Berpindah ke Layanan Biznet Home Internet dari Telkom IndiHome

Akhirnya, rencana saya untuk berpindah layanan dari IndiHome PT Telkom Indonesia telah berhasil akhir minggu lalu. Saya akhirnya menggunakan layanan Biznet Home Internet dari Biznet.

Proses Registrasi

Sebenarnya, sudah cukup lama saya ingin menggunakan layanan dari Biznet ini. Namun, saat itu jaringan belum tersedia. Saya pernah memang mengirimkan inquiry melalui email, namun tidak mendapatkan balasan. Mungkin saat itu memang karena layanan belum tersedia.

Saya tidak tahu kapan tepatnya layanan ini tersedia di tempat tinggal saya. Namun, saat melalukan pengecekan di awal bulan ini, ternyata layanan sudah tersedia. Akhirnya lakukan registrasi melalui laman web Biznet Home pada tanggal 4 Mei 2017. Saat itu, saya memilih paket Home Internet 1 dengan harga paket Rp 240.000,00.

Setelah saya lakukan registrasi, saya mendapatkan surel balasan yang berisi mengenai detil permintaan layanan, termasuk harga awal yang termasuk instalasi sebesar total Rp 487.000,00. Saat itu, saya tidak langsung melakukan pembayaran, karena saya belum mendapatkan kepastian apakah layanan tersebut memang dapat terpasang atau tidak.

Tanggal 5 Mei 2017, saya mendapatkan kontak dari Biznet yang akan melakukan survei terkait dengan jaringan. Siang hari, akhirnya ada dua orang dari Biznet yang datang ke rumah. Singkat cerita, saya mendapatkan informasi bahwa internet dapat terpasang, dan nanti akan dikirimkan beberapa informasi pemasangan beserta dengan instruksi pembayaran karena data registrasi saya perlu diperbarui. Sore harinya, saya mendapatkan informasi pendaftaran kembali melalui surel, dan saya langsung lakukan pembayaran.

Proses Instalasi

Ketika saya tanyakan kapan instalasi dapat dilakukan kemungkinan akan dilakukan paling cepat tanggal 8 Mei 2017 (Senin). Saya mendapatkan konfirmasi ini dari petugas yang melakukan survei. Pada hari Senin, akhirnya saya tunggu. Sampai dengan sore hari, saya tidak mendapatkan informasi apapun dari personel yang menerima registrasi saya, ataupun dari petugas yang akan melakukan pemasangan.

Pada hari Selasa, saya mendapatkan telepon dari petugas yang melakukan pemasangan yang memberitahukan juga bahwa petugas tersebut sudah ada di rumah. Kebetulan saat itu saya sedang dalam perjalanan ke luar kota. Jadi, saya minta apakah bisa dilakukan penjadwalan ulang pada hari Jumat, tanggal 12 Mei 2017 setelah sholat Jumat, karena saya baru sampai kembali ke Jogja pada Kamis malam.

Di hari Jumat pagi, saya mendapatkan informasi bahwa instalasi akan dilakukan sekitar pukul 14:00. Tepat pukul 14:00 saya sudah sampai di rumah, namun ternyata petugas — saat itu datang tiga orang — baru datang sekitar pukul 15:00.

Begitu petugas datang, sambil mempersiapkan instalasi, petugas tersebut menanyakan apakah router-nya sudah siap. Saya awalnya bingung, karena saya tidak mendapatkan informasi ini sebelumnya. Sebenarnya pengaturan pada router bisa dilakukan nanti, namun saya rasa ini kurang praktis. Akhirnya, saat petugas melakukan instalasi dengan penarikan kabel, saya putuskan untuk beli langsung.

Tepat setelah instalasi kabel selesai, router yang saya beli sudah sampai dan instalasi dapat dilanjutkan. Setelah semua proses selesai, saya akhirnya dapat menggunakan koneksi yang baru. Biaya lainnya tidak ada.

Berhenti Berlangganan Layanan Telkom IndiHome

Sekitar satu tahun lebih saya sudah berlangganan layanan koneksi internet IndiHome milik PT Telkom Indonesia. Secara umum, tidak ada masalah. Pernah memang, saya mengalami kebingungan dengan tagihan yang dibebankan oleh IndiHome.

