Ganti ke Oppo F7

Sewaktu saya kehilangan iPhone 6 saya, saya sedang berada di Tangerang dan perlu untuk ada disana paling tidak tiga hari. Sudah sejak lama saya hanya menggunakan satu ponsel. Jadi, kehilangan satu-satunya ponsel tentu akan merepotkan.

Hari itu, saya putuskan kalau saya akan cari ponsel lagi. Karena urusan saya cukup banyak di seputaran Alam Sutera, akhirnya Erafone yang ada di Living World Alam Sutera menjadi saya membeli.

Saya tidak berpikir untuk membeli iPhone kembali. Beberapa waktu lalu saya memang sempat berencana menggunakan ponsel berbasis Android sebagai pengganti Oppo Find 7 saya yang pecah layar LCD-nya. Jadi, mungkin ini saatnya ganti ponsel. Pertanyaannya, gantinya apa?

Setelah membandingkan beberapa fitur, dan tentu saja budget, pilihan saya jatuh ke Oppo F7 dengan warna merah (Solar Red).  Ini masuk dalam kisaran budget saya yaitu di bawah Rp4.000.000,-.  Dengan spesifikasi RAM 4GB, media penyimpanan 64 GB, baterai Li-Ion 3.400 mAh, dan dual simcard, saya rasa ini sudah mencukupi untuk saya. Warna merah? Ini saya pilih karena saya ingin coba warna lain selain hitam.

Lebih jauh tentang pengalaman saya menggunakan ponsel Oppo F7 ini saya rasa akan saya tuliskan dalam tulisan terpisah. Sekitar dua minggu menggunakan, saya merasakan bahwa performanya bagus. Tapi, kita lihat saja nanti secara keseluruhan setelah satu bulan.

iPhone 6 Hilang

Dua minggu lalu, setelah sekitar satu jam saya turun dari Grab yang mengantar saya untuk urusan pekerjaan dari Gambir ke Alam Sutera, saya baru menyadari bahwa iPhone 6 saya sudah tidak bersama saya lagi.

Saat itu, bersama dengan rekan kerja saya, setelah turun dari Grab memang saya tidak mengecek keberadaan ponsel saya. Lebih menghabiskan waktu dengan rekan saya untuk mengobrol. Barulah ketika saya menyadari bahwa ponsel saya tidak ada bersama saya, saya mulai sedikit panik.

Singkatnya, usaha untuk mendapatkannya sudah saya lakukan. Rekan saya menelpon nomor ponsel saya, ternyata ada nada sambung namun tidak diangkat. Lupa berapa kali, namun akhirnya tidak ada nada sambung. Mungkin ponsel sudah dimatikan.

Saya coba telepon pengemudi Grab saya, menanyakan apakah ada barang tertinggal. Jawabannya, tidak. Ketika saya menanyakan apakah ada pengemudi setelah saya, dijawab bahwa ada, tapi ketika saya tanyakan apakah ada nomor ponsel penumpang setelah saya, dijawabnya tidak ada/tidak tahu. Mungkin, penumpang saya memang tidak sempat melakukan sambungan telepon dengan pengemudi Grab tadi. Entahlah.

Lanjutkan membaca →

Top-up Saldo OVO dari Kartu Debit

Setelah dulu menggunakan OVO untuk membayar parkir, saya menggunakannya untuk beberapa transaksi lain walaupun tidak sering. Akhir-akhir ini, OVO lebih sering saya gunakan untuk pembayaran transaksi Grab. Kenapa? Di Grab, ini adalah salah satu pilihan untuk cashless (selain kartu kredit) dan juga memanfaatkan promonya juga.

Ternyata, sudah saatnya menambah saldo. Ada beberapa pilihan untuk tambah dana yaitu melalui ATM/Internet Banking, Minimarket, atau menggunakan kartu debit.

Melalui internet banking mungkin paling mudah. Sayangnya, token KeyBCA saya sedang tidak dapat digunakan. Setelah beberapa hari lalu mencari, hari ini baru ketahuan kalau ternyata masuk ke mesin cuci. Ke ATM, sedikit ribet karena harus pergi keluar, apalagi ke minimarket.

