berubah adalah soal rasa yang tidak terlalu kuat. Dan, mungkin tidak semanis yang Bango Manis. Ternyata memang benar, Bango Light ini diklaim memiliki kandungan gula 30% lebih rendah dari Bango Manis.

Saya suka makanan dengan kecap, jadi saya cukup penasaran apakah Bango Light ini masih seenak Bango Manis pendahulunya. Sesampai di rumah, saya coba dengan menikmati telur dadar dengan Bango Light ini. Ternyata memang beda.

Kalau dari tekstur, Bango Light ini lebih ‘enteng’ tidak terlalu kental. Ketika saya tuangkan dari botol, langsung terlihat lebih encer. Rasanya, memang tidak semanis Bango Manis, tapi masih masuk selera lidah saya. Setelah saya rasakan, benar memang tidak semanis, tapi yang penting tetap enak!

Mallika dan Stevia

Dalam kemasan, ada dua kata yang menarik perhatian saya yaitu Mallika dan Stevia. Setelah mencari info, ternyata Stevia merupakan sejenis tanaman yang digunakan sebagai pemanis alami sebagai pengganti gula (Sumber: Wikipedia). Sedangkan Mallika, adalah kedelai hitam yang digunakan sebagai bahan dasar utama. Kedelai Mallika sendiri pengembangan budidayanya dilakukan oleh Ir. Setyastuti Purwanti, M.S., seorang dosen pengajar Permuliaan Tanaman dan Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Tentang Keterlaluan dan Bersyukur

Dalam beberapa kesempatan, pikiran kita dapat dikuasai oleh persepsi-persepsi yang entah kita ciptakan sendiri secara sadar maupun tidak. Bahkan, tak jarang bahwa kita tidak butuh orang lain sama sekali untuk membentuk sebuah persepsi tentang diri kita. Beberapa minggu ini, dalam khotbah ibadah dan diskusi kecil dalam kumpulan gereja atau cukup sering diingatkan tentang topik ini.

Sebagai satu dari milyaran penduduk bumi dan sebagai manusia yang sangat biasa saja, kita tentu bisa memiliki segudang persepsi. ‘Hidup saya sangat tidak beruntung!’, ‘Sial sekali hidup saya….’, ‘Saya tidak punya apa-apa lagi. Habis sudah!’. Itu mungkin hanya sedikit dari begitu banyaknya pernyataan pribadi yang terlintas di kepala.

Namun…

Keterlaluan sekali kalau persepsi yang cenderung negatif justru lebih menguasai dan bahkan menutup mata untuk dapat melihat bahwa sebenarnya begitu banyak yang dapat dan seharusnya disyukuri.

Keterlaluan sekali kalau berpikir bahwa hidup ini sangat sial, sedangkan setiap pagi masih bangun bisa bangun pagi, beranjak dari tempat tidur untuk mandi dan beraktivitas.

Keterlaluan sekali kalau bilang tidak punya apa-apa kalau keluar rumah bisa memiliki sebuah tujuan akan kemana hari ini dengan kondisi badan yang sehat, bahkan sempat menikmati sarapan pagi.

Keterlaluan sekali kalau merasa bahwa hidup merasa sepi dan terpuruk dalam sebuah perasaan sedih sedangkan tak jauh dari kita ada keluarga dekat yang bisa untuk saling menguatkan.

Keterlaluan sekali kalau harus menghabiskan begitu banyak waktu memikirkan dan menempatkan diri sendiri dipenuhi dengan hal-hal yang merusak hati, padahal apa yang terjadi di sekitar kita semua berjalan dengan baik-baik saja.

Keterlaluan kalau sampai tidak bisa melihat begitu banyak yang bisa disyukuri.