Masalah lain yang saya hadapi dulu saat adanya gangguan yang cukup lama — hampir dua minggu — dan diikuti dengan proses saya meminta penyesuaian tagihan. Bulan Mei 2017 ini, saya mencoba untuk mengurus pendaftaran langganan internet di rumah dari penyedia layanan lain, yaitu Biznet Home dari Biznet yang akhirnya jaringan dapat menjangkau tempat tinggal saya. Memang proses pemasangan baru belum selesai, karena permohonan saya baru saya laksanakan akhir pekan lalu. Semoga bisa segera terpasang.

Biaya Tambahan Go-Food oleh Go-Jek Indonesia dari Penjual?

Saya sudah cukup lama menggunakan jasa layanan Go-Jek terutama di Jogjakarta dan Jakarta. Secara frekuensi, dulu kebanyakan hanya ketika di Jakarta saja. Namun, sejak Go-Jek (dengan layanan lainnya) hadir di Jogjakarta, frekuensi pemakaian layanan menjadi lebih tinggi. Ada tiga layanan utama yang paling banyak saya manfaatkan: Go-Ride, Go-Send, dan Go-Food. Secara umum, saya mendapatkan layanan yang cukup baik.

Oh ya, fitur untuk memberikan tip melalui Go-Pay setelah layanan selesai saya rasa juga baik, karena ketika saya ingin memberikan tips, saya sering tidak bawa uang tunai. Dan, hampir seluruh transaksi sekarang saya lakukan melalui Go-Pay.

Soal harga, seluruh layanan bagi saya cukup terjangkau, walaupun kadang kok terasa “terlalu murah”. Jadi, memberikan tip atau kadang menambahkan pesanan di Go-Food untuk diberikan kepada pengemudi bisa jadi salah satu cara — bagi saya — untuk mengucapkan terima kasih.

Kejelasan Harga Layanan Go-Food

Dalam menggunakan layanan Go-Food, saya biasanya memilih atau memutuskan untuk menggunakan layanan dengan alasan berikut:

  • Saya memang cukup malas untuk keluar rumah, apalagi jika memang kebetulan ada pekerjaan dan juga ketika sudah terlalu malam.
  • Variasi makanan yang dapat dipesan juga makin beragam.
  • Layanan yang “Free Delivery” juga tersedia, walaupun tidak semua. Bagian ini saya tidak terlalu masalah, karena kalaupun memang ada biaya antar, toh ini juga jelas biayanya.

Mengenai “Free Delivery” ini, saya merasa ada hal yang kayaknya cukup membingungkan. Atau, paling tidak berbeda antar kebijakan. Pemesanan melalui Go-Good ada dua parameter utama: 1) Harga yang tertera dan 2) biaya kirim (jika ada). Apabila ada outlet yang memiliki label “Free Delivery”, maka biaya pengiriman ditiadakan, dan kita hanya membayar sesuai dengan nota. Sesederhana itu.

Namun, dalam satu transaksi akhir-akhir ini, saya mendapati bahwa ada biaya tambahan yang dibebankan kepada saya. Biasanya, biaya semacam ini tidak pernah ada. Bahwa misalnya ada “harga khusus versi Go-Food” yang diberlakukan oleh outlet, saya masih bisa menerima misalnya harga dilebihkan. Tapi, selama ini, harga yang tertera di aplikasi dengan harga sebenarnya juga sesuai. Pun tidak, saya berpatokan kepada nota pembelian.

Ketika menerima nota diatas dalam sebuah pemesanan, saya terus terang bertanya-tanya. Saya tidak pernah membaca informasi bahwa ada biaya 15% dari total belanja. Ya, 15%! Outlet pemesanan tersebut — di Jogjakarta — memilik label “Free Delivery”.

Saya bertanya-tanya saja, apakah 15% tersebut sampai dengan nominal tertentu misalnya jika transaksi Rp. 100.000,- maka biaya antar akan sama dengan biaya jika tidak “Free Delivery” dengan asumsi biaya antar Rp 15.000,-? Kalau transaksi sampai Rp 200.000,- berarti jika menggunakan prosentase, maka akan ada tambahan Rp. 30.000,-?