Lalu, saya coba untuk pilihan kartu debit. Untuk kartu debit, tertulis “Saat ini kami hanya menerima kartu debit yang sudah aktif 3D Secure”. Jadi, selanjutnya hanya perlu memilih dari pilihan nominal (Rp100.000, Rp200.000 atau Rp500.000). Diikuti dengan memasukkan nomor kartu, masa berlaku kartu dan 3 angka keamanan (CVV).

Setelah saya lihat, ternyata kartu debit CIMB Niaga Master Card saya ada informasi tersebut. Saya coba memasukkan informasinya, dan selesai. Sama seperti kalau melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit. Seluruh proses transaksi selesai, saldo langsung bertambah. Tidak ada biaya tambahan yang dibebankan untuk transaksi ini.

Perubahan Disain Tagihan Elektronik Kartu Kredit BCA

Untuk seluruh tagihan kartu kredit yang saya miliki, saya menggunakan layanan e-statement sehingga tidak perlu ada biaya yang muncul hanya karena pencetakan tagihan secara fisik. Dengan ini, seluruh catatan tagihan lebih mudah untuk saya arsipkan.

Di awal Juni 2018, saya mendapatkan tagihan untuk kartu kredit BCA saya. Ketika membukanya, ternyata tagihan kartu kredit memiliki disain baru yang menurut saya lebih baik dari sebelumnya.

Di bawah ini adalah disain tagihan kartu kredit terakhir sebelum muncul disain baru.

Bandingkan dengan disain barunya. Menurut saya, disain baru ini lebih baik, lebih jelas dibaca. Walaupun, ada informasi yang bagi saya pribadi tidak terlalu bermanfaat. Tentu saja, informasi ini bisa sangat bermanfaat untuk nasabah yang lain.

Lalu, apa saja bedanya? Berikut beberapa yang berbeda dalam disain yang baru:

  • Tidak ada lagi logo BCA Card, Master Card, dan Visa.
  • Font yang digunakan saat ini adalah Arial, berbeda dari sebelumnya yang menggunakan Times New Roman.
  • Informasi kode pos ditampilkan dalam detil alamat.

Dimana Mencari Kardus untuk Pindahan di Jogja? Tidak Terlalu Sulit Ternyata.

Saat pindahan, salah satu hal yang membantu mempermudah adalah melakukan packing dengan menggunakan kardus dengan beberapa ukuran. Sehingga, ketika diangkut ke kendaraan juga lebih tertata. Lalu, dimana mencari penjual kardus bekas — dengan kualitas bagus — di Jogja?

Gambar di atas adalah contoh ukuran kardus. Kardus yang dibeli dalam kualitas yang lebih baik. Setelah melakukan pencarian, saya akhirnya membeli kardus bekas untuk pindahan dari dua lokasi berbeda. Pertama, di Toko Kardus Manunggal yang berada di daerah Jalan Affandi, Gejayan. Lokasinya ada di pojokan jalan masuk ke Kanisius.

Untuk lokasi kedua saya beli di Toko Jaya, di Jalan Katamso di seberang Purawisata, bersebelahan dengan toko jamu tradisional.

Kedua tempat tersebut menawarkan harga yang kurang lebih sama. Kardus yang dijual juga dengan kualitas baik. Bukan seperti kardus bekas mie instan, tapi kardus tebal. Kalau mengenai ukuran, tersedia cukup banyak pilihan. Saya sendiri memilih untuk ukuran yang tidak terlalu besar dengan kisaran harga Rp6.000 sampai Rp12.000.

Jasa Angkutan Pindahan Rumah/Kos di Jogja. Jasa Konvensional atau GO-BOX?

Sebelum libur panjang Lebaran lalu, saya bersama istri memutuskan untuk melakukan pindahan barang ke tempat tinggal baru. Sebenarnya, belum semua barang siap untuk dipindahkan, namun dengan pertimbangan bahwa jika dilakukan setelah liburan, maka waktunya akan terlalu lama. Kebetulan, tukang yang mengerjakan renovasi lanjutan juga masih ada.

Untuk angkutan atau jasa pindahan, kami menggunakan dua buah jasa berbeda yaitu jasa angkut yang banyak ditemui di pinggir jalan, dan kedua menggunakan layanan GO-BOX dari GO-JEK.