Saya coba ulangi melakukan pemesanan yang sama untuk membandingkan hasilnya.

Ternyata benar bahwa harga “versi Go-Food” adalah Rp 75.000,-

Continue reading →

Sistem Uang Elektronik Bersama Empat Bank

Empat Bank Raksasa Indonesia Satukan Sistem Uang Elektronik

Sebanyak empat bank raksasa nasional berencana melebur sistem pembayaran non tunai (cashless) melalui uang elektronik ke dalam satu jaringan bersama dalam waktu dekat. Keempat bank tersebut antara lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Central Asia Tbk.

… nantinya dengan penggabungan sistem, keempat bank tersebut bisa saling memanfaatkan infrastruktur yang telah dibangun sebelumnya oleh bank pelopor.
Sebagai contoh, nantinya Bank Mandiri akan mempersilakan kartu Flazz BCA bisa digunakan di Gerbang Tol Otomatis (GTO) yang saat ini pengelolaannya dipegang oleh Bank Mandiri.

Mencoba mencari bahagia, namun ketika mendapatkan lupa bersyukur. Sedangkan, dengan bersyukur malah juga sekaligus mendapatkan kebahagiaan.

Penarikan Uang Tunai di Teller BCA Harus Menggunakan Kartu ATM

Beberapa minggu yang lalu, saya ada keperluan untuk melakukan penarikan tunai langsung melalui teller di bank BCA. Alasan saya, karena kepraktisan saja saat itu dibandingkan dengan melakukan penarikan melalui mesin ATM.

Uang Rupiah pecahan Rp 100.000

Saat itu, saya telah membawa buku tabungan dan Kartu Tanda Penduduk. Saya memiliki dua buah rekening di BCA, dan saat itu kedua buku tabungan saya juga saya bawa. Masalahnya, persis beberapa hari sebelumnya, saya baru menyadari bahwa salah satu kartu ATM saya tidak lagi bersama saya. Dan, kartu ATM yang tidak saya bawa tersebut terhubung dengan rekening yang akan saya lakukan penarikan.

Saat saya datang ke teller dengan membawa formulir penarikan, petugas menanyakan kepada saya untuk tentang kartu ATM. Sempat saya sampaikan bahwa kartu ATM saya tidak bersama saya. Ternyata, untuk penarikan mensyaratkan harus membawa kartu ATM. Duh…

Kalau saya mentransfer terlebih dahulu dana ke rekening lain yang saya miliki — dimana rekening tersebut ada dengan kartu ATM — mungkin saya langsung dapat melakukan penarikan. Akhirnya, oleh petugas teller saya disarankan untuk ke bagian layanan nasabah untuk membuat kartu ATM baru. Karena pada akhirnya nanti saya memang akan membutuhkan kartu ATM, maka saya langsung lakukan pembuatan kartu ATM baru. Kebetulan saat itu tidak ada antrian, sehingga saya dapat langsung dilayani.

Setelah mendapatkan kartu ATM yang baru, saya kembali lagi ke teller dan proses penarikan dana secara tunai bisa saya lanjutkan kembali.

Mengganti KeyBCA yang Tidak Sinkron karena Rusak

Hari ini, saya mengunjungi Kantor Cabang Utama (KCU) Bank BCA Yogyakarta untuk keperluan penggantian KeyBCA saya yang tidak berfungsi dengan baik. Ini adalah kali kedua saya melakukan penggantian. Secara umum prosedurnya cukup mudah.

KeyBCA yang Rusak

Beberapa waktu lalu, karena kelalaian saya sendiri, KeyBCA yang saya letakkan dalam tas tersiram oleh air kemasan yang tidak tertutup dengan baik ketika saya masukkan dalam tas. Saat saya membuka tas, KeyBCA tersebut ternyata sudah agak tergenang dengan air. Dan, air kemasan yang tumpah tersebut mengandung banyak gula.

Langkah pertama yang saya lakukan mengeringkan dengan tisu kering. Kemudian, saya buka bagian baut dengan menggunakan obeng kecil. Dengan pengalaman awal pertama bahwa KeyBCA saya juga pernah tercuci (bahkan saya baru menyadari saat saya mengeringkan pakaian dengan mesin pengering), KeyBCA masih berfungsi, walaupun akhirnya tidak sinkron.

Di kejadian kedua ini, saya lakukan hal yang sama. Ya, karena kalau tidak saya cuci dengan air bersih, saya cairan gula juga mungkin tetap akan merusak. “Ah, toh tetap basah juga,” begitu pikir saya. Setelah saya cuci bersih, saya masukkan dalam beras sehingga proses pengeringan dapat berjalan lebih baik.

Hari berikutnya saya pasang kembali. Saya masukkan PIN KeyBCA saya, dan berhasil tanpa masalah. Saat saya coba melakukan transaksi melalui internet banking BCA, ternyata saya mendapatkan pesan bahwa respon dari KeyBCA selalu salah.

Proses Penggantian

Saat saya datang ke KCU Bank BCA Yogyakarta, tidak terlihat antrian. Setelah saya mendapat antrian, bahkan saya tidak sempat duduk saat dipanggil langsung ke meja Customer Service Officer (CSO). Saya dibantu oleh petugas bernama Nur Fitriyani.

photo_2016-07-20_16-39-54

Untuk rekening, kebetulan saya punya dua rekening BCA dengan satu keyBCA. Setelah saya sampaikan permasalahannya, saya ditanya apakah membawa identitas berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP), ATM, dan buku tabungan. Kebetulan dua buku tabungan saya bawa karena sekalian berencana untuk melakukan cetak buku.

Namun, ketika saya akan memberikan kartu ATM, saya ternyata hanya membawa satu saja (bukan rekening utama saya). Syukurlah ini tidak memengaruhi proses pengurusannya.

Biaya yang dibebankan ke saya adalah sebesar Rp. 10.000,- yang nanti akan didebetkan dari salah satu rekening saya. Saya diminta untuk mendatangani sebuah berkas. Dan, saya diminta untuk menunggu beberapa saat.

Tak lama kemudian, KeyBCA saya yang baru telah saya terima dan dilakukan pengaturan awal. Saat saya akan melakukan percobaan transaksi, ternyata gagal. Saya sampaikan kepada CSO tersebut kalau saya akan coba sendiri di rumah.

Setelah saya aktivasi ulang — melalui laman internet banking, KeyBCA saya dapat berfungsi dengan baik.

Masalah UseeTV Telkom Kode 1305

Kemarin lusa (Jumat), ketika saya mencoba untuk membuka koneksi UseeTV sebagai salah satu fitur dalam paket IndiHome Triple Play, saya mendapatkan permasalahan. Jadi, permasalahan ini karena perangkat STB (Set Top Box) IPTV gagal mendapatkan alamat IP (Internet Protocol). Kode kesalahan (error code) adalah 1305.

Pesan yang ditunjukkan dalam layar menyarankan solusi untuk permasalahan ini yaitu:

  1. Memeriksa apakah jaringan internet berjalan dalam kondisi normal. Saya lakukan pengecekan, dan semua dalam keadaan normal. Koneksi internet dapat diakses tanpa masalah.
  2. Restart perangkat STB melalui remote control. Saya juga sudah lakukan. Ketika selesai restart, permasalahan yang muncul masih sama.
  3. Restart perangkat modem dan diamkan beberapa menit. Disarankan waktu jeda adalah sekitar tiga menit. Saya coba langkah ini. Tetap tidak berhasil.

Karena tidak berhasil juga, akhirnya saya hubungi layanan pelanggan melalui akun @TelkomCare di Twitter. Saya sampaikan informasi nomor pelanggan saya. Tak lama berselang saya mendapatkan informasi bahwa laporan telah diterima, dan saya diberi nomor pelacakan kasus.

Keesokan harinya (Sabtu), saya mendapatkan telpon dari Telkom. Saya dipandu untuk melakukan pengecekan. Ternyata masih tidak berhasil juga. Dari pihak Telkom menyampaikan bahwa nanti akan dibantu dengan mendatangkan teknisi lapangan ke rumah.