Menggunakan Jasa Angkut Biasa

Di hari pindahan, kebetulan kami melihat ada mobil jasa angkut yang parkir tidak jauh dari rumah. Lalu, kami telepon untuk sekadar mencari informasi. Mobil pickup berukuran cukup besar, dan sepertinya cocok untuk mengangkut beberapa barang yang memang saat itu ada yang ukurannya cukup besar. Saat menelpon, barulah kami tahu beberapa hal seputar jasa angkut ini.

  1. Biaya untuk satu kali perjalanan adalah Rp150.000,- Saat itu, kalau saya lihat, jarak tempuhnya sekitar 5km.
  2. Biaya tersebut sudah termasuk biaya tenaga membantu menaikkan dan menurunkan barang. Jadi, supir disini merangkap sebagai tenaga angkut juga.
  3. Kalau membutuhkan tenaga tambahan, maka per orang tambahan ada tambahan Rp50.000,-. Jadi, misal tambah satu orang tenaga angkut, total yang akan membantu adalah dua orang termasuk supir.

Seluruh proses pindahan hari itu berjalan lancar. Tidak terlalu ribet, dan bapak yang punya jasa angkut ini sangat membantu dengan ikut mengangkat dan menata barang di pickup juga. Ini penting.

Lanjutkan membaca →

Sajian Sahur Gratis dari PT KAI pada Bulan Puasa 2018

Sewaktu memutar radio, saya sekilas mendengarkan informasi bahwa PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) akan memberikan hidangan buka puasa dan sahur untuk beberapa rute perjalanan. Saya tidak menyadari hal tersebut terjadi sampai saya menempuh perjalanan menggunakan kereta api Taksaka Malam dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Tugu Jogjakarta pada 6 Juni 2018.

Sekitar pukul 02:15 WIB petugas di kereta melintas di gerbong tempat saya duduk. Lalu membagikan satu buah paket makanan. Seluruh penumpang yang masih berada di dalam kereta mendapatkannya, termasuk saya walaupun saya tidak berpuasa.

Paket makanan tersebut berisi nasi goreng telur, mie goreng kuning, bakso semacam dimasak semur, kerupuk, serta mentimun. Tentu saja ini cukup mengenyangkan. Untuk air mineral awalnya tidak dibagikan, saya pikir tidak dapat air mineral. Toh saya juga sebenarnya sudah bawa. Ternyata, air mineral dibagikan tidak lama setelah itu. Jadi, lengkap sudah.

Kalau merujuk pada berita di Kumparan dan juga Kompas, hidangan buka puasa dan sahur ini diberikan mulai H-10 sampai dengan H-1 Idul Fitri. Namun, saya tidak menemukan informasi bahwa kereta api Taksaka Malam juga ikut mendapatkan fasilitas ini.

Biaya Transaksi Kartu Kredit yang Tidak Asyik

Ketika minggu lalu berbelanja di Terminal Bangunan untuk membeli beberapa kebutuhan renovasi kecil rumah, saya bermaksud melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit BNI. Saat itu tidak ada promo untuk pembayaran kartu, jadi mendapatkan promo bukan alasan.

Jumlah transaksi saya saat itu sekitar Rp1.000.000. Saya tidak melihat informasi bahwa pembayaran bisa dilakukan menggunakan cicilan 0% kartu kredit. Walaupun, bisa saja saya nanti konversikan pembayaran penuh kartu kredit menjadi cicilan, atau mungkin malah sebaliknya.

“Pak, untuk pembayaran dengan kartu kredit akan dikenakan biaya transaksi sebesar 1,8%”, begitu kurang lebih yang disampaikan oleh petugas kasir yang melayani saya. Jumlahnya tidak terlalu besar memang, tapi kenapa musti ada potongan? Saya tentu saja ingin memanfaatkan kondisi bahwa saya punya kartu kredit. Tapi, sepertinya hari itu keinginan saya batalkan dengan akhirnya menggunakan pembayaran dengan kartu debit.