Jadi, mari kita tunggu. Semoga tidak perlu sampai menunggu lama hampir tiga minggu seperti kasus sebelumnya.

Perbaruan informasi

  • Sejak masalah ini, memang tidak ada penanganan langsung teknisi datang ke rumah. Saya hanya mendapatkan beberapa kali pesan singkat melalui SMS yang menginformasikan bahwa layanan masih dalam perbaikan.
  • Beberapa hari setelahnya, saya bahkan hampir tidak menyalakan televisi, jadi tidak melakukan pengecekan juga.
  • Kemudian, saya coba kembali sekitar 7 hari setelahnya. Dan, layanan ini telah kembali normal.

Penyesuaian Biaya Pembayaran Telkom IndiHome karena Gangguan Layanan

Sejak gangguan layanan Telkom IndiHome yang saya alami selama hampir 3 (tiga) minggu pada bulan April-Mei yang lalu, baru hari ini saya mengurus terkait dengan pembayaran. Ketiga mengurus permasalahan ini, saya diberitahu bahwa biaya dapat disesuaikan atau mendapatkan kompensasi.

Dalam kesempatan yang lain, salah satu rekan kerja saya juga pernah mendapatkan kompensasi. Namun, kompensasi ini tidak berjalan dengan otomatis. Artinya, kita yang secara proaktif harus mengurus dengan mendatangi Plasa Telkom terdekat. Saya sendiri tidak mencoba  untuk mengurus melalui Telkom 147. Ya, daripada bingung menghitung sendiri.

Hari ini, Selasa, 21 Juni 2016, saya mencoba untuk mengurus perihal pembayaran. Karena beberapa minggu terakhir memang cukup disibukkan dengan pekerjaan, dan beberapa kali harus pergi ke Jakarta.

Antri

Baru sekitar pukul 11:50 WIB saya sampai di Plasa Telkom, Kotabaru, Yogyakarta. Saat itu — dan mungkin seperti biasanya — antrian terlihat sangat banyak. Saya mendapatkan antrian nomor 1741. Dan, kalau merujuk ke informasi antrian, maka ada 71 antrian di depan saya. Akhirnya, saya tunggu. Karena sudah pasti lama, saya sempatkan untuk makan siang juga.

Sepertinya, kalau mau menghindari antrian, lebih baik datang lebih pagi. Bahkan, sekitar pukul 15:00 WIB, loket antrian untuk pengambilan nomor antrian juga sudah ditutup karena banyaknya yang perlu dilayani.

Penyesuaian Tagihan

Akhirnya tiba giliran saya. Saya dilayani oleh petugas Customer Service bernama Putri di meja Nomor 2 sekitar pukul 14:30 WIB. Saya jelaskan maksud kedatangan saya, dan tidak berselang lama, saya mendapatkan tagihan yang telah disesuaikan. Detil sebagai berikut:

Biaya IndiHome 3P: 159.600
Biaya Sewa STB/Modem: 50.000
Restusi/Diskon: -10.000
PPN Unsur Kena Pajak: 19.960
TOTAL: 219.560

Sedangkan, untuk tagihan di bulan yang sama (yang belum ada penyesuaian) adalah sebagai berikut (sesuai dengan informasi melalui website Telkom):

PPN UNSUR KENA PAJAK: 19.040,00
BIAYA INDIHOME 3P: 190.400,00
BEA MATERAI: 3.000,00
BIAYA INDIHOME 3P: 109.600,00
BIAYA SEWA STB/MODEM: 50.000,00
RESTUSI/DISKON: -10.000,00
PPN UNSUR KENA PAJAK: 14.960,00
BIAYA INDIHOME 3P: 50.000,00
PPN UNSUR KENA PAJAK: 5.000,00
TOTAL: 432.000

Untuk pembayaran, saya lakukan dengan tunai langsung melalui petugas yang membantu saya. Kalau berdasarkan pengalaman bagaimana permasalahan saya dengan IndiHome yang saya alami, saya rasa memang salah satu syarat menjadi pelangganan Telkom IndiHome salah satunya adalah sabar.