Membeli Bahan Bangunan dan Layanan Antar Melalui Terminal Bangunan

Saya tahu Terminal Bangunan sebagai salah satu tempat untuk membeli kebutuhan terkait dengan bahan bangunan dan kebutuhan lain untuk rumah belum lama. Hal ini karena lokasi dimana saya sering bepergian tidak melewati lokasi Terminal Bangunan yang ada di Jalan Kaliurang. Kadang, saya hanya mengunjungi tempat seperti BJ Home di area Blok O, Janti dan juga Matahari Jaya di Jalan Parangtritis.

Saya tidak mengecek perbandingan harga produk yang banyak. Namun, untuk harga saya menjumpai kalau Terminal Bangunan menawarkan harga yang sedikit lebih murah. Untuk barang seperti lampu Philips LED, keramik lantai, dengan merek yang sama harga lebih murah antara Rp5.000 sampai Rp10.000. Walaupun, sekilas saya melihat untuk barang yang dijual tidak selengkap BJ Home.

Dalam beberapa kali kesempatan — oh ya, tidak ada biaya parkir di Terminal Bangunan –, saya membeli barang seperti lampu Philips LED, lem silikon, dan juga floor drain atau saringan kamar mandi. Masih terkait dengan agenda untuk pindah rumah, saya dan istri memutuskan untuk sedikit menambah kegiatan renovasi dengan mengganti lantai kamar mandi. Keputusan ini datang belakangan justru setelah selesai melakukan pengecatan. Agak di luar rencana, tapi mumpung belum ada barang yang masuk, dan mengurangi keribetan dan kekotoran nantinya jadi diputuskan untuk sedikit menunda kepindahan dan fokus mengganti lantai kamar mandi terlebih dahulu.

Lantai kamar mandi yang ada berwarna putih dan warnanya sudah tidak terlalu bersih lagi. Dan, ini sekaligus malah untuk melakukan pengecekan kondisi apakah ada air yang merembes atau bocor, terutama untuk kamar mandi yang ada di lantai dua.

Lanjutkan membaca →

Pemasangan Koneksi Internet CitraNet Infinite

Akhirnya, rencana untuk melakukan pemasangan koneksi dari CitraNet untuk paket Infinite 10 sudah selesai juga. Koneksi yang saya pilih ini mungkin menjadi pilihan yang paling masuk akal. IndiHome dari Telkom bukan menjadi pilihan utama, Biznet Home Internet juga belum tersedia.

Setelah melakukan konfirmasi, beberapa petugas yang melakukan pemasangan datang ke tempat saya. Ternyata, saya baru tahu bahwa untuk koneksi serat fiber (fiber optic) yang digunakan bukan milik CitraNet, tapi dari jaringan milik FiberStar. Jadi, ada dua “tim” yang melakukan instalasi: dari FiberStar dan CitraNet. Saya sendiri tidak masalah. Kontrak untuk layanan hanya antara saya sebagai pelanggan dan CitraNet sebagai penyedia layanan.

Saya tidak begitu ingat berapa lama total proses instalasi sampai dengan koneksi bisa dipergunakan. Tapi mungkin sekitar dua sampai tiga jam total waktu yang dibutuhkan. Ini juga karena proses penarikan kabel dari jalur yang sudah ada menuju ke tempat dimana modem dan akses poin akan diletakkan.

Saya sendiri memilih untuk tidak membuat jalur khusus untuk kabel yang masuk ke dalam rumah. Sedangkan, saya ingin juga agar koneksi wifi yang ada juga dapat menjangkau seluruh area rumah. Setelah mempertimbangkan beberapa situasi, akhirnya perangkat internet diletakkan di lantai dua, dekat tangga. Harapannya, dari titik ini koneksi dapat dijangkau di seluruh area rumah, dan kabel dari luar dapat menjangkau area alat dengan mudah juga.

Setelah seluruh proses selesai, saya coba untuk mengetes koneksi internetnya. Saat saya coba, semua lancar. Hasil speedtest juga mendapatkan kecepatan sesuai dengan paket. Semoga ke depannya juga tetap seperti ini. Saya coba dari lokasi lain, memang ada sedikit penurunan performa. Di area bawah lantai satu misalnya, koneksi tidak terlalu cepat, tapi masih dapat saya terima. Di teras rumah juga kurang lebih sama. Mungkin nanti dicoba untuk memindahkan akses poin ke lokasi yang lebih strategis.